CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
pulang menjelang acara lamaran


__ADS_3

Ega adalah anak ke enam dari delapan bersaudara. Mama dan papanya berdarah minang, namun sejak muda sudah membangun usaha di ibu kota. Papanya mempunyai pabrik kain, sedangkan mamanya mengelola beberapa minimarket dan apotik.


Dari delapan bersaudara itu, hanya kakak pertama dan kakak ketiganya yang perempuan. Selain mereka, semuanya laki-laki. Kakak pertama sampai ke empat sudah menikah, sedangkan dia, kakak ke lima dan dua adiknya belum.


Jika setelah wisuda Ega menikahi Elzata, itu artinya dia harus nikah duluan melangkahi kakak kelimanya. Namun karena kakak kelimanya tidak keberatan, dan sang mama juga inginnya Ega menikah dulu sebelum berangkat ke Jepang, maka seluruh keluarga besar tidak keberatan. Kakak kelimanya bahkan menjadi orang yang paling semangat membantu persiapan Ega.


Dua hari sejak Elzata mengabarkan tentang restu kedua orang tuanya, akhirnya Ega juga memutuskan untuk pulang. Mengingat acara wisuda tinggal 2 pekan lagi dan ada banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk acara lamaran sekaligus pertunangan itu. Rencananya, satu bulan setelah acara lamaran akan dilaksanakan resepsi pernikahan, dan sebulan setelah mereka menikah akan langsung bertolak ke Jepang.


Keluarga Ega terlihat sibuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk bertamu ke keluarga Elzata. Mengingat acara lamaran akan dijadikan satu dengan acara pertunangan, maka mulai dari pakaian, cincin dan barang-barang maharan harus dipersiapkan jauh-jauh hari.


Dan di rumah Ega sudah penuh dengan barang-barang yang di bentuk parsel-parsel dengan karakter tertentu yang sangat indah.


Melihat seluruh persiapan yang mendekati sempurna itu, Ega benar-benar tersenyum puas. Hatinya berbunga-bunga. Dalam hatinya serasa tak sabar memiliki gadis impian, yang halal baginya untuk selama-lamanya.


***


Sudah dua hari semenjak acara makan malam Elzata bersama kedua orang tuanya. Setelah mendapat restu dari mereka, Elzata pamit pulang ke kampus karena harus daftar wisuda dan ada banyak hal yang harus diselesaikan di KAPN.


"Sebelum mereka semua tau, aku akan mengabdikan diri di KAPN untuk yang terakhir kalinya. Karena setelah semuanya terbongkar, mana mungkin mereka membiarkanku menginjakkan kaki di markas", gumam Elzata dalam hati


Memang, ada beban berat yang seolah hilang begitu saja sejak Elzata mendapatkan restu kedua orang tuanya. Tapi entah kenapa, hari itu ada sesuatu yang membuat Elzata gelisah.


"Ga, kamu jadi pulang?", Elzata memutuskan untuk mengirim sebuah pesan kepada Ega.


"Iya, sayang. Aku lagi nemenin mama belanja untuk persiapan acara lamaran kita"


"Oke. Tapi kok aku malah gelisah ya Ga. Entah karena apa?"


"Udah, kamu jangan mikir macem-macem. Pasti kamu mikirin mereka akan ngomongin kita kayak gimana kan, setelah mereka tau kita akan menikah? Atau kamu grogi ya mau dilamar?", Jawaban Ega, sedikit menggoda.


Mungkin benar kata Ega. Aku terlalu grogi mau di lamar. Terlalu mikirin KAPN dan orang-orang yang ada disana juga.


Biar bagaimanapun KAPN adalah rumah keduanya. Disana banyak kenangan dan banyak teman-teman yang Elzata sayangi seperti saudara sendiri. Mereka sudah berjuang sama-sama sekian lama. Makan bareng, kerja lembur bareng, dikejar-kejar polisi bareng, dan banyak sekali momen indah yang mereka lalui bersama. Tentu tidak mudah harus menjadi orang yang mereka benci, ketika mereka tahu apa yang telah Ega dan Elzata lakukan di belakang mereka.


Tapi benarkah Elzata gelisah karena itu?

__ADS_1


Kriiiinggggg


HP Elzata berbunyi. Ada nama mama muncul di layar.


"Iya, ma"


"Kamu bisa pulang ga sayang malam ini? Atau kamu biar dijemput kakak sepupumu ya?"


"Ada apa ma? Kok tiba-tiba Elzata harus pulang? Kan baru dua hari yang lalu Elzata pulang? harus malam ini ma?"


"Iya nak, tolong ya. Nanti mama jelasin di rumah"


"Oke dech ma, Zata siap-siap. Mungkin dua jam lagi Zata baru nyampek rumah ya ma. Nggak papa kan?"


"Iya sayang, hati-hati ya?"


"Iya ma"


Akhirnya Elzata memutuskan untuk pulang sendiri tanpa di jemput. Sekitar jam 11 malam dia berangkat dari rumah kontrakan. Itu artinya, dia akan nyampek rumah jam 1 dini hari.


Ini adalah hal yang tidak biasa. Apa mungkin kedua orang tuanya akan membicarakan masalah acara lamaran dua pekan lagi ya? Tapi kenapa harus malam ini? Dan tadi Elzata menangkap suara mamanya seperti bergetar.


Kriiiingggg. Ega


"Iya, Ga"


"Kok belum tidur, sayang?"


"Aku di jalan nich. Mama minta aku pulang malam ini juga. Jadi aku putusin pulang dech"


"Kok malam-malam gini sich sayang?"


"Kata mama harus malam ini, Ga. Nggak bisa ditunda sampai besok. Bahkan mama memohon. Kayaknya penting banget"


"Emangnya ada apa, sayang?"

__ADS_1


"Aku juga belum tau nich. Mama nggak bilang. Mau langsung ngobrol di rumah aja katanya. Pokoknya mama minta aku pulang gitu"


"Kamu sama siapa?"


"Sendiri"


"Tengah malam gini sendiri?"


"Habis aku nggak tau mama papa mau ngomongin apa sich. Ga mungkin juga kan aku ambil resiko. Kalau mereka mau ngomongin persiapan pesta kita bisa berabe kalau aku ngajak teman"


"Aduh, aku juga pas pulang ke rumah sich ya. Jadi aku nggak bisa nemenin kamu"


"Udah-udah nggak papa. Aku nggak papa kok pulang sendiri"


"Ya udah, hati-hati ya sayang. Kabarin aku kalau udah nyampek rumah"


"Oke. Tapi ga...."


"Kenaapaaa?"


"Perasaan aku kok tambah ga enak gini sich. kenapa ya Ga?"


"Udah, yang penting positif thingking aja. Jangan mikir macem-macem. Fokus di jalan, jangan ngantuk. Kabarin aku kalau sudah sampai rumah"


"Iyaa"


Elzata pun memutus telphonnya, kemudian fokus mengendarai mobilnya. Di setelnya musik keras-keras untuk menghilangkan gelisah yang sedari tadi menghinggapi diri Elzata. Dilihatnya jalanan yang dilewati, lengang. Mungkin karena tengah malam jadi tidak rame. Meski tidak benar-benar kosong, tapi jalanan memang tak seramai ketika siang atau sore.


Setelah dua jam perjalanan, akhirnya Elzata sampai rumah juga. Seperti perkiraan, Elzata butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai ke rumahnya. Ketika dia masuk ke halaman, dia melihat rumahnya sudah ramai. Terlihat beberapa kerabat, baik kerabat jauh maupun kerabat dekat sedang berkumpul di rumah Elzata.


Elzata semakin gelisah. Pikirannya liar kemana-mana, sibuk menebak apa yang sedang mereka lakukan di rumahnya, tengah malam seperti ini.


"Ada apa ini? Kenapa tengah malam gini rumahnya sangat ramai? Mama? Papa? Kemana mereka?


Jantung Elzata benar-benar berdegub kencang. Sambil terus berdoa, akhirnya dia keluar dari mobilnya dan menemui keluarganya yang menyambut kedatangan Elzata sambil memeluk Elzata satu per satu.

__ADS_1


"Ada apakah ini?", Elzata terus bertanya dalam hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2