CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Aksi Heroik


__ADS_3

Pyaaaaaaaaaarrrrrrrr. Terdengar suara pecahan kaca dari arah Gedung Gubernur yang mengagetkan seluruh mata ratusan mahasiswa yang sedang asyik main dorong-dorongan dengan aparat yang jaga di sepanjang pintu masuk Gedung. Sesaat, mereka semua terdiam menerka apa yang terjadi. Tapi hanya dalam hitungan detik, semua mahasiswa itu berhamburan keluar, berlarian tanpa komando ke segala penjuru yang bisa mereka jangkau setelah menyadari bahwa kaca depan gedung yang waktu itu tepat berada di belakang para aparat tiba-tiba pecah, entah karena dorongan para mahasiswa atau karena terkena tongkat salah satu aparat. Yang jelas, siapapun yang membuat kaca itu menjadi serpihan-serpihan kristal kecil yang siap menusuk siapa saja yang menginjaknya, aparat tetap akan berpedoman bahwa ini adalah kekacauan yang diakibatkan ulah para mahasiswa.


Tak terelakkan, aksi dorong-dorongan yang sedari tadi asyik dimainkan oleh para mahasiswa berubah menjadi aksi kejar-mengejar yang mencekam. Beberapa dari mereka ditangkap dan dimasukkan ke dalam mobil besar aparat karna dianggap sebagai provokator, sebagian besar yang lain berhamburan kabur tanpa arah.


Sementara itu, berbeda sekali dengan pemandangan di area gedung. Di luar gerbang terlihat dua mahasiswa yang tampak begitu tenangnya mencegah satu per satu mahasiswa yang berhamburan itu. Sosok pria putih bermata sipit berjas khas mahasiswa, dengan ikat kepala warna merah putih menghalau dan mengarahkan peserta demonstrasi untuk membuat barisan baru tepat di depan gerbang.


Namanya Ega Sakala Narendra. Dia adalah seorang presiden mahasiswa yang dikenal dekat dengan penguasa. Kemampuan lobbynya yang tak terkalahkan, membuat kelakuannya yang terkadang bikin geleng kepala pihak rektorat selalu lepas begitu saja. Tak jarang dia diundang makan malam dekan di fakultasnya. Tak jarang juga main bulu tangkis bersama rektornya, bahkan sering sekali terlihat ngopi bareng dengan para pembantu rektor dengan santainya. Yang paling waoww, dia pernah diundang makan malam oleh wali kota gara-gara menyelinap masuk ke ruang paripurna dewan, membentangkan spanduk berisi tuntutan, hingga akhirnya berbuntut manis di meja makan. Apakah dengan makan malam bersama bisa menjinakkan nya? Tentu saja tidak. Dia akan tetap kritis meski sedekat apapun dia dengan mereka. Makanya prinsip mereka satu, hati-hati. Kalau sampai Ega ngambek, dijamin pihak rektorat pasti akan kelimpungan karna dalam hitungan hari, ega si singa kampus bisa mengumpulkan ratusan mahasiswa untuk sekedar aksi di depan rektorat. Apakah selalu ada issu yang menjadi tuntutan? Jangan salah. Dia adalah ahlinya. Issu apa saja bisa menjadi menarik dan menyulut semangat mahasiswa untuk memperjuangkan idealisme mereka.


Sementara itu, beberapa meter di belakangnya terlihat seorang gadis manis berkerudung hitam dengan ikat kepala yang sama dengan sang singa kampus. Lain halnya dengan Ega yang mengenakan jas khas mahasiswa, gadis ini justru mengenakan jaket merah bertuliskan "Kesatuan Aksi Pewaris Negeri" di punggungnya. Meski begitu, dia terlihat satu kesatuan dalam aksi yang akhirnya mencekam itu. Buktinya, dia memegang megaphone dan meneriakkan,


"Kita bersatu tak bisa dikalahkan".


"Kita bersatu tak bisa dikalahkan".


"Kita bersatu tak bisa dikalahkan"


dengan semangat yang berkobar-kobar.


Satu demi satu yang tadi berhamburanpun mulai tenang dan membuat barisan baru, kemudian menirukan kata-kata penyemangat yang dilantangkan gadis itu sambil mengepal-ngepalkan tangan kanannya ke arah langit. Seketika, semangat mereka tersulut kembali bagai kobaran api yang siap membakar siapa saja yang menyambar.


Setelah dirasa semua bisa terkondisi kembali, dia memekikkan, "hidup mahasiswa!", Hidupppp....


"Hidup Mahasiswa!",

__ADS_1


Hidupppp....


"Hidup Mahasiswa!",


Hiduppp....


Tak berapa lama, terlihat beberapa di antara mereka maju ke depan dan membuat lingkaran kecil, berbagi tugas dan memutuskan sesuatu, sebelum akhirnya 5 orang di antara mereka bergantian berorasi, sementara 5 orang yang lain terlihat masuk kembali ke area gedung gubernur dan langsung bernegosiasi dengan aparat yang sudah menangkap teman-teman mereka dan siap menggiring tertuduh provokator ke kantor keamanan, yang terletak tak jauh dari lokasi demonstrasi.


Proses negosiasi sepertinya berlangsung alot, bahkan sepertinya para mahasiswa gagal meminta teman-teman mereka yang di tangkap untuk di lepaskan. Dan benar saja, dalam sekejap 5 orang negosiator tadi berlarian menuju barisan mahasiswa lain yang berada di depan gerbang dan langsung menginstruksikan sesuatu. Tak lama setelah itu, mereka membagi diri menjadi dua kelompok, kelompok mahasiswa berbaris rapat menutupi gerbang untuk menghalangi mobil yg membawa mahasiswa tertuduh provokator keluar, sementara kelompok mahasiswi dipersilahkan kembali ke tempat masing-masing kecuali gadis pemegang megaphone tadi dan beberapa senior lainnya.


Aksi penyelamatan pun berlangsung sangat dramastis. Mereka dengan tangan saling berpegangan menghalangi mobil besar yang membawa tak kurang dari 60 mahasiswa yang ditangkap tepat di depan gerbang. Mobil semakin mendekat, tp mereka tidak bergeming. Mobil semakin mendekat lagi dan mereka tidak bergeming. Terlihat aparat semakin memajukan mobilnya hingga menempel pada tubuh mahasiswa di barisan terdepan, mereka blm juga mau mundur. "Tidak mungkin pak polisi nekad," pikir mereka. Tp rupanya aparat sangat terbiasa menghadapi para demonstran seperti mereka. Mobil tetap maju perlahan, hingga mahasiswa pun menyerah, geram.


***


Elzata Sabrina Rahardian. Para Dosen mengenal dia sebagai Zata si jago ngeyel. Dia mahasiswa semester 7 yang terkenal pemberani, super aktif dan nggak pernah terlihat diam. Wajahnya yang lebih sering serius entah karena berpikir apa aja, membuat teman-teman kuliahnya sungkan untuk mendekat. "Takut", kata mereka. Hanya teman sesama aktifis saja yang percaya diri bergaul dengan macan kampus itu. Pihak Dekanat dan Rektorat pun tak asing dengan gadis pembangkang yang kalau sudah ngeyel nggak ketulungan ini. Meskipun begitu, dia dikenal sebagai gadis cerdas yang sangat enak di ajak diskusi. Wawasannya luas, idenya banyak, dan selalu gigih mempertahankan idealismenya.


"Kalau perlu kita nginep di halaman polda sampai mereka dilepasin", lanjutnya.


Matanya yang sayu karena seharian berada di bawah terik matahari itu menahan kristal yang hampir menetes di pipinya. Sesekali matanya melihat langit, agar buliran-buliran itu enggan turun dan mengacaukan semuanya. Tentu saja jika dia ketahuan risau, teman demonstran yang lain pasti akan menjadi ciut nyalinya.


Beberapa berbisik. Beberapa hanya terdiam, mendengar ide Zata yang menggebu itu. "Ayolah, sebelum aparat melibatkan pihak kampus, bisa panjang lebar kali tinggi nanti", gerutunya sebal, karna belum ada yang bergeming. Namun akhirnya semua menyepakati ide Zata, dengan catatan para gadis tidak boleh ikut. Dan semua mengangguk, Deal.


Sebenarnya ini bukan kali pertama Zata dan teman-temannya melakukan aksi demonstrasi. Bahkan bisa dibilang ini adalah aksi yang kesekian puluh kalinya. Tapi yang sudah-sudah belum pernah sedramastis ini. Meski setiap aksi selalu ada main dorong-dorongan sama polisi yang dibuat sedramastis mungkin, tapi lebih untuk menarik agar diliput media. Baik kami maupun pak polisi yang main dorong-dorongan sama-sama merasa asyik melakukannya. Bahkan kalau datar-datar aja tidak ada yang menarik bagi wartawan. Namun karena aksi tadi adalah aksi gabungan dari berbagai organisasi intra dan ekstra kampus dari berbagai universitas negeri dan swasta di kota itu, maka untuk menyepahamkan langkah dan mengkondisikan lapangan benar-benar bukan hal yang mudah. Apalagi di awal aksi tadi, tanpa sengaja mereka bertemu rombongan demonstran lain yang kebetulan tujuan dan tuntutannya adalah hal yang sama. Sudah menjadi kebiasaan mereka jika bertemu hal semacam ini, pasti mereka akan bernegosiasi apakah akan aksi sendiri-sendiri, ataupun aksi gabungan. Dan waktu itu mereka memutuskan untuk bergabung menjadi satu kesatuan aksi secara spontan. Mungkin hal ini juga yang membuat koordinator aksi di lapangan menjadi agak kesulitan mengkondisikan seluruh demonstran sebelum akhirnya terjadi tragedi pemecahan kaca itu.

__ADS_1


Issu yang mereka angkat hari inipun bukan seperti aksi-aksi menjelang reformasi. Bahkan boleh dibilang jauh sekali dengan heroisme aksi mahasiswa belasan tahun silam itu. Hari ini mereka aksi dalam rangka menyikapi kebijakan gubernur terkait keberpihakan terhadap para nelayan. Issu yang sebenarnya tidak terlalu seksi untuk sampai menimbulkan keributan seperti ini, meski menjadi tren berita di hari itu karena kekacauan yang ditimbulkan. Sebenarnya, ada keuntungan buat para mahasiswa dengan kekacauan yang terjadi karena aksi di hari itu menjadi viral. Karena salah satu target setiap demonstrasi yang dilakukan adalah menjadi tranding topik media. Meski disisi lain, teman-teman yang akhirnya diamankan aparat itu yang harus segera mereka lobbykan agar segera di bebaskan.


***


Zata merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri. Diliriknya jam dinding hitam yang menempel mesra di dinding kamarnya, jarum pendek menunjukkan angka 10 dan jarum panjangnya tepat menunjuk angka 6.


"Sudah jam setengah sebelas malam mereka belum berkabar juga", gumamnya risau.


Diambilnya hp yang ada dalam tasnya, dibukanya chatt group, terlihat ratusan notifikasi masuk. Dia menarik layar hpnya terus ke atas, berharap di chatt terbawah sana ada secercah cahaya. Dan usahanya tidak sia-sia, persis di chatt terbawah tergambar jelas puluhan mahasiswa yang bertahan di halaman polda bersama dengan ke 60 mahasiswa yang di tangkap berfoto ria lengkap dengan pak polisi yang terlihat sangat bersahabat itu. "Akhirnya mereka dibebaskan", Zata menarik napas lega.


Seperti perkiraan Elzata, pasti teman-temannya di bawa aparat untuk pembinaan sebentar, kemudian dilepaskan.


" I Love You full dech buat pak polisi", teriak Zata girang


Matanya pun terpejam, dan tak berapa lama terlelap membawa serpihan-serpihan kenangan peristiwa hari ini kedalam mimpi indah hingga besok pagi. Terlihat jelas raut wajah lelah itu membawa sisa-sisa kelelahan meski ada senyum puas yang sulit diartikan.


Siapa saja yang mengenal Zata pasti tau, jika esok hari dia ditanya, "udah kapok belum?"


Pasti dengan mantap Elzata akan menjawab, "aku malah jadi pengen kejar-kejaran sama pak polisi lagi !!!!",


Aduhhh, begitulah Zata. Hal apapun selalu bisa menjadi hal seru yang bahkan mungkin buat sebagian orang menyeramkan.


Sebelum ayam berkokok, mata Zata sudah tidak dapat terpejam lagi. Alarm yang sengaja dia nyalakan tepat jam 3 dini hari itu berbunyi kencang, menggetarkan seluruh isi kamar. Dia bergegas bangun, menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan mengambil air wudhu. Tak lama dibentangkannya sajadah ke arah kiblat, dan untaian do'a dalam setiap sujud terucap kepada Sang Pemilik Cinta, Kehidupan dan Harapan. Tak jarang mukena putih yang membalut tubuh kecil itu basah oleh kristal-kristal bening yang tak mampu dia tahan dari ujung mata yang selalu saja basah di setiap sepertiga malam. Tentu saja hal ini adalah pemandangan yang tak pernah dilihat dunia luar dalam diri Zata. Sosok yang dikenal kuat dan tahan banting, ternyata terlihat begitu lemah jika sudah mendekat dengan Sang Pencipta.

__ADS_1


Begitulah rutinitas Zata setiap mengawali hari. Sebuah rutinitas yang bahkan tidak banyak yang mengetahui, tapi dari rutinitas pagi nya itulah ternyata Zata bisa mengumpulkan energi yang nanti akan dia habiskan dengan segudang aktivitas yang sudah dia susun dengan rapi.


BERSAMBUNG


__ADS_2