
Ega mendesah pilu. Matanya nanar, memerah menahan air mata. Belum sempat dia perjuangkan janjinya kepada seorang Elzata, kenyataan pahit sudah hadir di depan mata.
Benarkah sesulit ini untuk bisa bahagia bersamanya?
Ataukah Ega yang memang belum berjuang untuk mempertahankan semuanya?
Dia berpikir sejenak. Mengingat dan mencerna kembali semua pembicaraannya dengan Elzata. Ada sesak yang menyeruak di dada, namun dia tepis begitu saja.
Ada rasa sesal yang menyeruak dalam hatinya, mengingat dan membayangkan tangisan gadisnya yang begitu berat memikul beban seorang diri.
Lantas kemana Ega? Bukankah di saat-saat seperti itu seharusnya Ega menjadi tiang yang akan menjaganya tetap tegak berdiri?
"Hhhhhhmmmmmm", Ega mendesah panjang. Dia memantapkan hati dan mencoba meyakinkan diri, bahwa semua akan baik-baik saja. Tak seharusnya kata-kata yang justru membuat Elzata lebih sakit tadi dia lontarkan begitu saja. Bukankah mereka sudah berjanji akan saling berjuang sampai saatnya nanti mereka bisa saling berikrar?
Setelah memikirkan sesuatu, tiba-tiba Ega bangkit. Ada secercah cahaya dimatanya, seolah mengumpulkan kembali serpihan-serpihan rasa yang tadi sempat berserak.
***
"Za, aku di luar. Kamu masuk ke dalam Taxy depan rumah ya. Kutunggu"
Tiba2 sebuah pesan masuk, dari Ega. Meski bertanya-tanya dalam hati, tapi Elzata pun tidak berpikir panjang dan segera keluar.
Dilihatnya sebuah taxy warna kuning telah terpakir di halaman. Segera dia masuk, sebelum akhirnya taxy itu melaju dengan kencang.
"Sini", Ega mengulurkan tangannya, menunjukkan bahwa tangannya sangat terbuka untuk Elzata bisa bersandar.
Tanpa pikir panjang pun, Elzata menghambur ke arah Ega. Dia menangis sejadi-jadinya agar beban di hatinya akan hilang dengan dibaginya kepada tambatan hatinya, seorang Ega.
Ega membiarkan gadisnya itu menangis sampai puas. Matanya terus menatap jendela taxy yang terus melaju berkeliling kota hingga beberapa kali putaran. Ega sengaja memesan taxy agar tidak ada yang mengenali dan curiga bahwa malam itu mereka pergi bersama.
__ADS_1
Tangannya terus menepuk-nepuk tangan Elzata dengan lembut, seolah ingin mentransfer kekuatan agar mereka bisa sama-sama kuat berjuang untuk rasa hati yang telah mereka tambatkan.
Setelah lebih tenang, segera Elzata menghapus air mata yang membasahi pipinya. Untung matanya yang sembab bekas menangis tak terlihat karena mereka duduk di taxy dalam gelap. Beberapa saat mereka terdiam, menyelami pikiran masing-masing. Lampu temaram di sepanjang kota terlihat berganti-ganti menandakan mereka tak sedang berdiam diri. Pepohonan juga seolah berjalan melewati mereka menandakan waktu semakin berputar.
Akhirnya, Ega membuka suara demi memecah keheningan dan memulai pembicaraan.
"Sudah? Sekarang kita bisa bicara?", kata Ega dengan lembut
Elzata mengangguk, tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.
"Bisakah aku memintamu untuk berjuang untukku? Aku akan berjuang juga untuk kita"
Elzata mengangguk lagi, masih diam seribu bahasa.
"Skripsiku sudah selesai. Bulan depan aku sidang. Itu artinya, akhir tahun ini aku akan wisuda",
Kaget, Elzata memandang dengan ekspresi yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Entah berpikir apa, namun dia tetap membiarkan Ega melanjutkan bicara.
Elzata mencoba untuk mencerna setiap perkataan Ega, dan mencoba menebak ke arah mana akhir pembicaraannya.
"Terus?"
"Berjuanglah untukku, Elzata. Tolaklah permintaan orang tuamu dengan alasan apapun yang bisa membuat mereka mengerti. Dan berjuanglah selama 5 bulan ini untuk menyelesaikan skripsimu, sehingga akhir tahun ini kita bisa wisuda sama-sama. Di hari wisuda itu aku dan keluargaku akan datang untuk memintamu kepada orang tuamu, setelah itu kita menikah dan kita pergi ke Jepang. Kita sekolah lagi disana, dan kita mulai rumah tangga kita disana juga. Korbankanlah obsesimu, tinggalkanlah KAPN dan lupakan semuanya. Biarkan caci maki dari mereka terucap sepuas mereka, dan buatlah aku sebagai satu-satunya pilihan dalam hidupmu. Berjuanglah untukku Za, berkorbanlah untukku, dan aku akan berkorban dan berjuang untukmu juga",
tak terasa, bulir bening Ega menetes dari ujung matanya. Seorang singa kampus yang garang dan biasa tampil elegan, bisa menjatuhkan diri dari image yg selama ini melekat di hadapan seorang Elzata.
Melihat pemandangan asing di depannya itu, Elzata merasa yakin, meski akhirnya ciut lagi menyadari waktu yang diberikan Ega tidaklah banyak.
"Tapi lima bulan bukan waktu yang lama untuk bisa aku selesaikan semuanya, Ga. Aku bahkan belum memulai. Aku nggak mungkin bisa, Ga. Nggak mungkin bisa selesai dengan waktu sesingkat itu"
__ADS_1
Setelah seluruh mata kuliah selesai, memang Elzata belum memulai sama sekali skripsinya. Judul saja belum ada di benaknya. Selama ini Elzata lebih memilih larut dan mengasyikkan diri untuk kegiatan KAPN dan kegiatan sosial lainnya. Bahkan bisa lulus dengan cepat tak pernah ada dalam isi kepalanya.
"Kamu sudah janji akan berjuang untukku, bukan?"
"Tapi..."
"Kamu bisa, sayang. Kamu pasti bisa",
Kata-kata Ega benar-benar mampu menghipnotis alam sadar seorang Elzata. Dia merasakan kekuatan cinta Ega yang begitu luar biasa bisa meruntuhkan keegoannya untuk terus tertuju pada obsesi besarnya.
Tiba-tiba sebuah keberanian muncul dalam hatinya, menutupi segala kegalauan yang selama ini lebih mendominasi benaknya.
Akhirnya pun Elzata tersenyum, dan mengangguk lega.
"Aku akan berjuang untukmu, Ga. Kita lulus, menikah dan kita hadapi rintangan di depan sama-sama"
"Janji?"
"Janji...."
Ega bernafas lega. Ini adalah bagian dari perjuangan yang sama-sama mereka inginkan. Meski tak mudah, namun jika mereka saling menopang pasti semua akan terasa ringan.
Merekapun meminta taxy yang menemani mereka berputar-putar mengelilingi kota entah sampai berapa kali itu untuk mengantarkan Elzata pulang, sebelum akhirnya mereka mengakhiri perjalanan.
Ya, perjuangan baru saja dimulai. Tapi entah mengapa energi keduanya seolah membuat separoh pe-er mereka sudah selesai. Ada kelegaan di hati keduanya, yang terlihat dari binar mata yang terpancar dan senyum tipis yang susah di artikan.
Setelah ini, Elzata yang harus berjuang keras demi bisa meraih cintanya. Meski dia sendiri belum tau ungkapan kata seperti apa yang mampu meluluhkan papanya, dan perjuangan sepanjang apa yang harus dia lewati untuk segera lulus dan menjadi seorang istri dari Ega Sakala Narendra.
Apakah Elzata mampu melewati semuanya? Kita lihat saja nanti.
__ADS_1
BERSAMBUNG