CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Salah kirim


__ADS_3

Ega bergegas memarkir mobilnya di depan gedung BEM KM tempat dia memimpin organisasi kemahasiswaan tertinggi itu. Dia keluar mobil, dan berlarian kecil menuju ruang tempat Ara dan Elzata yang dia tinggalkan tadi.


"Hampir tiga jam si Zata nunggu. Bisa ngamuk dia", batinnya dalam hati


Sesampainya Ega di ruangan, diedarkannya pandangan ke setiap sudut ruang, ternyata kosong. Baik Ara maupun Elzata tidak ada disana. Tumpukan berkas yang tadi berserakan di atas meja Ara pun tak bersisa.


"Mungkin lagi pada jalan nganter tu berkas ke perusahaan-perusahaan",


Dengan tenang Ega berpikir seperti itu, karna berkas itu berisi permohonan sponsor ke perusahaan untuk acara bakti sosial pada akhir pekan nanti. Dan Elzata, meski dia tidak masuk dalam struktur kepengurusan BEM karena dia manajer KAPN, tapi seperti biasanya dia akan sangat dengan senang hati membantu. Selama itu aktivitas yang berhubungan dengan masyarakat atau demonstrasi, Elzata pun semangat 45 untuk terjun di dalamnya.


Karna mereka kuliah di satu kampus, begitulah Ega mengenal Elzata. Meski mereka berbeda fakultas dan jurusan, namun Ega sangat tahu persis, bahwa karna saking semangatnya di organisasi, gadis itu sampai memanfaatkan 25% maksimal jatah membolosnya sampai habis hanya untuk beraktifitas di luar.


"Hmmmm",


Ega menyudahi pikirannya tentang Elzata. Dia menuju sofa yang terletak di ruang itu, kemudian merebahkan diri sebentar sambil menunggu Zata dan yang lain datang, pikirnya.


Dirogohnya hp yg ada di saku kanannya, dibukanya kunci layar dan segera saja dia melarutkan diri dengan membuka tanda notifikasi yang sudah ratusan itu. Beberapa waktu, sampailah dia melihat notifikasi dari Elzata. Ada dua notifikasi, menandakan Elzata telah mengirimkan dua pesan untuknya.


Pesan pertama, "Ga, balik jam berapa?"


Pesan kedua, membuat kening Ega berkerut, ekspresi wajahnya sangat sulit di artikan.


*Tede,,,


Terakhir kita bertemu,


Kurasakan tatapan itu menusuk tajam jantung ku


Terlihat jelas bulir-bulir kesedihan mengalir dari sudut matamu


Jika itu karena aku, maafkanlah...


Hampir Empat tahun berlalu tanpa kuucap kata


Hanya ku bebankan padamu rasa tak sempurna yang ku cipta


Aku tahu senyum manis di bibirmu sebenarnya pahit


Nampak bagiku kesedihan itu di wajahmu.


Dan jika itu karena aku, maafkanlah...


Telah ku gores luka pada setiamu karena diamku


Telah kutancapkan duri pada rindumu dengan acuhku


Maafkan aku, Jika cinta itu tak seindah harapanmu


Aku tahu, tak ada yang salah dengan pertemuan kita


Namun hidup memanglah misteri


Meski kau bukanlah yang pertama singgah dan menghadirkan rasa


Tapi sejauh ingatanku, hanya pada dirimulah aku pernah merasa begitu jatuh dalam pusaran cinta


Aneh memang, bagaimana rasa untukmu bisa tercipta begitu sempurna


Pikirku, Tuhan memang menghadirkanmu untuk menjadi cerita yang berakhir dengan cara yang tak bisa kuduga

__ADS_1


Namun karena pilihanku waktu itu...,


Kan kubiarkan Kau hanya menjadi cerita terindah yang pernah kutemui, sekalipun tak akan pernah bisa kumiliki.


Semua tentang kita hanyalah lakon kehidupan, sebuah kepingan cerita dari Dia yang telah menciptakan.


Pun jika kita merasa punya otoritas atas diri kita, tetap saja ada bagian cerita yang tak mungkin bisa kita kendalikan sepenuhnya.


Termasuk tentang sepenggal kisah kita yang terjadi begitu saja, perkenalan sederhana yang ternyata mampu hadirkan rasa yang luar biasa.


Tak ada yang salah memang


Aku pun hanya bisa menerima segala rasa yang tak pernah aku undang


Dan bukan salahmu jika kini aku harus terluka,


Karna aku adalah orang yang cukup keras kepala untuk memperjuangkan segalanya.


Pada akhirnyapun, ku tersadar bahwa luka ini haruslah aku yang menanggung


Tede,,,


Aku tahu kau berhak bahagia


Meski duniaku terasa berakhir saat kabar itu benar-benar di depan mata


Rasanya sulit memang,


Tapi aku cukup dewasa menerima, meski lukaku sebenarnya belum kering juga.


Aku dan kamu adalah sekelumit cerita masa lalu, biarkan kisah itu melebur bersamaan dengan berjalannya waktu.


Aku tak akan terpuruk melihatmu pergi, Menghidupi mimpi dan cita-citaku sendiri.


Di hari pernikahanmu


Diantara tirai-tirai kerinduan,


Kurahap kau bahagia bersamanya


Selalu, untuk selamanya*


***


"Salah kirim chatt WA ya?" Ega segera saja mengirim pesan


Centang satu.


Ega coba menelpon melalui panggilan suara, hasil nihil.


"Wahh nomorku diblokir nich sama Zata" pikirnya dalam hati.


"Dia patah hatinya sama orang bernama Tede yang bahkan aku gak kenal, kenapa juga aku yang dikirimi pesan dan nomorku di blokir?"


Ega tersenyum geli, tapi prihatin juga membaca pesan itu. Bagaimana tidak, seorang Elzata si macan kampus yang selalu terlihat kuat, ngeyel, aktif, galak dan hampir tak pernah menangis, bisa menuliskan pesan se menyedihkan itu.


Dari isi pesannya, Ega bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Dalam senyum kegeliannya tadi, ada satu tekad di hatinya untuk membuat Elzata bangkit dari keterpurukan itu. Meski Ega sangat mengerti, sesedih apapun seorang Elzata tidak akan pernah menunjukkan kelemahannya kepada orang lain. Tapi Ega juga tahu betul, bagaimanapun Elzata adalah gadis yang saat ini sedang patah hati. Saat ini dia butuh teman yang akan mengurangi beban berat dalam hatinya.


Tak lama, Ega langsung beranjak dan segera berlarian kecil menuju mobilnya. Dalam waktu 10 menit, sampailah Ega pada sebuah rumah tempat Elzata dan beberapa temannya mengontrak. Sebuah rumah bergaya modern yang cukup indah, didepan terdapat halaman luas tempat Elzata dan teman-temannya memarkir mobil. Di sebelah kanan terdapat pohon mangga yang sudah terlihat ranum, sementara sebelah kiri terlihat bangunan kecil tempat tinggal si penjaga rumah.

__ADS_1


Ega segera memarkir mobil, dan bergegas memencet bel berharap Elzata keluar membukakan pintu.


Cekrek,,,


Terdengar kunci pintu di putar. Dari arah dalam muncul gadis cantik membuka pintu. Dengan terkejut dan ekspresi wajah yang sulit diartikan, dengan terbata gadis itu bertanya,


"Kak Ega mencari siapa?"


"Elzata ada?", tanpa mempedulikan ekspresi gadis yang tak dikenalnya itu, dengan santainya Ega menjawab sambil menuju kursi yang berada di teras rumah.


Ekspresi itu sering sekali Ega dapatkan dari para gadis ketika berpapasan dengannya. Semua penghuni kampus memang mengenal dan mengaguminya sebagai seorang singa kampus yg ganteng, tajir dan dekat dengan jajaran pejabat kampus. Tak heran jika banyak yang dibuat deg-degan hanya karna berpapasan dengannya. Bahkan tak ada yang tak mau bersanding dengannya mungkin. Karna Ega adalah sosok mahasiswa ideal untuk semua gadis di kampusnya. Mungkin kecuali Elzata. Dari cara Elzata bicara, berbeda dengan para gadis jika sedang bicara dengannya.


Jika gadis lain dibuat semanis dan semanja mungkin jika menyapa Ega, berbeda dengan Elzata. Dia lebih sering ketusnya dari pada manisnya.


"Hahaha"


Ega geli sendiri jika mengingatnya


***


Tok tok tok,,,


Terdengar suara ketokan pintu dari arah luar kamar Elzata. Tak berapa lama muncul Asya, adik angkatan semester 3 yang berada satu kontrakan di rumah itu. Tanpa izin, Asya langsung nylonong masuk, dan membangunkan Elzata.


"Kak Zata bangun. Diluar ada mas ganteng. Itu lho mas presiden mahasiswa. Dia cari kakak", katanya dengan penuh semangat


"Ega?"


"Iya kak, kok bisa dia cari kakak sampai ke rumah sich kak? Aku mau juga kali dicariin sama dia",


"Ihh, apaan sich Asya",


Tanpa mempedulikan ocehan Asya yang ngawur itu, Elzata segera beranjak, memakai jilbab yang tergantung di balik pintu dan menyambar hp yang masih setia berada di ujung ranjangnya itu.


"Zata, lama banget sich keluarnya? Dandan dulu karna mau ketemu sama orang ganteng ya?"


Ega nerocos untuk membuka pembicaraan. Dia sangat tahu suasana hati Elzata saat ini. Ega bisa melihat wajahnya yang sembab, seperti orang habis menangis berjam-jam lamanya.


Tanpa peduli dengan yang dikatakan Ega, Elzata mendengus kesal.


"Lama banget sich kencan sama pak rektornya?"


"Apaan orang aku balik kamu udah ga ada kok. Aku telpon nomorku di blokir. Semarah itu sampai ada acara blokir nomor segala?"


"Apaan, ngawurnya kelewatan tau nggak?"


"Periksa hp mu. Nomorku emang kamu blokir kok. Sumpah,"


Dengan cemberut setengah tidak percaya, Elzata segera memeriksa hp yg sedari tadi masih dipegangnya. Satu, dua, tiga detik, matanya membelalak. Menyadari kesalahan fatal yang sedari tadi dia lakukan. Mungkin karena saat akan menulis pesan untuk Tede dia sempat memeriksa pesan Ega sudah di balas atau belum. Belum sempat keluar dan memencet nomor Tede, dia langsung menuliskan rentetan kata begitu saja tanpa menyadari dia belum beralih dari nomor Ega.


"Gaaa, aku..."


Sebelum Elzata menyelesaikan kalimatnya, Ega langsung bergegas merebut Hp di tangan Elzata.


"Ega, balikin. Kamu mau apa?"


"Bentar..., ahhhh"


"Egaaaa,,,"

__ADS_1


Elzata berteriak kencang meskipun akhirnya membiarkan Ega mengambil hp nya dan entah melakukan apa.


BERSAMBUNG


__ADS_2