CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Kedatangan mama papa


__ADS_3

Malam yang melelahkan itu benar-benar terbayar dengan kesuksesan yang begitu memuaskan. Bahkan wajah-wajah lelah dan kurang tidur yang jelas tergambar, sama sekali tak menunjukkan berjuta beban. Semua tersenyum puas seolah kelelahan yang mereka rasakan tak sebanding dengan kebahagiaan setelah semua selesai hampir tanpa kekurangan. Semua saling memberi selamat, sebelum akhirnya mereka berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.


Paginya, tak seperti biasa orang tua Elzata tiba-tiba datang. Ada gurat kerinduan dari kedua orang tuanya itu, memang. Namun entah kenapa, Elzata merasa ada sesuatu yang berbeda. Tak biasanya Papa dan mamanya datang tanpa kabar dan tanpa alasan. Apa mungkin karena Elzata sudah lama tidak pulang? Entahlah. Elzata berusaha menenangkan diri meski rasa penasaran sudah sedari tadi tidak bisa dia tutupi.


Setelah berbasa basi sebentar dengan penjaga rumah dan istirahat beberapa waktu di kamar Elzata, orang tua Elzata akhirnya membuka pembicaraan. Mengingat Papanya tidak pernah seserius itu ketika berbicara kepadanya, Elzata mulai mendengarkan dengan hati yang entah kenapa tiba-tiba berdebar kencang.


"Sayang, semalam pak menpora telphon Papa selepas mengisi acaramu itu. Beliau sangat bangga melihatmu bisa mengimbangi apa yang disampaikannya pada ratusan mahasiswa yang datang dan menikmatinya sampai di penghujung acara. Saking bangganya sama kamu, beliau bicara sama papa bahwa beliau punya seorang anak, legislator muda di senayan yang ingin dijodohkan denganmu"


Melihat wajah Elzata yang setengah kaget namun tak menimpali perkataan Papanya sama sekali itu, akhirnya Papa melanjutkan.


"Pak mentri adalah teman papa waktu kuliah dulu. Entah informasi dari mana, ketika tahu bahwa moderator acara semalam adalah putri Papa, dia segera menelphon dan memintamu untuk mendampingi putranya. Dia legislator termuda di senayan. Karier politiknya bagus. Sangat cocok sekali denganmu, dan papa yakin dia akan sangat mendukung obsesimu"


"Pa....",


"Tolong pertimbangkan, sayang. Papa tidak enak pada pak menteri jika harus menolak"


Ada gurat-gurat penuh harap yang tergambar jelas di wajah kedua sosok sepuh yang ada di hadapan Elzata itu. Dan tanpa terasa, begitu saja kristal-kristal bening itu mengalir deras dari ujung matanya. Tak ada kata menolak, tak pula keluar kata setuju dari mulut Elzata.


Seperti bisa memahami apa yang dirasakan putrinya, Mama menepuk-nepuk bahu Elzata seolah ingin mentransfer energi yang luar biasa.


"Kita beri Zata waktu pap. Biarkan dia berpikir"


Akhirnya kedua orang tuanya pulang meninggalkan Elzata dengan perasaan yang gundah gulana.


Berjam-jam Elzata mematung di kamarnya, mencoba mencerna semua hal rumit yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Di satu sisi ingin sekali dia memenuhi permintaan orang tuanya, disisi lain dia mempunyai kidung cinta sendiri yang meskipun rumit namun selama ini mampu mengisi hari-harinya dengan penuh arti.

__ADS_1


Ya, di hatinya sudah terukir nama seorang Ega, yang meski masih harus berjuang untuk tetap bersama, namun pahatan nama di hatinya sudah sedemikan sulit untuk terhapuskan.


Jika dia menerima permintaan Papanya, tentu semua obsesinya akan berakhir mulus karna tak menyisakan masalah baik dengan orang tuanya maupun dengan aturan KAPN. Karna KAPN hanya mengatur tidak boleh pacaran, bukan tidak boleh menikah. Dan proses pernikahannya seperti apa dan dengan siapa, itu menjadi poin penilaian apakah komitmennya bisa terjaga atau tidak. Jadi jika akhirnya Elzata menikahi anak pak mentri, sosok yang tak dikenalinya sama sekali, dia akan lolos dari penilaian negatif KAPN dan bisa melanjutkan berjuang untuk meraih obsesinya dengan mudah.


Sementara jika dia mempertahankan Ega, dia akan mendapatkan nilai sebagai anggota KAPN yang melanggar aturan yang dipandang sangat memalukan.


***


Sementara di tempat terpisah, Ega yang masih begitu terpukau dengan penampilan Elzata di acara seminar semalam tak mampu membendung kerinduan yang tiba-tiba mengalahkan semua hal yang dia pikirkan. Mata dan kepalanya benar-benar dipenuhi oleh wajah Elzata yang berputar-putar dengan seluruh ekspresi wajah yang dia bayangkan. Karna tak tahan, panggilan suara pun segera Ega lancarkan.


"Iya, Ga"


Suara serak di seberang terasa bergetar, seperti suara orang habis menangis. Tanpa pikir panjang, Ega memutuskan panggilannya dan mengganti dengan video call.


"Za, kamu kenapa? Please angkat vidcall ku", Ega mengirim pesan


Elzata meyakinkan agar Ega menghubunginya lewat chatt WA saja, tapi justru membuat Ega lebih curiga.


"Kamu terima vidcall ku, atau aku pergi menghampirimu?"


Karena Elzata tahu bahwa pilihan Ega tak main-main, maka dengan terpaksa video call Ega yang masuk segera dia terima.


Begitu kagetnya Ega, mendapati wajah gadisnya di seberang sana begitu sembab. Ega benar-benar khawatir melihat wajah yang terlihat begitu menyedihkan dan penuh beban itu.


"Kamu kenapa sayang, ada masalah ya? Kamu tidak mau berbagi sama aku?", Ega berkata sangat lembut, seolah ingin menunjukkan bahwa dia peduli

__ADS_1


Elzata hanya menggeleng sambil menyeka buliran air mata yang sedari tadi mengalir tak tertahan. Semakin ditanya, Elzata semakin menangis.


"Kenapa? Aku tak berarti apa-apa buat kamu?"


Karena Elzata masih terdiam, Ega membiarkannya beberapa saat sambil memperhatikan gadisnya yang masih susah bicara karena sesenggukan itu. Ini adalah kali kedua Ega melihat sosok kuat si macan kampus menangis. Dan entah kenapa, kali ini hatinya benar-benar seperti diiris-iris.


"Ga...",


"Iya sayang, bagilah kesedihanmu denganku"


"Papaku datang. Semalam dia di telpon pak menteri. Dia ingin anaknya bisa menikah denganku", akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Elzata yang masih sesenggukan itu. Dia tak menyadari bahwa ekspresi wajah Ega sudah berubah.


"legislator muda itu ya?", Ega bertanya dengan nada marah entah karena ketidak percayaan dirinya bersaing dengan sang legislator atau karena cemburu.


Elzata mengangguk.


"Kalau memang kamu benar-benar mencintaiku, kenapa kamu menangis? Seharusnya kamu sudah tau kan, jawaban apa yang harus kamu berikan kepada Papamu? Kalau kamu menangis seperti ini berarti kamu bimbang. Atau kamu benar-benar ingin mempertimbangkan untuk menerima tawaran itu? Oke. Aku ikhlas Elzata. Aku relakan kau bahagia sama dia. Toh dia lebih segalanya dari aku. Dan dia sangat serasi mendampingi gadis penuh obsesi seperti kamu. Aku nggak papa Za, benar-benar nggak papa kalau kamu memang lebih memilih dia", cerocos Ega penuh emosi, tanpa memperhatikan gurat kecewa gadis di seberang sana yang sudah tak bisa disembunyikan lagi.


"Ega,,,", setengah berteriak Elzata menghentikan kalimat menyakitkan yang terlontar dari mulut orang yang dikasihinya itu. "Bukan itu kata-kata yang kuharap keluar dari mulut egoismu itu. Kamu benar-benar tidak bisa mengerti aku. Jahaatttt", Elzata langsung mengakhiri pembicaraan mereka dengan penuh amarah.


Hari itu Elzata benar-benar menangis sejadi-jadinya.


Sementara Ega, hanya diam membisu entah apa yang dipikirkan di benaknya. Bisakah mereka bertahan?


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2