CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Pemakaman Papa


__ADS_3

Semua orang yang ada di dalam rumah Elzata terlihat terisak melihat Elzata datang. Melihat itu semua, semakin ke dalam Elzata semakin mempercepat langkahnya.


"Dimana mama?"


"Dimana Papa?"


"Dimana kakak?"


"Kenapa semua orang pada disini?"


Elzata mulai tak tenang. Omongannya semakin ngawur dan tidak bisa terkontrol. Air matanya sudah mulai berurai deras, karena menebak-nebak apa yang sudah terjadi dengan keluarganya.


Tak berapa lama, sampailah Elzata di ruang tengah. Disana terlihat seseorang sudah terbujur kaku, di tutup dengan sebuah kain hingga menutupi kepalanya. Disampingnya ada mamanya, kakak dan kakak iparnya, keponakannya serta keluarga Elzata yang lain.


Elzata mendekat, menghampiri sosok yang terbujur kaku dihadapannya itu. Dibukanya kain yang menutupi seluruh tubuh sosok itu, dan ketika terbuka sedikit, terlihat wajah papa yang tersenyum sambil memejamkan matanya. Menyadari orang yang dia cintai dihadapannya itu sudah tiada, tiba-tiba dadanya terasa sesah, semua menjadi gelap dan setelah itu Elzata tidak tahu lagi apa yang terjadi.


***


Rahardian, ayah Elzata adalah salah satu tokoh publik di kotanya. Dia adalah seorang politisi dari sebuah partai politik dan sekarang menjadi Anggota Dewan yang terhormat di kota itu.


Nama Rahardian cukup dikenal masyarakat sebagai sosok yang ramah dan dekat dengan rakyat. Perjuangannya untuk bisa memperjuangkan masyarakat kalangan bawah, membuat masyarakat hingga daerah terplosok di kota itu sangat dekat dengannya.


Tak heran, jika jiwa kepemimpinan Elzata terlihat sangat menonjol, itu semua karena menuruni apa yang dimiliki Papanya.


Dan kini, tokoh politik yang cukup diperhitungkan di kotanya itu meregang nyawa setelah terkena serangan jantung saat hendak berangkat dinas ke luar kota.


Tentu semuanya syok mendengar berita kematiannya yang tiba-tiba. Dan kota itu seolah kehilangan sosok pengayom, yang selama ini gigih memperjuangkan hak-hak rakyat jelata.


***


Setelah diolesi minyak dan bau-bauan, Elzata yang kini terbaring di kamarnya didampingi beberapa kerabatnya itu akhirnya tersadar. Cukup lama, dia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum akhirnya beranjak dan menghambur ke arah jasat papanya.

__ADS_1


"Paaa..., Papa...., bangun Paaaa", panggil Elzata, seraya memohon agar Papa nya kembali


"Kalau Papa tidak mau bangun, bagaimana dengan Elzata Paaaa..., Papa bangun. Zata mohon Paa... Papaaaaa", Elzata terus menangis sehari-jadinya. Semua yang berada di rumah itu sampai tidak bisa berkata apa-apa. Semua terisak, sampai pagi pun tiba.


"Za, udah sampai rumah? Semua oke kan?", sebuah pesan yang sejak dini hari masuk ke ponsel Elzata, namun baru shubuh dibacanya. WA dari Ega.


Elzata yang sudah mulai bisa menenangkan diri itu akhirnya menangis lagi, sambil menggerakkan jemarinya membalas pesan dari Ega.


"Papa meninggal, Ga", pesannya singkat.


Ega yang berada di seberang sana langsung memencet tanda panggil kepada Elzata, berharap Elzata nengangkatnya dan bisa tenang dengan support yang akan Ega berikan.


Namun Elzata yang melihat panggilan dari Ega masuk justru merijectnya, dan menulis pesan,


"Chatt aja, Ga. Please. Aku nggak kuat"


"Oke, sayang. Yang sabar ya. Do'a terbaik untuk Papa kamu. Aku akan segera meluncur kesana. Mungkin nanti malam aku baru nyampek"


"Makasih, Ga. Kamu tidak perlu kesini. Aku tidak tau reaksi mama akan seperti apa ketika melihat kedatangan kamu nanti. Mama pasti akan berpikir kemana-mana dan sangat bersedih karena akan mengingat papa dan rencana kita secara bergantian. Aku mau mama kuat dan merelakan papa dulu sebelum berpikir yang lain-lain"


"Iyaa", jawab Elzata sambil menyeka air matanya yang sedari tadi tidak mau berhenti.


***


Ribuan pelayat datang ke rumah Elzata. Semua pejabat di kota itu, sanak saudara, semua teman dan sahabat Elzata di kampus, rela jauh-jauh datang demi mengantar Jasad Papa Elzata di peristirahatan terakhirnya, serta memberikan energi bagi keluarga yang ditinggalkan.


Tentu semua yang hadir takjub dengan pemandangan yang ada di depan mereka. Banyaknya pelayat yang datang membuat mereka semua berpikir, bahwa begitu banyaknya orang yang mencintai sosok Rahardian semasa hidupnya, hingga ingin mengantarnya untuk yang terakhir kali sampai peristirahatan terakhir.


Elzata melihat mamanya, menghampiri, mencium dan memeluknya, memberikan energi agar mamanya kuat menghadapi semuanya.


Elzata sangat tau, bahwa mamanya yang hanya seorang ibu rumah tangga sangat menggantungkan dirinya kepada Papa dalam segala hal. Bahkan mamanya tidak pernah berada jauh-jauh dari Papa dalam waktu yang cukup lama. Jika Papanya harus ke luar kota sekalipun, sang mama selalu ikut untuk pendampingi.

__ADS_1


Dan kepergian papanya ke luar kota sebelum akhirnya meninggal adalah kali pertama sang papa pergi tanpa mamanya. Makanya bisa dibayangkan bagaimana perasaan mama Elzata, ketika mendapati suaminya pulang dalam keadaan sudah menjadi jenazah, karena ketika berangkat kondisinya masih sehat wal afiat.


Pemakaman pun berlangsung dengan sangat khidmad. Semua yang datang tidak mampu menyembunyikan kesedihan mereka yang mendalam.


Hingga akhirnya satu per satu teman, saudara dan sahabat yang hadir di acara pemakaman itu pamit pulang, meninggalkan keluarga Elzata dan menyimpan seluruh kenangan akan seorang Rahardian dalam hati mereka.


Elzata memapah mamanya hingga masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sementara kakaknya sibuk dengan anaknya yang masih balita dan beristirahat di kamarnya sendiri.


Elzata melihat kesedihan mamanya yang begitu dalam. Meski mamanya sudah tidak menangis lagi, tapi dia bisa melihat dari tatapan matanya yang seolah kosong. Ketika sang mama memejamkan mata pun, gurat di wajahnya tidak mampu menyembunyikan kepedihan yang dia rasakan.


Tentu hal ini adalah hal terberat yang harus dihadapi mamanya selama hidup. Kehilangan orang yang paling dicintainya, yang berjuang bersama hingga sampai di titik ini dan yang selalu bersamanya dalam segala suka dan duka.


Mungkin separuh nafasnya kini hilang bersama dengan kepergian papa yang membawa sejuta kenangan.


Sambil terus mengusap punggung mamanya dengan lembut, pikirannya berlarian kemana-mana.


Kini, dia adalah satu-satunya orang yang harus menjaga mamanya, karena sang kakak sudah memiliki kehidupan sendiri bersama suami dan anaknya.


Pikirannya pun terus memutar, berpikir setelah ini apa yang harus dia lakukan.


Bagaimana dia harus menjaga mamanya menggantikan sang papa?


Bagaimana dia harus menghidupi keluarga ini sepeninggal papa?


Bagaimana dengan wisudanya yang tinggal menghitung hari?


Bagaimana dengan rencana lamaran yang sudah dipersiapkan?


Bagaimana dengan rencana pernikahan dan rencananya untuk mengambil S2 di Jepang?


"Ahhhhh, aku harus mulai dari mana", jerit Elzata dalam hati, sampai akhirnya dia tertidur di samping mamanya, dengan segala rasa galau yang masih menari-nari di benaknya.

__ADS_1


Akankah Elzata bisa melalui semuanya? Bisakah dia memikirkan kebahagian mamanya dan kebahagiaan dirinya sendiri tanpa ada yang harus tersakiti?


BERSAMBUNG


__ADS_2