CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Tede


__ADS_3

Elzata masih betah duduk di kursi Ega, menunggu si Singa kampus yang sedang asyik makan siang dengan pak rektor entah dimana dan akan berapa lama. Sebenarnya kedatangannya kali ini ingin membicarakan masalah aksi bakti sosial akhir pekan. Tapi karena tadi malah ribut-ribut masalah Ara, maksud utama dia menemui Ega malah jadi terlewatkan.


"Ga, balik jam berapa?", dia memutuskan untuk kirim chatt WA


Beberapa lama Elzata menunggu, tak kunjung juga ada balasan. Karena tak mau mati gaya karena kesal, akhirnya dibukanya setiap notifikasi yang masuk pada hp yang masih tergenggam di tangannya.


Tiba2 matanya membelalak, melihat satu nomor yang ada disana. Keningnya berkerut penuh tanda tanya.


Dan dalam hitungan detik, dia mulai menyelami apa yang tertulis dengan ekspresi yang sangat sulit di artikan.


"Elzata kamu kenapa?", Ara yang melihat ekspresi Elzata yang tiba-tiba berubah bertanya penasaran.


"Ga papa ra, aku duluan ya? Kalau Ega balik, bilangin suruh balas WA ku", Elzata menjawab sambil beranjak keluar.


Setengah berlari, Elzata keluar dari sekretariat BEM Universitas itu menuju tempat parkir yang tepat berada di depan gedung. Dibukanya pintu mobil, dan segera dia menghambur ke dalam.


Gumpalan kapas hitam yang berarak mengiringi laju mobil Elzata siang itu. Tak seperti biasanya yang putih bersih menghiasi langit biru, gumpalan kapas itu lebih memilih warna hitam keabuan tanda sebentar lagi akan turun hujan.


Mungkin seperti itu juga suasana hati Elzata saat ini, entah mengapa setelah menyelami sebuah pesan yang baru saja dibacanya.


Sesampainya di rumah, dia segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Diraihnya hp yang ada dalam tas nya, dibacanya lagi sebuah pesan dari seseorang yang membuat dia gelisah.


Ada nama Tede disana. Ketika nama itu disentuh, segera saja akan muncul sebuah foto pernikahan, diikuti sebuah pesan "kamu inget ga sama istriku? Dia teman sekolah mu dulu bukan?"


Ya. Itu adalah foto pernikahan Tede dengan Wulan, teman satu kelas saat Elzata kelas 3 SMA dulu.


Tede adalah mantan kekasih Elzata, meski dia sendiri tidak tahu kapan pastinya status pacar berubah menjadi mantan karena hingga saat ini baik Tede maupun Elzata tidak pernah menyampaikan kata-kata perpisahan. Bahkan hampir 4 tahun berlalu tanpa mereka saling sapa atau berbasa-basi untuk sekedar memastikan siapa Tede bagi Elzata dan siapa Elzata bagi Tede.


Seharusnya Elzata tidak sesedih itu. Harusnya dia sudah sangat siap kalau hal seperti ini akan terjadi. Sejak lulus SMA dan mulai masuk kuliah, Elzata memang sangat terosepsi untuk masuk dalam KAPN, organisasi mahasiswa yang memang sudah sangat keren sejak era reformasi itu. Dan karena aturan yang mengikat bahwa ketika sudah masuk KAPN tidak boleh berpacaran, maka memang Elzata sudah berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dengan siapapun, termasuk Tede.


Tede adalah laki-laki mapan yang menjalin hubungan sejak Elzata duduk di kelas 2 SMA. Dari segi usia, selisih mereka memang cukup jauh, terpaut 7 tahun. Makanya tak heran jika akhirnya dia menikah, daripada menunggu Elzata yang tak pasti dan mungkin mengingat umur yang semakin bertambah juga.


Tapi entah karena apa, melihat foto pernikahan itu hati Elzata teriris ngilu. Kristal-kristal bening itupun segera saja terjatuh dari sudut matanya tanpa bisa dibendung lagi. Berjam-jam dia menangis sesenggukan sambil menelungkupkan tubuhnya di atas bantal, menggetarkan seisi kamar tanpa ada yang datang untuk meringankan beban.


Ya, Elzata sangat tertutup terkait masalah percintaan kepada keluarga dan teman-temannya. Mama, Papa dan seorang kakak perempuannya tidak pernah tahu kisah percintaan Elzata. Yang mereka tahu, Elzata adalah gadis kuat yang tidak butuh orang lain. Masalah apapun selalu dia simpan dan selesaikan sendiri.


Tapi entah kenapa, kali ini dia menangis entah apa yang diratapinya. Yang jelas, kali ini dia harus berpikir dengan akal sehatnya.


"Kenapa aku nangisin dia sich", gerutunya, tanda kesal pada dirinya sendiri


"Bukannya sejak masuk KAPN aku sudah harus siap untuk semua ini?", Elzata menghibur diri.


Tak lama, dia bangkit dan menggeser tubuhnya hingga bersandar di ujung ranjang. Diraihnya hp dan segera saja dia asyik memainkan jemarinya.


"Aku harus mengatakan sesuatu padanya, untuk yang terakhir", batinnya dalam hati

__ADS_1


Tak selang berapa lama, Elzatapun sudah larut dengan kalimat demi kalimat yang dia tuliskan sendiri di hp nya.


*Tede,,,


Terakhir kita bertemu,


Kurasakan tatapan itu menusuk tajam jantung ku


Terlihat jelas bulir-bulir kesedihan mengalir dari sudut matamu


Jika itu karena aku, maafkanlah...


Hampir Empat tahun berlalu tanpa kuucap kata


Hanya ku bebankan padamu rasa tak sempurna yang ku cipta


Aku tahu senyum manis di bibirmu sebenarnya pahit


Nampak bagiku kesedihan itu di wajahmu.


Dan jika itu karena aku, maafkanlah...


Telah ku gores luka pada setiamu karena diamku


Maafkan aku, Jika cinta itu tak seindah harapanmu


Aku tahu, tak ada yang salah dengan pertemuan kita


Namun hidup memanglah misteri


Meski kau bukanlah yang pertama singgah dan menghadirkan rasa


Tapi sejauh ingatanku, hanya pada dirimulah aku pernah merasa begitu jatuh dalam pusaran cinta


Aneh memang, bagaimana rasa untukmu bisa tercipta begitu sempurna


Pikirku, Tuhan memang menghadirkanmu untuk menjadi cerita yang berakhir dengan cara yang tak bisa kuduga


Namun karena pilihanku waktu itu...,


Kan kubiarkan Kau hanya menjadi cerita terindah yang pernah kutemui, sekalipun tak akan pernah bisa dimiliki.


Semua tentang kita hanyalah lakon kehidupan, sebuah kepingan cerita dari Dia yang telah menciptakan.


Pun jika kita merasa punya otoritas atas diri kita, tetap saja ada bagian cerita yang tak mungkin bisa kita kendalikan sepenuhnya.

__ADS_1


Termasuk tentang sepenggal kisah kita yang terjadi begitu saja, perkenalan sederhana yang ternyata mampu hadirkan rasa yang luar biasa.


Tak ada yang salah memang


Aku pun hanya bisa menerima segala rasa yang tak pernah aku undang


Dan bukan salahmu jika kini aku harus terluka,


Karna aku adalah orang yang cukup keras kepala untuk memperjuangkan segalanya.


Pada akhirnyapun, ku tersadar bahwa luka ini haruslah aku yang menanggung


Tede,,,


Aku tahu kau berhak bahagia


Meski duniaku terasa berakhir saat kabar itu benar-benar di depan mata


Rasanya sulit memang,


Tapi aku cukup dewasa menerima, meski lukaku sebenarnya belum kering juga.


Aku dan kamu adalah sekelumit cerita masa lalu, biarkan kisah itu melebur bersamaan dengan berjalannya waktu.


Aku tak akan terpuruk melihatmu pergi, Menghidupi mimpi dan cita-citaku sendiri.


Dan aku akan bahagia untukmu Tede,,,


Di hari pernikahanmu


Diantara tirai-tirai kerinduan,


Kurahap kau bahagia bersamanya


Selalu, untuk selamanya*


***


Tak membaca lagi pesan yang ditulisnya, Elzata langsung mengirimkan pesan itu. Setelah terkirim, dia langsung memblokir nomor itu agar tidak ada balasan pesan yang masuk.


Tekadnya sudah bulat, akan dikuburnya dalam-dalam sketsa rasa dalam diri Elzata kepada seorang Tede yang telah cukup lama hadir dalam hidupnya, meski dia tinggalkan begitu saja sejak lulus SMA. Inilah akhir dari hubungan tanpa kata, yang benar-benar tandas pada akhirnya. Ya, untuk selamanya.


Setelah itu, ditinggalkan hp yang berada disampingnya. Diambilnya bantal yang sedari tadi dia pakai untuk bersandar. Direbahkannya tubuh itu hingga akhirnya terlelap.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2