
"Nich", gumam Ega sambil mengembalikan HP Elzata yang masih kesal dengan kelakuan rekannya itu. Sebelum Elzata mengatakan apapun, Ega langsung menjelaskan apa yang dia lakukan pada HP Elzata tanpa dia meminta.
"Sudah kuhapus nomor Tede. Sudah kuhapus juga seluruh riwayat chatt kamu dengan dia. Sudah kuhapus foto itu dan sudah kuhapus pesan kamu yang salah kau kirim ke nomorku",
"Tak perlu ada kata terakhir untuknya, Zata. Biarkan dia tahu kalau kau gadis kuat yang tak mampu kalah dengan apapun yang dia buat"
Elzata hanya mematung mendengar apa yang disampaikan Ega. Bulir-bulir bening dari ujung matanya tak berusaha dia tahan di hadapan rekan seperjuangannya itu. Tak ada gengsi, tak ada caci maki dan tak ada satu katapun aksi ngeyel seperti yang biasanya dia lakukan terhadap seorang Ega.
Ega benar, tak seharusnya Elzata meratapi diri. Selama ini dia sudah tumbuh menjadi gadis kuat demi mengejar cita-cita dan obsesinya menjadi pejuang hebat. Meski cinta itu adalah fitrah dari Yang Maha Membuat, tapi tak seharusnya dia larut dalam lemahnya hati demi menyelami bahtera cinta yang tak dapat dia miliki.
"Kamu benar, Ga"
Elzata tersenyum dan menyeka kasar air mata yang membasahi pipinya.
"Konyol jika aku kirim pesan itu kepadanya",
Ega mengangguk tanda setuju
"Dasar cengeng", kata Ega mencairkan suasana
"Apa?"
"Iya cengeng banget sich kamu. Dikejar-kejar polisi aja suka. Masak kayak gitu aja nangis",
Balas Ega sambil beranjak menuju mobilnya. Dilambaikan tangannya dan dikepalkan ke atas seolah memberi transfer energi luar biasa pada seorang Elzata.
Melihat kelakuan rekan seperjuangannya itu, Elzata tersenyum kemudian membenamkan diri kedalam pintu yang langsung dia tutup dari dalam.
__ADS_1
***
"Makasih ya ga"
Sebuah pesan masuk melalui pribadi massanger Ega. Dilihatnya nama Elzata ada disana.
Ega tersenyum, dan memikirkan kembali apa yang baru saja dia ketahui dari sisi lain seorang Elzata. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Elzata menangis. Dari untaian kata yang dia sampaikan untuk Tede yang dia baca, terlihat ada kelembutan disana. Kesan gadis egoispun sirna begitu saja.
Melihat Elzata yang dia kenal selama ini, semua orang pasti akan menebak bahwa dalam posisi dia yang ditinggalkan kekasihnya, pasti yang tersulut adalah sisi-sisi emosinya. Meski sejak Elzata masuk KAPN sudah tidak pernah berkomunikasi, namun orang lain pasti akan berpikir bahwa umpatan kasar, atau gebrakan pintu, atau suara hp yang di banting, atau bahkan bisa saja kekacauan yang akan Elzata buat langsung di depan Tede dan istrinya yang tak lain adalah teman SMA nya itu pasti tak dapat dihindari.
Tapi ternyata Ega salah. Dibalik kuatnya seorang Elzata, dia tetaplah gadis lembut yang penuh rasa cinta.
Malamnya Ega tak bisa memejamkan mata. Isi pesan untuk Tede dan tangisan Elzata datang silih berganti bagai slide yang tak ada habisnya. Entah karena apa, tapi Ega tak bisa menghentikan putaran kata dan wajah Elzata dari matanya, sampai pagipun tiba.
***
Hingga tak terasa, hari dimana kegiatan bakti sosialpun tiba.
Selain jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa yang dipimpin Ega, para aktivis kampus yang lainnya pun rela menjadi relawan yang siap berjibaku melakukan pelayanan kepada masyarakat. Ada pemeriksaan kesehatan gratis, ada bagi sembako, ada pasar baju murah, ada juga berbagai lomba untuk anak-anak kampung yang jarang sekali menjangkau kehidupan kota. Tentu sangat menguras energi bagi siapa saja yang terjun di dalamnya.
Saat-saat seperti ini, biasanya Elzata dan Sera dengan lincah akan membantu selesaikan semuanya. Tapi berbeda dengan hari ini. Sampai seluruh tim akan berangkat ke lokasi bakti sosial, Elzata belum juga menampakkan batang hidungnya. Sera yang telah sampai lebih dulu, beberapa kali menghubunginya tapi tak membuahkan hasil.
Entah kenapa Ega gelisah. Seperti ada sesuatu yang kurang tanpa kehadiran Elzata. Dirogohnya saku kanan celana lapangan yang membalut Ega hingga tampil lebih menawan itu, diambilnya hp yang dari tadi bersemayam disana. Dia memeriksa beberapa notifikasi, dan dia mendapatkan nama Elzata disana.
Senyum tipis tak bisa Ega sembunyikan melihat Elzata menghubunginya melalui sebuah pesan. Namun ketika membaca isi pesannya, tiba-tiba wajahnya berubah. Mendung itu tak bisa ia sembunyikan.
"Ga, aku ga bisa ikut hari ini. Semalam papa jemput aku pulang ke rumah"
__ADS_1
"Kamu baik-baik aja kan Za?"
"Ambruk aku Ga, demam tinggi. Aku istirahat dulu di rumah ya. Besok kalau dah oke aku gabung lagi. Salam buat yang lain"
"Oke Za, cepat sembuh ya"
Ega segera mengunci layar hpnya dan memasukkan kembali ke saku celana kanannya. Akhirnya kegiatan hari itu tetap berjalan tanpa Elzata.
***
Papa Elzata adalah pejabat daerah di sebuah kota yang berjarak dua jam dari kampus. Karna jika bolak-balik rumah - kampus dirasa terlalu jauh dan energi Elzata hanya akan habis di jalan, maka orang tuanya memutuskan untuk mengontrak rumah yang bisa dipakai dia dan teman-temannya.
Orang tuanya pun sangat mendukung semua aktifitas Elzata di kampus. Prinsipnya, selama tidak mengganggu kuliah, kenapa tidak. Bahkan boleh dibilang orang tuanya bangga dengan apa yang dilakukan putri bungsu mereka itu. Apalagi jika ada stasiun tv yang meliput, atau media massa yang memampang foto Elzata saat berorasi, dengan bangganya orang tuanya akan bercerita pada saudara atau koleganya. Meskipun orang tuanya sering mengeluh karena Elzata jarang pulang, tapi dia membiarkan putri bungsunya itu larut dalam sebuah kata yang sering dia sebut sebagai perjuangan.
Namun jika Elzata sudah sakit, maka orang tuanya akan segera datang menjemput. Selain khawatir, setidaknya mereka bisa mengambil kesempatan untuk melepas rindu. Sebab hanya karena sakit itulah Elzata bisa diam dan menghabiskan waktu di rumah. Jika sehat, jangan harap.
Saat itu Elzata sedang terbaring lemah di tempat tidur rumahnya. Setelah dokter datang dan memeriksanya, dia minum obat dan terlelap. Ketika dia bangun, dilihatnya banyak sekali notifikasi pesan yang masuk.
Rekan-rekannya sudah ramai sedari tadi menanyakan kondisinya, atau sekedar mendo'akan untuk kesembuhannya. Ada juga yang heran, "kamu bisa sakit juga Za?"
Elzata tersenyum bahagia membaca pesan-pesan temannya yang begitu perhatian itu. Tapi entah kenapa, dia masih mencari-cari pesan yang lain yang entah pesan dari siapa yang diharapkannya.
Dia terus saja menaik turunkan layar hp nya mencari sesuatu. Ketika yang dicari tak kunjung tiba, dimatikannya hp itu dan dia segera tidur kembali. Tak seberapa lama dilihatnya lagi hp itu, dan tanpa hasil. Pesan yang diharapkan datang tak muncul juga. Beberapa kali dia melakukan hal yang sama, seolah berharap nama seseorang akan segera muncul dan memberikan pesan untuknya.
Dia mendengus kesal, sebelum akhirnya hp nya bergetar. Sebuah nama muncul dan entah mengapa jantungnya berdegup kencang. Ya, benar,,,, pesan itu dari Ega. Nama yang dari tadi dia tunggu, dan ternyata mampu membuat hatinya bergetar.
BERSAMBUNG
__ADS_1