CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari ini adalah hari kepulangan Ega ke tanah air. Perjalanan dari Tokyo ke Indonesia yang cukup panjang, sekitar 8 jam, membuat ruang tersendiri dalam hati Ega untuk bisa melayangkan pikirnya kembali pada masa dimana Ega mulai mengenal Elzata, hingga perjuangan mereka sampai di titik ini.


Tiba-tiba Ega tersenyum tipis. Dia mengingat kembali perdebatan demi perdebatan yang sering sekali dia lakukan bersama Elzata. Waktu itu jelas tidak pernah terbayang di benak Ega bahwa gadis angkuh, galak dan jutek seperti Elzata akan mampu menggenggam hatinya. Bahkan boleh dibilang, hal yang paling menyebalkan adalah bertemu, beradu argumen dan berdebat dengan gadis itu.


Tapi kini? Ahhhh.... Ega jadi senyum-senyum sendiri melihat hatinya begitu tercengkeram kuat oleh cintanya kepada Elzata.


"Memang ya, antara benci dan cinta itu beda tipis? Bahkan sekarang aku hampir tidak bisa bernapas jika harus tanpa Elzata", batin Ega dalam hati.


Dan tak berapa lama, pesawat itupun landing menandakan Ega telah sampai ke tanah air. Begitu dia keluar, dengan semangat yang membara dihampirinya sebuah taxy untuk segera mengantarkannya pulang ke rumah.


***


Rumah Elzata terlihat mulai sibuk mempersiapkan acara akad nikah yang dua hari lagi akan di gelar.


Perasaan Elzata pun campur aduk, antara bahagia karena sebentar lagi dia akan mendapatkan cintanya, bercampur cemas menanti kabar kedatangan Ega ke tanah air.


Tidak terlihat sibuk seperti yang lainnya, Elzata justru berdiam diri di kamarnya. Berkali-kali dia melihat layar ponselnya, menunggu kabar seseorang.


"Seharusnya Ega sudah landing", gumamnya dalam hati.


Elzata terus berguling-guling resah di tempat tidurnya. Sesekali dia duduk, sesekali dia berdiri di dekat jendela, kemudian berbaring lagi. Sampai akhirnya...


Kriiiiingggg


Ada panggilan masuk. Mata Elzata tiba-tiba berbinar.


"Hallo, Ga"

__ADS_1


"Hallo sayang, aku udah sampai Indonesia. Ini lagi perjalanan pulang"


"Alhamdulillah"


"Besok pagi aku meluncur, nginep semalam di hotel deket rumahmu dulu biar pas ijab kabul nanti lancar, dan malam pertama kita fresh", Ega mulai menggoda.


Sementara Elzata, hanya mampu menjawab "Iyaa"


mendengar jawaban Elzata, Ega langsung tergelak, membayangkan bahwa wajah gadisnya di seberang sana pasti sudah semerah tomat rebus.


***


Akhirnya hari yang ditunggu-tunggupun tiba. Tepat jam 8 pagi, Ega dan seluruh keluarga besar nya sudah hadir di kediaman Elzata. Para tamu undangan pun sudah mulai hadir.


Meski mendapat ancaman dari Dewan Pembina KAPN, namun tampak disana Barra, Galih, dan Arya tetap ikut mendampingi Ega. Mereka ingin membuktikan kepada Ega dan Elzata bahwa mereka adalah sahabat sejati yang akan tetap menjadi sahabat walau apapun yang terjadi.


Barra yang lebih terlihat murung karena gadisnya ternyata adalah milik sahabatnya itupun berusaha mengendalikan diri dan tetap tersenyum di depan Ega. Sementara Sera, sudah bisa dipastikan tidak akan hadir entah karena belum bisa melepas Ega, atau karena terlalu benci dengan pernikahan Ega dan Elzata.


Elzata yang masih di kamar untuk dirias sambil menunggu prosesi akad nikah di mulai, beberapa kali mengirim pesan kepada Ega untuk mengkonfirmasi siapa saja yang datang menghadiri undangan mereka di hari itu. Ega yang di tanya hanya menjawab,


"Nanti kamu akan lihat sayang, siapa saja yang benar-benar sahabat kita dan mana yang memang tidak tulus bersahabat dengan kita. Yang jelas, Barra, Galih dan Arya mendampingi ku disini"


Mendengar jawaban Ega, Elzata pun merasa lebih tenang. Seperti apapun KAPN mengecam pernikahan Ega dan Elzata, sekarang sudah tidak penting lagi. Yang terpenting, pernikahan Ega dan Elzata didasari niat baik untuk menyempurnakan sebagian dari agama mereka.


***


"Saya terima nikahnya Elzata Sabrina Rahardian binti Rahardian dengan mas kawin tersebut di bayar tunai", dengan lancar, Ega mengikrarkan di depan penghulu.

__ADS_1


Para saksi pun, segera berkata "sah"


Setelah ijab kabul dilaksanakan, Elzata segera keluar di apit oleh kedua kakak perempuan Ega. Tak butuh waktu lama, segera saja Elzata di dudukkan di sebelah Ega untuk menandatangani buku nikah dan mendengarkan do'a yang di lantunkan oleh petugas KUA.


Selama do'a di bacakan, entah mengapa derai air mata terurai begitu saja dan tak bisa terbendung meski Elzata sudah berusaha menahannya. Selain kesyukuran yang tiada terhingga, slide demi slide perjalanan cinta Ega dan Elzata muncul begitu saja, menyeruak dan menguasai dada yang semakin lama semakin sesak.


Tak lama, slide itu kemudian berubah menjadi wajah almarhum sang papa sehingga isah tangis Elzata semakin lama semakin terdengar keras. Beberapa kali Elzata mencoba melihat sang mama yang begitu tegar menguatkan Elzata, namun perasaan rindu kepada sang papa yang seharusnya hari itu menjadi wali nikahnya pun semakin lama semakin membuncah.


Semua yang menyaksikan akad nikah di hari itu, tak ada yang mampu menahan air mata seolah ikut masuk menyelami perasaan Elzata dengan penuh haru biru.


Satu hal yang pasti akan terucap dari mulut mereka, "Semoga pernikahan Ega dan Elzata bahagia".


***


Setelah do'a selesai, segera saja Elzata masuk untuk mengganti kebaya dan memperbaiki riasannya yang berantakan karena tangisnya yang tak bisa tertahan.


Ega yang sudah menjadi suami sah nya pun mendampingi Elzata selama riasannya di perbaiki. Ega terus menggenggam tangan Elzata. Semakin Ega menggenggam tangannya, justru tangis Elzata semakin kencang.


"Udah dong sayang, jangan nangis lagi. Tamu di luar sudah menunggu kita untuk mengucapkan selamat. Udah ya nangisnya"


Setelah Elzata agak tenang, perias kembali memperbaiki Make Up Elzata dan segera mengganti kebayanya dengan gaun pengantin.


Dan tak berapa lama, Elzata dan Ega keluar bergandengan, kemudian duduk di pelaminan. Melihat sang pengantin yang sudah siap menerima ucapan selamat, segera saja para tamu memberi ucapan selamat satu per satu, bahkan tak jarang di antara mereka yang minta berfoto bersama.


Barra, Ega dan Galih yang memilih menyapa mereka terakhir, akhirnya tiba giliran. Mereka benar-benar ikut merasa bahagia dengan pernikahan kedua sahabatnya itu.


Meskipun mereka tahu bagaimana perasaan Barra, namun kelima sahabat itu terus menggoda Barra untuk segera mencari calon istri yang lebih baik dari Elzata. Barra yang merasa di ledek sahabat-sahabatnya pun hanya tersenyum simpul. Seperti apa hancurnya hati Barra di hari itu, hanya Barra yang bisa merasakannya.

__ADS_1


Meski begitu, Arya, Galih dan Ega berkali2 menepuk pundaknya untuk memberikan semangat dan mentransfer energi positif, sebelum akhirnya mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan sepasang pengantin yang sudah tidak sabar melepas rindu.


BERSAMBUNG


__ADS_2