
Setelah semua tamu pulang dan keluarga Ega kembali menuju ibu kota, Ega segera menarik tangan Elzata dengan mesra dan berjalan menuju kamar yang sudah disulap menjadi kamar pengantin yang didominasi warna pink dan dipenuhi dengan bunga di setiap sudutnya. Ketika mereka membuka pintu, segera saja aroma mawar yang khas memanjakan hidung mereka. Mata mereka pun termanjakan dengan dekorasi apik yang memenuhi semua sisi dinding kamar dan ranjang pengantin yang akan mereka gunakan untuk melepas segala kerinduan.
Ega yang masih menggandeng istrinya segera menarik Elzata masuk dan mengunci pintu, kemudian memposisikan tubuh mereka berhadapan, mengecup ujung kepala Elzata dan berbisik,
"Kita sholat sunnah dua rakaat dulu ya sayang"
"Aku mandi dulu, ya Ga"
"Masak kamu akan terus memanggilku Ega, sayang? Sekarang kan aku suami kamu"
"Terus aku harus panggil kamu apa?"
"Aku panggil kamu sayang, kamu panggil aku cinta. Oke?"
"Iyaa"
"Ayo panggil aku cinta!"
"I... iyaa..., cin... cinta..."
"Ulangi yang keras. Aku nggak denger!"
"Iya, cinta..., sekarang bolehkan aku mandi dulu, cinta.. ?"
Ega pun tersenyum lebar dan mengangguk. Matanya segera saja mengikuti gerakan Elzata yang mengambil beberapa lembar pakaian ganti di lemari dan menuju kamar mandi.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi pun terbuka. Elzata segera muncul dari balik pintu dengan pakaian lengkap dengan jilbabnya. Ega yang melihat istrinya yang terus menunduk pun segera menghampiri dan kembali mengecup ujung kepala Elzata dan sekali lagi berbisik,
__ADS_1
"Aku belum boleh lihat rambutmu?"
Melihat gerakan kepala Elzata yang menggeleng ragu, akhirnya Ega tergelak dan berkata,
"Ya udah, aku mandi dulu ya sayang?"
Elzata hanya mengangguk, kemudian segera mengenakan mukena dan menggelar dua sajadah di samping tempat tidurnya. Setelah Ega selesai, segera saja Ega berdiri di samping kanan Elzata, sementara Elzata berada di sebelah kiri Ega dengan posisi agak ke belakang. Mereka melaksanakan sholat sunnah dua rakaat. Sholat sunnah yang entah mengapa membuat keduanya terus mengeluarkan isak tangis tanpa henti hingga mereka mengakhirinya setelah rokaat kedua dengan salam. Untaian do'a pun segera mereka panjatkan, sembari memohon ampun dan meminta keberkahan.
Setelah mereka selesai, tiba-tiba adzan maghrib pun terdengar sehingga mereka langsung melanjutkan dengan sholat maghrib. Setelah salam kedua, Elzata mencium punggung tangan Ega dan segera saja disusul dengan kecupan di kening Elzata. Ega menggenggam erat tangan Elzata dan segera saja mereka membuat beberapa kesepakatan.
"Apa yang harus kita sepakati?", tanya Ega, sambil menggenggam dua tangan Elzata.
"Aku mau jadi satu-satunya istri. Kamu boleh menikah lagi, kalau aku sudah mati", Elzata menjawab dengan serius.
Hhhhh, Ega pun tergelak.
"Tidak ada malam pertama dan malam-malam selanjutnya"
"Apa? Baiklah baiklah", Ega segera saja menyanggupi permintaan istrinya, "Dari pada tidak dapat malam pertama", lanjutnya lirih.
"Apa?", Elzata yang mendengar suaminya bergumam berseru kesal.
Ega pun segera tergelak, tidak mampu menahan tawanya. Elzata yang merasa di goda, segera saja menghujani Ega dengan cubitan di beberapa bagian tubuh suaminya hingga gelak tawa segera memenuhi seluruh penjuru kamar. Mereka bahkan tidak peduli jika suara mereka bisa di dengar seluruh penghuni di rumah itu. Setelah keduanya capek, mereka pun melanjutkan dengan beberapa kesepakatan, baik itu dari permintaan Ega maupun dari permintaan Elzata.
Selepas sholat isya, Elzata kembali mencium punggung tangan Ega. Setelah satu kecupan di kening, Ega pun membelai kedua pipi istrinya dengan lembut seraya berkata,
"Bolehkah aku membuka penutup kepalamu dan melihat rambutmu?"
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan Elzata yang terus saja menunduk karena menahan malu, Ega segera membuka mukena dan hijab yang menutupi kepala Elzata. Begitu mukena dan hijab itu terserak di lantai, rambut panjang terurai begitu saja, mempercantik wajah ayu yang baru pertama kali Ega lihat setelah sekian lama mengenal wanita yang baru dinikahinya itu.
Ega mengangkat dagu Elzata yang masih tertunduk. Dipandanginya wajah itu dengan takjub, tak pernah menyangka bahwa istrinya jauh lebih cantik dari pada yang selama ini dia lihat. Dibelainya rambut itu dengan lembut, kemudian disisihkan di belakang telinga istrinya seraya berbisik,
"Kamu cantik sekali, sayang"
Mendengar bisikan mesra suaminya, Elzata hanya tersenyum malu kemudian menghambur begitu saja ke pelukan Ega. Ega pun mengajak istrinya berdiri dan melepas bawahan mukena yang sedari tadi masih terpasang. Setelah mukena terlepas, mereka berdiri berhadapan. Tak berapa lama, Ega mencium kening, kedua mata, kedua pipi dan berakhir dengan lumatan di bibir Elzata.
Dan entah bagaimana caranya, Ega langsung menggelar begitu saja tubuh Elzata di atas ranjang. Ega berkata, "kamu tau cinta itu letaknya dimana?", tanpa menunggu jawaban Elzata, Ega langsung melanjutkan, "cinta itu disini, disini, disini, disini, disini", sambil mengecup semua bagian tubuh Elzata tanpa membiarkan waktu sedikitpun kepada wanita yang sudah berada dibawahnya itu untuk berkata apapun, selain desahan dan erangan.
Namun dipuncak hasrat mereka malam itu, Ega tidak tega ketika melihat wanita yang sangat dicintainya begitu kesakitan, sehingga Ega mengurungkan niatnya untuk memasukkan tanda kejantanannya dalam tubuh Elzata. Dan malam pertama mereka pun tidak bisa mereka selesaikan.
"Cinta, aku tidak keberatan untuk menahannya jika kamu memang sangat menginginkannya", Elzata berusaha meyakinkan Ega.
"Aku tidak tega melihat kamu kesakitan, sayang", jawab Ega sambil mengalihkan tubuhnya di samping Elzata.
"Tidurlah, besok kita pelajari anatomi tubuh kita masing-masing agar kita tahu bagaimana caranya agar kamu tidak terlalu merasa sakit", lanjut Ega sambil mengecup bibir Elzata dan memeluknya.
Elzata yang melihat suaminya mengurungkan niatnya untuk memiliki tubuhnya seutuhnya itu sebenarnya merasa tidak enak hati. Apalagi suaminya hanya dua malam saja di rumah, sebelum akan kembali lagi ke Jepang. Namun meski Elzata terus meyakinkan Ega bahwa dia akan menahannya, rasa cinta Ega yang tidak sanggup melihat istrinya kesakitan itu mampu mengalahkan nafsu yang selama ini sudah tertahan sekian lama.
Dan malam itu, mereka hanya tidur berpelukan sampai pagi, tanpa meninggalkan noda darah sedikitpun di ranjang yang mereka naiki.
Begitulah Ega membuktikan bahwa cintanya kepada Elzata bukanlah cinta karena nafsu belaka. Baginya, cinta adalah ketika tidak ada air mata yang keluar dari ujung mata sumber cintanya. Cinta adalah ketika rasa kasihnya mampu mengalahkan hasratnya. Dan cinta adalah ketika kenikmatan itu bisa mereka rasakan bersama tanpa ada yang tersakiti.
Meski hasratnya malam itu sebenarnya tak tertahan lagi, namun Ega memutuskan untuk menundanya hingga malam akan berganti. Apakah ada rasa kesal dalam hati? Tak ada sedikitpun. Rasa cintanya kepada Elzata mampu mengalahkan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1