CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
menjadi rumit


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama dimana Ega dan Elzata akan bertemu secara langsung setelah kemarin keduanya mengungkapkan rasa melalui sebuah pesan WA.


Sedari pagi, keduanya terlihat sangat cemas, membayangkan bagaimana perubahan sikap masing-masing ketika nanti bertemu dan harus saling menyapa. Meski ini bukan kencan pertama yang mereka rencanakan seperti kebanyakan orang yang baru menjalin hubungan, namun tetap saja mereka akan berada di satu ruang dan bernapas dengan udara yang sama.


Dan akhirnya, saat pertemuan itu tiba. Sesuai agenda yang telah mereka sepakati sebelumnya, seperti biasa Elzata, Sera, Barra, Arya, Galih dan Ega melingkar di teras markas KAPN untuk membahas agenda aksi dan seminar kebangsaan yang sudah terjadwalkan sejak jauh-jauh hari dalam agenda yang telah mereka susun bersama.


Baik rencana aksi maupun seminar ini merupakan kegiatan gabungan empat organisasi besar yaitu KAPN, dan 3 BEM Universitas Negeri yang berada di kota itu.


Baik Ega maupun Elzata, berusaha bersikap seperti biasa seolah tak ada apa-apa diantara mereka. Meski sesekali terlihat mencuri-curi pandang, namun selalu saja hati berdebar kencang saat mata saling bertemu dan bertatapan. Dan keduanya memilih untuk saling acuh, kemudian segera mengalihkan pandangan ke sudut yang lain.


Barra, Sera, Galih dan Arya yang tidak menyadari ada yang aneh diantara keduanya pun bersikap seperti biasa.


"Gimana Za menurut kamu?" Barra meminta pendapat Elzata.


"Untuk aksi peduli Palestina, aku usul dibuat yang lain dari pada yang lain untuk menarik media massa. Karna ini aksi damai, tidak mungkin juga kan ada acara dramastis kayak aksi terakhir kita kemarin. Jadi kita harus kemas se menarik mungkin. Misalnya aksi dengan jalan mundur. Jalan jongkok. Atau Aksi dengan membawa seribu bendera Palestina, atau mungkin teman-teman ada usulan yang lain, nanti mohon disampaikan"


Mendengar ide Elzata semua mengangguk-angguk terlihat menimbang-nimbang mana yang akan mereka pakai.


"Untuk Seminar Kebangsaan, aku usul pembicara dua tokoh nasional alumni KAPN. Yang pertama menteri pemuda dan olah raga, yang kedua anggota DPR RI"


setelah melalui debat panjang, akhirnya mereka bersepakat. Aksi Peduli Palestina dilakukan dengan aksi jalan mundur dengan 1000 bendera Palestina agar bisa menarik media, sedangkan untuk seminar kebangsaan mengundang dua tokoh nasional seperti yang diusulkan Elzata. Mereka memilih dua tokoh nasional yang kebetulan adalah alumni sekaligus donatur KAPN pusat.


Rapatpun selesai. Mereka memilih untuk kembali ke tempat masing-masing.


Melihat Elzata beranjak menuju tempat parkir, segera saja Ega menyusul agar mereka bisa berjalan beriringan tanpa menimbulkan kecurigaan. Semenjak sampai ke tempat itu pagi tadi, Ega memang sengaja memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Elzata. Semua sudah disusun rapi agar pas mereka pulang bisa jalan bersamaan.


Merasa ada seseorang yang menyusul dan berjalan di sebelahnya, Elzata menoleh dan berusaha bersikap biasa saja. Meski sebenarnya hati Elzata bergetar hebat, tapi dia lebih memilih sikap seolah tak pernah ada apa-apa. Ega pun mengimbangi dengan sikap yang sama agar tak ada curiga dari rekan yang lainnya. Namun sebelum mereka menghampiri mobil masing-masing, tiba-tiba Ega setengah berbisik,


"Za, Nanti aku telpon ya?"

__ADS_1


Mendengar kata itu Elzata hanya mengangguk, dan melemparkan senyum yang penuh makna.


Setelah melambaikan tangan, merekapun melajukan mobil ke tempat masing-masing.


***


Elzata terlihat gelisah. Tubuhnya berguling-guling dari satu ujung ranjang yang satu ke ujung yang lainnya. Matanya berkali-kali melihat jam dinding dan sesekali menarik kunci layar hp yang sedari tadi berada di atas meja samping tempat tidur yang dinaikinya. Hal yang sama dilakukannya berulang-ulang, untuk menghilangkan cemas yang tak bisa dia sembunyikan.


Elzata benar-benar terlihat tak sabar mendengar suara orang di seberang sana. Sambil harap-harap cemas, dia memikirkan apa saja yang akan dia bicarakan ketika Ega benar-benar menelponnya. Tentu canggung bukan?


Setelah ungkapan rasa lewat pesan itu memang mereka belum ngobrol normal seperti biasanya lagi. Bahkan berkirim pesan lainnya pun tidak. Mungkin karena baik Ega maupun Elzata sama-sama bingung harus memulai dari mana.


Tiba-tiba terdengar hp yang bergetar. Ada nama Ega disana. Dengan hati yang berdebar Elzata bergegas memencet tombol terima, dan langsung saja menyapa orang terkasih di seberang sana.


"Iya, Ga"


"Hallo Za, lagi apa?"


"Udah makan belum?"


"Udah. Kamu udah makan?"


"Udah. Kamu makan pakai apa?"


"Nasi goreng. Kamu?"


"Sate padang. Kamu belum ngantuk?"


"Belum. Kamu?"

__ADS_1


"Belum"


Tiba-tiba mereka berdua terdiam, bingung mau berkata apa lagi untuk menghilangkan rasa canggung yang tercipta diantara mereka.


"mmmmm", gumam mereka bersamaan


"Ya udah kamu dulu", mereka berkata bersamaan lagi


"Aku...", lagi-lagi mereka berkata bersamaan


Karena dari tadi mereka selalu bicara bersamaan, tiba-tiba mereka diam bersamaan juga.


Karena geli akhirnya mereka tertawa, sebelum akhirnya Ega yang membuka cerita.


"Kemarin itu kamu WA aku apa?"


"Aku yang harusnya tanya. Kan kamu yang WA aku duluan", Elzata yang malu-malu di seberang sana terlihat sangat gengsi untuk mengakui semuanya


"Za, kita sama-sama tahu bahwa hati kita merasakan hal yang sama. Meski kita juga sama-sama tahu bahwa kebersamaan kita nanti pasti akan menimbulkan kegaduhan di organisasi kita. Karena itu, cukup aku tahu dan kamu tau tentang kita, sampai tiba saatnya nanti kita toreh lembaran baru dalam hidup kita untuk selamanya. Satu hal yang kuminta, kau harus percaya bahwa aku akan berjuang agar kita bisa bersama. Kamu janji akan menungguku hingga hari itu tiba kan, Za?"


Dengan suara serak, hanya satu kata yang mampu terucap dari bibir Elzata, "Iyaaa..."


Entah mengapa, baik Ega maupun Elzata tiba-tiba merasa ada sesuatu yang masuk dan menjalar begitu saja dalam tubuh mereka. Tak terasa air mata mereka menetes, dengan rasa yang sama meski berada di tempat yang berbeda. Cinta yang buat kebanyakan orang adalah hal yang sederhana, tetapi tidak untuk Ega dan Elzata.


Cinta mereka adalah cinta seorang singa dan macan kampus yang begitu rumit dan berbelit. Tak cukup hanya sekedar bicara cinta atau tidak cinta. Rindu atau tidak rindu. Atau bahkan mau atau tidak mau. Lebih dari itu, keputusan besar yang akan mereka ambil nanti akan berdampak pada kehidupan mereka dalam jangka yang sangat panjang. Kecuali Elzata sudah siap untuk melepaskan obsesinya menjadi tokoh politik nasional yang diperhitungkan.


Yach,,, sudah menjadi rahasia umum, bahwa KAPN adalah salah satu organisasi yang menjembatani para alumninya untuk terjun ke dalam politik praktis. Dan itu adalah obsesi terbesar Elzata. Makanya dia berjuang total melalui KAPN itu, meski pada akhirnya satu peraturan "tidak boleh pacaran" jika bergabung di dalamnya ternyata menjadi penghalang terbesar dalam cerita cintanya.


Lantas, bisakah Ega benar-benar memperjuangkan cintanya? Kita lihat saja nanti.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2