CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Ungkapan Rasa


__ADS_3

*Tegarkan dirimu kawan,,,


Meski itu hanya kepura-puraan


Kuatlah agar dia yang mengecewakanmu tidak tertawa


Kuatlah agar mereka yang mencintaimu tidak kecewa


Untuk mu yang masih bisa tersenyum ditengah sayatan luka, ku katakan bahwa aku bangga*.


Sebait kata dari seorang Ega yang menjadi energi luar biasa buat Elzata. Entah karena untaian kata yang tertulis indah disana, atau karena pemilik pesan yang memang tlah lama di nantikan. Yang jelas, semua rasa tiba-tiba hadir begitu saja. Sebuah rasa untuk teman seperjuangan yang membuat jantung berdegup kencang. Rasa apakah ini?


Apapun rasa itu, ada peraturan yang sudah mengikat. Sedikit saja Elzata memanjakan diri dengan segala rasa dihatinya, maka mimpi yang selama ini dia rajut untuk menjadi orang besar yang hebat akan sirna begitu saja.


Karna seorang Elzata cukup tahu diri. Bahwa sejak pertama kali dia masuk dalam Kesatuan Aksi Pewaris Negeri, dia sudah terikat dengan semua aturan yang berkonsekwensi. Jika komitmen itu luntur begitu saja, maka bukan hanya sanksi sosial yang akan diterima, namun seluruh jaringan akan tertutup dengan sempurna.


***


Sementara di tempat terpisah, Ega benar-benar merasa gelisah. Dilihatnya berkali-kali nama Elzata di layar hp nya. Ada secercah harap, pesan yang telah Elzata baca segera berbalas pesan serupa. Apapun itu, yang jelas hati kecilnya mengharapkan sesuatu.


Dan pesan itu benar-benar terbalaskan. Dengan bahagia segera dibukanya pesan yang masuk, benar dari Elzata.


"Makasih pak presiden"


Sebuah kata singkat yang mungkin tak sesuai yang di harap. Ada gurat kecewa di wajah Ega yang terlihat ketika membacanya. Senyum yang sempat merekah, tiba-tiba hilang begitu saja.


"Kenapa sich aku. Memang jawaban apa yang ingin aku lihat. Puisi cinta begitu?Huhhhhh"


Ega mengutuki dirinya sendiri entah kenapa. Dalam hati kecilnya, dia ingin Elzata membalas dengan bait kata serupa. Seperti untaian kata untuk Tede ketika itu. Sebuah rasa yang diungkapkan dengan berbait kata. Tapi sudahlah. Mungkin Ega terlalu banyak berharap. Apa yang dia rasa, belum tentu Elzata merasakan hal serupa.


Ega cukup tahu diri dan sangat mengerti bagaimana konsekwensi jika mereka akhirnya bersama. Tentu tak akan baik untuk Ega dan juga Elzata. Apalagi melihat kehebatan dan perjuangan seorang Elzata dalam mengejar obsesinya, tentu bukan hal yang mudah untuk memutuskan meninggalkan semuanya.


Masih terekam jelas dibenak Ega, bahkan Elzata rela meninggalkan cintanya untuk bisa mengejar cita-citanya. Meskipun, pada akhirnya Elzata juga yang tersakiti ketika seorang Tede yang sebenarnya adalah korban dari keegoisan Elzata, lebih memilih menyakitinya.


Lantas, jika waktu itu Elzata lebih memilih berjuang di KAPN dan meninggalkan Tede, mengapa Ega akan sepercaya diri itu bahwa Elzata akan memilih Ega dan meninggalkan KAPN?


Huhhhh, mengapa serumit ini.


***

__ADS_1


Tak terasa fajar tlah berganti pagi. Senja yang kian menjingga juga berganti dengan senja yang berbeda. Dan hari itu Elzata sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Sejak Ega mengirim pesan indah itu, mereka memang tak lagi saling berkirim pesan entah mengapa. Baik Ega maupun Elzata sama-sama berpikir bahwa mungkin rasa itu adalah emosi jiwa sesaat yang menggelapkan mata.


Bagaimana mungkin ada secercah harapan untuk mereka berdua, sementara Elzata sudah terikat janji dengan segala aturan organisasi yang selama ini menaungi. Biar bagaimanapun, dia tak akan siap dengan sanksi sosial yang menanti.


Kriiiiiiinggggg,,,,


Tiba-tiba ada panggilan masuk. Ada nama Sera disana.


"Hallo, Ser"


"Zata, kamu sudah sembuh ya? Maaf ya, kemarin aku, Ega, Barra dan Galih mau jengukin kamu. Tapi dijalan kami tabrakan. Mobil Ega rusak jadi kita putuskan untuk balik"


"Apa? Terus gimana? Ada yang terluka nggak?"


"Nggak ada Za, cuma mobil Ega aja yang rusak"


Mendengar apa yang disampaikan Sera, langsung saja Elzata memutuskan telphonnya dan langsung beralih ke nomor Ega. Meski pada awalnya ragu antara telphon atau mengirim pesan, namun akhirnya jari Elzata menari-menari hingga sebait kata tertulis begitu saja...


*Terima kasih kawan,,,


Kau selalu hadir dalam senang dan laraku


Untuk semua yang telah kau lakukan


Hingga senyumku muncul kembali


Seperti mentari yang malu-malu di pagi hari hari*


Entah mengapa baik Elzata yang menulis pesan maupun Ega yang menerimanya sama-sama menyimpan rasa yang terpendam. Apapun rasa itu, harapan demi harapan diam-diam mereka susun dalam kata hati yang mendalam. Takut asa itu tiba-tiba menghilang, Sisi-sisi egoisme untuk memperjuangkan rasa yang ada semakin kencang hingga seolah siap menerjang badai yang menghadang.


Seorang Ega yang terkenal perfect dalam segala hal hingga terkadang mengesampingkan sisi-sisi kemanusiaan, bisa meruntuhkan pertahanan seorang Elzata yang terkenal garang. Kemanakah rasa ini akan berlabuh? Hanya Tuhan yang tahu.


Sejak saat itu, mereka lebih sering saling berkirim pesan. Ada saja alasan yang membuat mereka membuka percakapan. Meski yang mereka bicarakan tidak pernah lagi urusan pribadi, tetapi sehari saja tak ada yang menghubungi sudah membuat tak nyaman di hati. Baik berawal dari Ega maupun Elzata, tapi setiap ada nama yang muncul dalam layar mereka pasti debaran di dada selalu saja bergejolak. Bahkan apa yang dikatakan tak lagi penting untuk mereka. Asal mereka saling berkirim pesan dengan apapun yang mereka bicarakan, selalu saja membuat mereka tertawa riang.


Hingga hari dimana mereka saling tak bisa menahanpun datang. Sebuah pesan tak biasa saling mereka kirimkan.


*Ku tak tahu, dari mana harus kumulai cerita ini


Ketika rindu itu perlahan mulai berhembus di hati

__ADS_1


Aku yang selama ini mencintaimu dalam diam


Menahan kesyahduan yang kian tak teredam


Ingin sekali ku katakan padamu


Meski sekedar menyapa pun aku tak mampu


Bahkan sedikit daya yang ada memilih sirna begitu saja


Anginpun membisu


Ketika aku mengadu tentang dirimu


Mungkin bagiku kau sekedar tahu


Bahwa bahagiaku ketika mengukir namamu di dalam hatiku


Ega*


***


*Akan kusimpan rasa itu untukmu


Jika Tuhan memang takdirkan kita bisa bersama, maka suatu saat nanti kita tak perlu memendam rasa


Aku akan menunggu dengan setia,


Ketika hari itu kau dan aku akan menjadi kita


Elzata*


***


Dan semua kata itu mampu mengalahkan seluruh ketakutan yang ada. Baik Ega maupun Elzata benar-benar terhipnotis dengan untaian kata yang ada di depan mereka. Jantung mereka berdegup kencang. Bayangan kebersamaan diantara merekapun tak bisa mereka hilangkan.


Mereka mulai menata hati. Jika semua benar-benar akan terjadi, maka mereka harus tetap meyakinkan diri. Yach, apapun keputusan mereka nanti, ada sebuah konsekwensi yang sudah menghantui.


Apakah mereka telah siap menerima sanksi? Kita lihat saja nanti.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2