
Hari lamaran pun akhirnya tiba. Hanya satu pekan setelah percakapan seru antara Ega dan Elzata, seluruh keluarga besar Ega datang ke rumah Elzata untuk meminang Elzata menjadi menantu di keluarga mereka.
Meskipun acara berjalan tanpa kehadiran Ega, namun semua bisa memaklumi dan memahami. Sudah sekian lama niat baik dua keluarga itu tertunda, dan kini mereka tak akan menundanya lagi.
Dalam pertemuan itu juga telah disepakati bahwa mereka akan menikah satu bulan kemudian. Ega akan pulang dua hari sebelum menikah, dan akan berangkat ke Jepang lagi tiga hari setelah menikah.
Pertemuan yang sangat hangat itu juga memutuskan bahwa semua prosesi pernikahan akan dilakukan di rumah Elzata, dan mengingat kepulangan Ega ke tanah air hanya lima hari saja, maka semua menyepakati tidak akan ada resepsi pernikahan di gedung atau hotel yang mengundang banyak orang. Hanya teman dan kerabat dekat saja yang akan mereka undang untuk menyaksikan akad nikah Elzata dan Ega.
***
"Kamu dilamar ya, sayang?", goda Ega melalui telphon.
"Ihhh, apaan sich?", wajah Elzata memerah menahan malu.
"Kita video call yuk, aku mau lihat semerah apa wajah kamu", Ega terus menggoda.
"Egaaaa....", Elzata semakin tidak tahan mendengar godaan Ega.
"Sayang..."
"Iyaa..."
"Siapkan dirimu ya, besok aku hanya di rumah tiga hari saja lho setelah menikah"
"Hmmmm"
"Kok kamu nggak tanya harus siap apa sich?"
"Hmmmm"
__ADS_1
"Tahu tapi malu atau malu tapi mau? Aku akan membuatmu tiga hari tidak keluar kamar", goda Ega sambil tergelak.
Mendengar godaan calon suaminya itu wajah Elzata benar-benar memerah. Ada rasa cemas bercampur bahagia yang berkecamuk dalam hatinya.
Hari itu adalah hari dimana dua keluarga saling mengikrarkan hubungan mereka berdua, dan di hari itu juga baik Elzata maupun Ega sama-sama tahu bahwa dunia organisasi yang membesarkan mereka selama ini pasti akan menjadi heboh untuk yang kedua kalinya, dan yang pasti lebih heboh dari kabar Barra dan Elzata beberapa waktu lalu.
Baik Elzata maupun Ega sama-sama tahu bahwa pasti ada rasa kecewa, ada rasa marah, ada rasa benci yang muncul dari senior maupun teman-teman mereka di KAPN. Bagaimana tidak? Sang Singa Kampus menikahi Si Macan Kampus, dan hubungan mereka terjalin sejak di KAPN, yang jelas-jelas aturan main di organisasi sangat melarang hal itu.
Belum lagi yayasan pendidikan dan Islamic Boarding School yang didirikan Elzata sedikit banyak adalah hasil dari Elzata membina jaringan dengan para alumni KAPN. Entah bagaimana nasib kedua lembaga itu akan seperti apa nantinya, Elzata juga tidak bisa membayangkan. Yang bisa dia lakukan untuk saat ini hanya satu, bersikap biasa saja dan bertindak seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan benar saja, satu hari setelah acara lamaran itu berakhir, banyak telphon dan pesan yang masuk, dengan bahasa yang beragam.
Ada umpatan-umpatan halus. Ada yang sekedar konfirmasi, ada yang benar-benar mengumpat kasar, meskipun ada juga yang masih mengutamakan persahabatan dan memilih setia kawan.
Namun dari awal, Ega dan Elzata sudah benar-benar mempersiapkan diri untuk menanggung konsekwensi dari cinta terlarang yang mereka jalani selama ini. Mereka sudah bersepakat untuk membalas umpatan dan cacian sekasar apapun yang ditujukan kepada mereka dengan kata-kata santun dan penuh kebaikan. Dengan begitu umpatan yang masuk tidak akan menimbulkan umpatan-umpatan berikutnya.
***
Sebagian besar undangan untuk mereka yang secara geografis jauh pun sudah sampai ke tangan masing-masing. Persiapan yang masih berjalan hanya persiapan dokumen ke KUA dan teknis untuk prosesi akad nikah saja.
Kabar pernikahan Sang Singa dan Si Macan kampus pun sudah tersebar kemana-mana. Tidak pandang bulu, Elzata dan Ega memutuskan untuk mengundang seluruh jajaran KAPN dan seluruh sahabat yang ada di dalamnya, apapun resikonya dan seperti apapun tanggapan mereka. Semua yang bertugas mendistribusikan undangan sudah melaporkan bahwa undangan dipastikan sudah sampai ke tujuan masing-masing.
Namun beberapa hari sebelum acara akad nikah berlangsung, ada sebuah pesan yang masuk ke nomor Elzata.
"Za, ada yang boikot undanganmu. Semua undangan untuk jajaran KAPN ditarik oleh dewan pembina dan diperintahkan tidak boleh ada yang hadir dalam acara pernikahanmu", sebuah pesan masuk dari sahabat Elzata.
"Oke. Terima kasih untuk infonya", jawab Elzata berusaha untuk setenang mungkin.
Setelah menerima kabar pemboikotan undangan itu, akhirnya Elzata memutuskan untuk menghubungi Ega untuk menghilangkan risau di hatinya.
__ADS_1
"Hallo, sayang"
"Hallo, Ga. Kamu udah mulai persiapan balik ke Indonesia belum?"
"Udah ini, besok tinggal angkut ke Bandara aja. Kenapa? Udah nggak sabar?"
"Ihhh, apaan"
"Terus, kenapa suaramu galau gitu?"
"Mereka memboikot undangan kita, Ga. Bahkan ada perintah langsung dari Dewan Pembina, tidak boleh ada satu jajaran KAPN pun yang hadir dalam acara pernikahan kita"
"Bukankah kita sudah siap untuk semua ini?"
"Tapi, Ga..., masa mereka tidak menghargai sedikitpun perjuangan kita disana selama ini? Biar bagaimanapun kita punya andil dalam membesarkan organisasi itu"
"Sudahlah sayang, yang penting niat kita baik. Kita sudah mengundang mereka. Jika mereka memang tidak boleh datang ke acara kita, justru kita akan melihat. Mana yang benar-benar sahabat kita dan mana yang bukan. Jika mereka tulus bersahabat dengan kita, pasti mereka akan datang. Percayalah"
Elzata pun hanya mengiyakan apa yang dikatakan calon suaminya itu. Walaupun ada perasaan kecewa yang menjalar begitu saja dalam diri Elzata melihat para senior dan teman-temannya melupakan seberapa besar pengorbanan dan perjuangannya dalam membesarkan organisasi itu.
Seluruh jiwa raga, baik pemikiran, waktu, tenaga bahkan sebagian harta telah dengan suka rela Elzata dan Ega persembahkan demi besarnya organisasi, namun semua jasa dan kebaikan mereka tertutupi begitu saja hanya karena ada setitik noda.
Ya. Kebaikan sebesar apapun akan tertutupi oleh kesalahan sekecil apapun. Dan ini adalah bagian dari resiko yang harus Ega dan Elzata tanggung.
Mereka terlalu sempit memandang dan terlalu yakin bahwa mereka bisa menentukan kebahagiaan Ega dan Elzata, juga siapapun yang sudah bergabung dalam KAPN. Mereka benar-benar lupa, bahwa kebahagiaan dan keberkahan hidup seseorang itu hanya Sang Pencipta yang menentukan.
Dah Ega juga Elzata sama-sama berjanji dalam hati mereka masing-masing, bahwa mereka akan membuktikan kepada dunia. Bahwa pernikahan mereka akan semakin memberi manfaat dan menebar kebaikan untuk orang lain, dengan atau tanpa KAPN.
Bisakah mereka membuktikannya?
__ADS_1
BERSAMBUNG