CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Babak Baru


__ADS_3

Acara wisuda yang penuh haru biru itu akhirnya berlalu. Ega kembali ke ibu kota bersama keluarganya, sementara Elzata dan Sera kembali ke kotanya masing-masing bersama keluarganya juga.


Tak ada kata, tak ada tanya dan saling sapa antara Ega dan Elzata, hanya isyarat mata saja yang mampu mereka lakukan di hari bersejarah itu. Namun entah mengapa, semuanya sudah cukup mewakili semua rasa yang bersemayam di dada mereka. Hanya dengan pandangan mata, seolah beribu kata sudah terucap dan menancap dalam hati mereka berdua.


Dan hari bersejarah itu adalah hari dimana mereka bertiga benar-benar akan membuka lembaran baru. Ega fokus persiapan ke Jepang, sementara Sera dan Elzata fokus menjalani hidup mereka di kota masing-masing, sambil sesekali masih bolak-balik ke KAPN karena kelulusan tidak membuat mereka otomatis keluar dari organisasi.


***


Babak baru perjuangan Ega dan Elzata dimulai. Saat yang ditunggu-tunggu Ega untuk berangkat ke Jepang akhirnya datang juga. Namun entah kenapa, ada perasaan yang sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.


Ada rasa yang membuncah karena mimpi akan segera terealisasi, tapi ada sesak di dada karena harus meninggalkan gadis yang dicintai berjuang untuk hidupnya sendiri.


Dan hari dimana kata perpisahan harus terucap itu pun akhirnya tiba. Dengan ragu, Ega meraih ponselnya dan mencari nama Elzata disana. Di tatapnya foto dan nomor gadisnya itu cukup lama, seolah ragu akan berkata apa. Apa gadisnya kuat? Ahhh..., apa dirinya juga kuat. Entah apa yang dirasakan Ega waktu itu, yang jelas semua rasa bercampur menjadi satu.


"Iya, Ga", suara Elzata di seberang sana sudah terdengar bergetar, seolah tahu kata-kata perpisahan yang akan diucapkan Ega.


"Hallo sayang? Kok nggak semangat gitu? Semangat dong, biar aku juga semangat!", ucap Ega, berusaha mencairkan suasana.


Tapi tak terdengar apapun dari mulut Elzata selain isak tangis yang semakin lama semakin terdengar keras itu.


Beberapa lama, Ega hanya diam menunggu dan mendengarkan tangis Elzata hingga gadisnya lebih tenang.


"Udah dong nangisnya, sayang. Aku kan pergi untuk kembali. Dua tahun bukan waktu yang lama kalau kita ikhlas melewatinya. Kamu tinggal bikin jadwal mau aku telpon jam berapa setiap harinya, atau mau sehari berapa kali pun juga aku siap"


"Tapi aku nggak mau nunggu lama-lama", Elzata mulai merengek manja.


"Atau kita nikah aja, aku nggak jadi berangkat?"

__ADS_1


"Bukan gitu"


"Terus?"


"Aku juga nggak tahu"


"Kamu pasti mikirnya macam-macam dech. Udah percaya sama aku. Tidak akan pernah ada gadis lain selain Elzata Sabrina Rahardian di dalam hatiku. Dan nama itu juga yang akan aku sebut dalam ijab kabul pernikahanku nanti"


"Janji?"


"Iya janji, sayang. Jadi sekarang ikhlaskan aku pergi ya? Jaga dirimu dari siapapun yang mendekatimu. Ingat, semua yang ada padamu itu, semua milikku. Jaga baik-baik"


"Iyaaa"


Setelah percakapan itu, akhirnya Ega bisa bernafas lega dan pergi tanpa meninggalkan luka.


Ega pun sangat yakin bahwa Elzata akan bertahan dari apapun juga untuk menunggu Ega hingga kembali dan mereka bisa bersama.


Walaupun hubungan mereka tidak seperti hubungan kekasih hati pada umumnya, namun mereka yakin bahwa ikatan hati mereka lebih kuat dari pada sekedar kontak fisik tak bermakna sebelum Sang Pencipta menghalalkan mereka berdua.


Ya. Mereka menjaga kesucian cinta mereka dengan cara yang penuh adab. Cinta di dunia maya yang akan lebih indah dari pada cinta di dunia nyata yang hanya mengumbar nafsu belaka. Dan selama ini, cinta mereka justru semakin kuat meskipun hanya sekedar pesan dan panggilan suara yang jadi perantara diantara mereka berdua.


***


Lain Ega, lain juga Elzata. Mereka digariskan untuk berjuang dengan cara mereka masing-masing. Ega berjuang melanjutkan studynya di Jepang, sementara Elzata berjuang untuk melanjutkan hidup dan obsesinya.


Melalui keahlian lobby dan membina jaringan dengan para Alumni KAPN, akhirnya Elzata berhasil mendapatkan wakaf gedung yang bisa dia gunakan untuk aktifitas sosial dan pendidikan.

__ADS_1


Dia mengumpulkan beberapa mahasiswa yang baru saja lulus dan belum mendapatkan pekerjaan, dia jual satu mobilnya untuk menambah modal, dan berkat kerja kerasnya juga tim yang dibentuknya, akhirnya Elzata bisa mendirikan yayasan pendidikan dan mendirikan Islamic Boarding School setingkat SMP yang hanya dalam hitungan bulan saja semua sudah bisa berjalan.


Elzata pun tampil sebagai aktifis pendidikan yang mulai di perhitungkan di kotanya. Keberaniannya ketika di kampus dulu, tak berubah sedikitpun sehingga suaranya yang lantang dalam membela hak-hak tenaga pendidik pun menjadi sorotan pemerintah dan awak media.


Loncatan-loncatan pemikiran untuk dunia pendidikan juga dia tuangkan dan terapkan pada Islamic Boarding School yang dia dirikan. Meskipun dia sendiri tahu, bahwa hasilnya akan mereka lihat dalam beberapa tahun ke depan, namun secara konsep semua yang tahu pasti akan tercengang penuh kekaguman.


Dan kesibukan masing-masing ternyata membuat waktu berputar begitu cepat. Satu tahun berjalan membuat Ega maupun Elzata semakin hebat.


Mereka berkomunikasi setiap hari hanya untuk saling memberikan semangat, atau sekedar melepas rindu dan saling mengikrarkan cinta yang semakin lama semakin kuat.


Janji mereka untuk saling menjaga diri hingga hari pernikahan nanti pun mereka patri kuat-kuat dalam hati.


"Semua yang ada pada Ega adalah milik Elzata dan semua yang ada pada Elzata adalah milik Ega", itu adalah semboyan yang selalu mereka ucapkan setiap saat, sehingga janji setia itupun akan tetap kuat.


Namun benarkah tak ada godaan yang datang dalam kehidupan mereka?


Tentu saja ada. Baik Ega maupun Elzata sama-sama tidak pernah bercerita jika dalam hidup mereka selama satu tahun berjalan ada nama yang berusaha mengusik pertahanan cinta yang telah mereka ikrarkan.


Ada nama Sera yang tanpa rasa malu masih saja berjuang untuk mengukir namanya di hati Ega, dan ada nama Barra yang tiba-tiba ingin masuk dalam kehidupan Elzata.


Baik Sera maupun Barra benar-benar sudah mengesampingkan aturan organisasi yang sampai saat ini masih mengikat mereka. Kedewasaan dan kebutuhan untuk hidup ke jenjang berikutnya benar-benar sudah membutakan mereka dan membuat mereka fokus pada satu tujuan untuk mendapatkan cinta mereka.


Sera tak menyerah mengejar Ega meskipun dia tahu ada nama Elzata di tengah-tengah mereka. Sementara Barra yang tidak ada kecurigaan sedikitpun dengan hubungan Ega dan Elzata terus mendekati Elzata dengan cara apapun agar gadis itu mau menikah dengannya.


Apakah Ega dan Elzata bisa tetap bertahan?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2