CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Menemukan Kebahagiaan


__ADS_3

Satu bulan sudah Elzata tak menghiraukan apapun penjelasan suaminya. Ega yang dibuat frustasi karena kecemburuan istrinya yang menurutnya berlebihan itu pun sampai kehabisan akal, memikirkan bagaimana cara meyakinkan Elzata untuk mempercayainya. Ingin rasanya Ega pulang ke Indonesia saat itu juga, namun mengingat beberapa bulan lagi dia akan lulus, jadi niat itu dia urungkan.


"Jika kamu masih tidak mau mengangkat telphonku dan membalas pesanku, aku akan pulang sekarang juga dan akan kutinggalkan semua impianku di negeri Sakura," begitu bunyi pesan yang akhirnya Ega kirimkan.


Dengan bunyi pesan semacam itu, Ega yakin pasti istrinya akan luluh dan segera menelphon atau membalas pesannya.


Namun ternyata Ega salah besar. Lagi-lagi, pesan itu di baca Elzata namun tak juga di balasnya.


Ega mulai kelimpungan, di bantingnya HP itu hingga jatuh berserakan.


"Kenapa kamu banting HP itu, Cinta? Apakah kamu sedang memakiku sekarang?" tiba-tiba terdengar suara Elzata dari balik pintu kamarnya.


Ega tersentak mendengar suara itu. Dia menoleh ke arah pintu, ternyata benar. Itu adalah suara istri yang sangat dia rindukan.


"Sayang? Ini benar kau?" tanya Ega tidak percaya.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka aku menyusulmu ke Jepang? Apa kamu mau berduaan terus dengan si Sera, sahabatku yang hampir saja kau nikahi itu? Ya sudah, aku balik Indonesia aja," jawab Elzata, pura-pura marah dengan pertanyaan suaminya itu.


Sebenarnya terkait foto mesra Ega dengan Sera, Elzata sudah tidak mempermasalahkannya. Setelah perjuangan berat mereka selama ini hingga akhirnya mereka bisa bersama, terlalu naif jika Elzata harus melepas Ega hanya karena foto itu. Toh, dalam hatinya Elzata sangat percaya pada kesetiaan suaminya.


"Bukan begitu, Sayang. Aku merindukanmu," ucap Ega sambil memeluk Elzata, dan mengecup ujung kepalanya berkali-kali.


"Aku juga merindukanmu, Cinta," Elzata membalas pelukan suaminya dengan hangat.


Tak berapa lama, Ega melepas pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Di kecupnya semua bagian wajah orang yang sangat dicintainya itu, kemudian di gelarnya tubuh Elzata begitu saja di atas tempat tidur yang selama ini menjadi saksi kerinduan Ega.


Dan kini detak jantung mereka telah menjadi satu, menuntaskan hasrat yang sempat tertunda, hingga mereka saling memiliki seutuhnya.


***


Flashback

__ADS_1


Melihat Ega yang begitu larut dengan kesedihannya karena tak kunjung mendapat kesempatan dari Elzata untuk memberi penjelasan kepadanya terkait foto dirinya dengan Sera, akhirnya Jonatan berinisiatif untuk mengambil nomor Elzata dari HP Ega dan menghubunginya.


Jonatan menjelaskan semua yang terjadi, mengingat saat foto itu di ambil dia berada disana bersama Sera dan juga Ega.


Elzata yang mendengar penjelasan Jonatan pun, sebenarnya ingin langsung menghubungi Ega. Namun karena mamanya menyarankan Elzata untuk menyusul suaminya ke Jepang karna toh juga disana hanya beberapa bulan saja, akhirnya Elzata memutuskan untuk mendiamkan Ega sampai semua hal selesai dia persiapkan dan untuk memberinya kejutan.


Saat semua sudah siap, Elzata berangkat dan begitu sampai langsung meminta tolong kepada Jonatan untuk menjemputnya di Bandara.


End of flashback


***


Jonatan memutuskan untuk keluar begitu menunjukkan kamar Ega di apartemen mereka kepada Elzata. Meskipun Jonatan tidak keberatan jika Elzata juga ikut tinggal di apartemen itu sampai kelulusan Ega, namun dia pikir untuk saat ini dia tidak akan mengganggu kesenangan sahabatnya itu.


Jonatan sempat membayangkan apa yang saat ini sedang dilakukan mereka berdua. Dan entah kenapa, membayangkan itu tiba-tiba dibenaknya muncul wajah Sera.


"Hallo, Ser. Ketemuan yuk," ucap Jonatan melalui panggilan suara.


Tak lama, Sera datang nenghampiri Jonatan di kafe tempat biasa Jonatan menghabiskan waktu bersama Ega.


"Sendiri aja, Jo? Ega mana?" tanya Sera sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang, mencari sosok Ega.


"Ega lagi seneng-seneng sama istrinya. Makanya aku keluar karena tidak mau mengganggu mereka," ucap Jonatan dengan entengnya. Dengan sengaja dia ingin memberitahu Sera bahwa Elzata datang, tapi tidak ingin secara langsung. Jadi kebetulan sekali Sera menanyakan Ega, sehingga Jonatan dapat mengepaskan jawabannya.


Sera terdiam, namun tetap bisa menguasai dirinya.


"Bahkan sejauh ini aku mengejarnya, Ega tetaplah milik Elzata," gumam Sera dalam hati.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jonatan, tidak menyangka kalau reaksi Sera sedatar itu.


"Memangnya kenapa?" jawab Sera dengan berbalik bertanya.

__ADS_1


"Aku kira kamu akan frustasi," ucap Jonatan sekenanya.


"Kalau mau frustasi sudah dari dulu. Sudahlah, aku sudah sadar sekarang. Sekeras apapun aku berusaha, dia tetaplah milik Elzata," jawab Sera pasrah.


"Tidak mau coba membuka hati buat yang lain?" Jonatan memberanikan diri.


"Aku sudah membuka diri untuk yang lain,"


"Untuk siapa?"


Sera terdiam. Selama di Jepang, Sera baru tersadar jika Ega tidak akan pernah bisa dia dapatkan, karena cintanya kepada Elzata sedemikian besar. Justru yang selalu hadir menemaninya dalam kesepian adalah Jonatan. Dan entah mulai kapan, hati Sera diam-diam mulai terpaut dengan sahabat Ega itu.


"Apakah aku harus bilang? Kalau dia menolakku gimana?" batin Sera.


"Ser?" tanya Jonatan penasaran.


"Iya," jawab Sera gugup


"Bisakah kau membuka hati untukku?" Jonatan memberanikan diri.


"Sudah lama aku membuka hatiku untukmu," jawab Sera tersenyum lega.


"Kalau begitu kita segera menikah," seru Jonatan saking bahagianya.


"Secepat ini? Aku bahkan baru bilang kalau aku membuka hatiku loh. Belum bilang yang lainnya," protes Sera.


"Aku akan membuatmu segera mencintaiku," jawab Jonatan percaya diri.


Dan begitulah seterusnya. Mereka bercanda penuh tawa, dengan perdebatan panjang yang penuh cinta.


Akhirnya Sera menemukan tambatan hatinya, dan Elzata bisa hidup bahagia bersama Ega.

__ADS_1


END


__ADS_2