CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Bimbingan


__ADS_3

Sebelumnya, Elzata tidak pernah seserius ini mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah akademiknya. Bahkan selama ini dia terlihat lebih bersemangat urusan kegiatan organisasi dari pada kuliah. Buktinya, sering sekali dia memanfaatkan jumlah maksimal membolos kuliah hanya karna lebih memprioritaskan rapat KAPN, aksi demonstrasi, atau acara sosial dan keorganisasian yang lainnya. Slogan dia satu, "manfaatkan 25% jatah membolos semaksimal mungkin". Ini yang tak patut di tiru dari sosok Elzata.


Tapi karena motivasi ingin wisuda di akhir tahun dan segera menikah, itu semua tidak berlaku pada satu hal ini. Dia rela tak tidur semalaman demi mengejar tugas akhir agar segera terselesaikan. Dengan begitu, waktu 5 bulan bukan waktu yang mustahil bagi dia untuk menamatkan semuanya.


Sejak pertemuan dengan kaprodi dan dua dosen pembimbingnya hari itu, Elzata hanya punya waktu tidur 2 jam setiap hari karena dari pagi sampai sore tetap sibuk dengan seabrek kegiatan di KAPN, dan setelah itu baru mulai mengerjakan bab demi bab dalam skripsinya. Bahkan beberapa kali tidak tidur sama sekali demi mengejar target yang sudah dibuatnya.


Demi untuk memotivasi dirinya sendiri, bahkan dia menulis sebuah kalimat motivasi dengan huruf besar-besar di kamarnya.


"Sekarang, atau tidak sama sekali"


Begitu dia menulisnya. Dan itu memang kenyataan yang harus dia dapati nanti. Jika tidak sekarang, dia benar-benar tidak akan mendapatkan Ega lagi. Karena waktu percakapan mereka di taxy malam itu, jelas-jelas Ega mengatakan bahwa mamanya ingin Ega menikah sebelum dia berangkat ke Jepang. Mamanya takut jika Ega tidak menikah dulu, Ega akan terpikat dengan gadis Jepang dan tidak mau pulang ke tanah air. Dan itu tidak bisa di tawar.


Artinya, jika sebelum Ega berangkat ke Jepang Elzata belum bisa lulus, mereka tidak bisa menikah. Meskipun sebenarnya bisa saja mereka menikah sebelum Elzata lulus. Tapi sekali lagi permintaan mama Ega, bahwa setelah menikah Ega harus membawa istrinya ke Jepang supaya ada yang mengurus.


Jadi memang benar berlaku untuk Elzata. Kalau tidak sekarang, dia akan kehilangan Ega untuk selamanya, karena mamanya Ega pasti akan nencarikan gadis lain untuk bisa menemani Ega disana.


***


"Za, jadi bimbingan nggak? Bapak tunggu di kantor sekarang"


Mata Elzata membelalak melihat pesan yang masuk. Dari pak Mosaik, dosen pembimbingnya.


Dimana-mana, mahasiswa yang ngejar-ngejar dosennya biar dia bisa bimbingan. Bahkan banyak mahasiswa yang rela menunggu ber jam-jam untuk bisa bertemu dengan para dosen. Ini, kenapa jadi Elzata yang di kejar-kejar ya?


"Oke pak. Siappp. Meluncur"


Elzata yang waktu itu bahkan belum sempat mandi, segera berlarian ke mobil dan segera menuju kampus. Beberapa kali dia mencium tubuhnya sendiri memastikan bahwa tidak ada bau yang muncul dari tubuhnya.


"Aman", batinnya


Tidak lebih dari 10 menit, akhirnya dia sudah berada di depan ruang pak Mosaik.


Tok tok tok. Elzata mengetuk pintu.


"Masuk"


Elzata pun segera masuk ke dalam sesuai perintah dosennya itu.


"Maaf pak, sudah membuat bapak menunggu lama"


"Nggak masalah, silahkan duduk"


Elzata duduk dan segera menyodorkan draff skripsinya kepada pak Mosaik. Waktu itu dia bimbingan untuk 3 bab sekaligus, bab 1 sampai bab 3 sesuai arahan pak Mosaik dan pak Putut.


Pak Mosaik segera melihat draff yang disodorkannya, dan bertanya,

__ADS_1


"Kamu catat nggak daftar referensi buku apa saja yang kamu pakai?"


"Iya pak"


"Coba lihat"


Elzata segera menyodorkan catatannya.


Oke, kamu langsung ke pak Putut aja ya. Bilang beliau, bab 1 sampai 3 sudah di acc Pak Mosaik.


Elzata kaget. "Gitu aja? Tidak diperiksa satu-satu? Tidak diminta revisi?" batin Elzata dalam hati


"Siappp, Pak"


Elzata pun beranjak dan langsung menuju ruang kepala jurusan.


Berbeda dengan ruang pak mosaik yang begitu saja Elzata bisa masuk, ruang kepala jurusan mempunyai staff administrasi yang mempunyai protokol sendiri untuk bisa bertemu dengan sang kepala Jurusan.


"Pak Putut ada nggak mbak?"


"Ada, kamu sudah janjian belum?"


"Belum mbak?"


"Ya udah saya tanya beliau dulu"


"Assalamu'alaikum, Pak Putut"


"Wa'alaikumsalam. Sini Za, bapak udah lama banget nggak diskusi sama kamu"


"Baik, pak"


Hampir 3 jam Pak Kepala Jurusan itu mengajak ngobrol kemana-mana tentang banyak hal. Mulai dari politik, sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sampai curhat masalah anaknya, istrinya, dan masih banyak lagi yang mereka diskusikan.


"Ini kapan draff skripsi mau dilihat sama dia?" Batin Elzata dalam hati.


"Maaf pak, kapan kita mulai diskusi masalah skripsi saya ini kita pak?"


Sesantai mungkin Elzata mencoba membuka obrolan terkait skripsi, tanpa membuat Pak Kajur tersinggung karena diskusinya diputus di tengah jalan. Kalau tidak di putus, bisa sampai maghrib baru selesai diskusinya. Dan nasib skripsinya?


"Ohh iya, kita kan mau bimbingan skripsi ya. Hhhhh. Coba lihat?"


Akhirnya dia menerima draff yang disodorkan Elzata, dan cuma lihat sekilas, setelah itu memandang Elzata dan bertanya,


"Ini udah di acc pak Mosaik?"

__ADS_1


"Sudah, Pak. Tadi beliau menyampaikan, saya suruh bilang bapak kalau beliau sudah acc"


"Ya sudah kalau pak Mosaik sudah acc, saya langsung acc ajalah. Kamu langsung siapkan untuk bahan penelitian kamu. Satu bulan saja penelitiannya ya? Biar kamu bisa ngejar wisuda akhir tahun. Nanti saya koordinasi sama Pak Mosaik"


"Baik, Pak. Terima Kasih"


Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Elzata pamit keluar. Sebelum pak Kajur mulai ngajak diskusi lagi. Karena jika sampai itu terjadi, seharian dia bisa terkurung di ruang Kajurnya itu.


Ketika membuka pintu pak Kajur, alangkah kagetnya Elzata. Dia melihat tatapan-tatapan marah dari sekitar 7 orang yang ada di luar. Mereka adalah mahasiswa yang mau bimbingan skripsi juga dengan pak Kajur, dan sudah mengantri sekian jam karena Elzata terlalu lama di dalam.


"Ihhhh, lama banget sich Za. Pasti kamu malah ajak ngobrol pak Kajur kan?" celetuk temannya. Mereka sudah sangat tau kebiasaan Elzata dan Pak Kepala Jurusan, kalau sudah ketemu bisa betah banget ngobrol nggak jelas. Sebenarnya diskusi sich, tapi menurut teman-temannya obrolan mereka nggak jelas. Dan Elzata seneng-seneng aja, tanpa beban melayani hobby pak Kajur setiap ketemu dengannya.


"Iya lama banget", celetuk yang lain, kesal.


Dengan tampang tak berdosa dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, akhirnya Elzata minta maaf.


"Maaf, maaf. Habisnya si Bapak ngajak ngobrol duluan, jadi keterusan dech"


Kata Elzata, kemudian langsung kabur.


***


"Aku udah maju bab 1 sampai bab 3"


Tulis Elzata dalam sebuah pesan, ditujukan untuk Ega


"Mantab. Banyak ga revisinya?"


"Kasih tau nggak ya?"


"Kasih tahu dong"


"Mau tau, apa mau tau banget?"


"Mau tau banget dong"


"Ya udah"


"Ya udah apa?"


"Bab 1 sampai bab 3 ku lolos tanpa revisi. Setelah ini aku langsung persiapan buat penelitian"


"Hebat ya. siapa dulu dong? sayangnya Ega"


"Ihh, apaan sich"

__ADS_1


Obrolan singkat, namun memberi harapan baru buat mereka. Mereka sangat optimis, bahwa sebuah perjuangan tidak akan pernah membohongi hasil.


BERSAMBUNG


__ADS_2