CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
Solusi Papa


__ADS_3

Mendengar Elzata di seberang sana terus terisak, Ega hanya terdiam mendengarkan dan menunggu hingga gadisnya itu lebih tenang.


"Udah belum nangisnya?", Ega membuka pembicaraan kembali dengan lembut.


"Aku nggak siap, Ga. Aku benar-benar nggak siap. Dulu kamu minta aku berjuang untuk membujuk orang tua aku biar menolak lamaran pak mentri kan? Apa sekarang aku nggak boleh minta kamu berjuang untuk kita?", jawab Elzata penuh emosi.


"Bukannya kemarin kamu bilang kamu ikhlas jika aku memilih Jepang dan menikahi gadis lain?", Ega mencoba memancing agar Elzata mau mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.


"Tapi ternyata aku nggak bisa. Ketika tadi kamu sebut nama Sera, aku sadar aku nggak bisa tanpa kamu. Aku nggak rela kamu sama Sera ataupun gadis lainnya. Aku nggak bisa... Aku nggak bisa...", jawab Elzata dengan tangis semakin kencang.


"Kalau kamu nggak bisa, jangan pernah lagi meminta aku menikahi gadis lain dan memilih pilihan lain selain kamu. Mintalah agar aku berjuang untuk kamu. Mintalah agar aku berjuang untuk cinta kita"


"Tapi aku mau kamu bahagia, Ga. Aku nggak mau kamu mengorbankan semuanya hanya karna aku"


"Tapi kamu nggak bisa kan? Sayang, percayalah. Aku akan berjuang buat kamu, sayang. Aku hanya minta kamu percaya sama aku. Kamu mau kan menunggu aku untuk menyelesaikan semuanya?"


Elzata tak menjawab. Dadanya masih terasa sesak. Pikirannya berlarian entah kemana. Harapannya sudah terlanjur berserak.


"Sayang, kamu percaya padaku kan?"


"I... Iyaaaa", akhirnya Elzata menjawab.


Dan obrolan hari itu benar-benar menguatkan mereka berdua untuk tetap bersama. Asa demi asa yang telah terbangun kemudian terserak begitu saja, kini mulai mereka ambil serpihan demi serpihannya agar mampu mereka rangkai kembali menjadi selongsong Asa yang akan mempersatukan mereka suatu saat nanti.


***


Sejak pembicaraan dengan mamanya waktu itu, Ega selalu menghindar jika bertemu sang mama. Beberapa hari Ega terlihat mengurung diri di kamar, sesekali hanya keluar untuk makan, itupun jika mamanya tidak ada. Jika mamanya ada di rumah, Ega memilih kelaparan demi menghindari bertemu dengan sang mama.


Papa Ega yang melihat gelagat aneh putranya mulai menerka apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran putra keenamnya itu.


"Ega !!!", sang papa memutuskan untuk masuk ke kamar Ega dan memulai pembicaraan dengan putranya.

__ADS_1


"Iya, Pa", jawab Ega singkat


"Kamu kenapa? Papa lihat kamu murung aja. Berantem sama mama kamu?"


"Ahhhh, pasti mama sudah cerita sama Papa. Dan pasti Papa belain mama kan Pa?"


Mendengar jawaban putranya, sang papa hanya tersenyum geli.


"Kalau Papa jadi kamu, Papa akan berjuang buat Elzata. Persetan dengan kuliah S2. Toh jika kamu pilih menikah sekarang dan punya rumah tangga sendiri, suatu saat nanti kamu bisa putuskan sendiri kamu mau kemana saja asal istrimu tidak keberatan kan?"


"Maksud Papa?"


"Bilang saja sama mama kamu, kamu memilih Elzata dan tetap tinggal di Indonesia. Gitu aja kok dibuat rumit"


Ega terlihat berpikir sebentar, dan akhirnya menarik nafas panjang.


"Tapi Sera, Pa? Mama udah nelphon Sera kemarin Pa", Ega terlihat mulai antusias mendengar saran dari papanya.


Mendengar masukan dari papanya itu, akhirnya Ega memutuskan untuk menemui mamanya.


"Maa.., Ega sudah putuskan", Ega memberanikan diri untuk memulai percakapan.


"Benar tebakan mama kan?", jawab sang mama percaya diri. Ada senyum simpul dibibirnya, yang sangat sulit diartikan.


"Mama salah. Cinta Ega buat Elzata jauh lebih besar dari pada keinginan Ega untuk melanjutkan S2 di Jepang", jawab Ega dengan mantap.


"Apa? Apa mama nggak salah dengar? Kamu mau main-main dengan hidupmu sendiri, nak? Hatimu sudah dibutakan oleh cintamu. Kamu mau makan itu cinta?"


"Bukannya kemarin mama kasih Ega dua pilihan? Dan ini adalah pilihan Ega ma. Jangankan hanya ke Jepang, jika harus Ega korbanin nyawa Ega sekalipun, Ega tetap akan pilih Elzata"


"Tapi bagaimana dengan Sera? Mama sudah terlanjur meminta Sera jadi menantu Mama?"

__ADS_1


"Itu urusan Mama dengan Sera. Lagian Mama masih punya 3 anak laki-laki lain yang belum menikah kan ma? Suruh aja mereka menikahi Sera. Lagian apa pernah Mama bicarakan soal Sera ke Ega? Enggak kan Ma? Nggak pernah kan?"


"Egaa...!!!", mama teriak dengan nada kesal.


"Mama ini maunya apa sich Ma? Kemarin Mama ngasih dua pilihan kan? Dan ini pilihan Ega. Kalau mama tidak mau menarik kata-kata Mama kepada Sera, biar Ega yang bilang ke Sera. Kalau mama masih maksa juga, biar Ega keluar dari rumah ini. Biar Ega urus hidup Ega sendiri dan biar Ega cari kebahagiaan Ega sendiri", melihat gelagat sang mama yang berbelit, akhirnya Ega memilih kata-kata yang akan membuat mamanya menyerah.


Namun melihat mamanya tidak bergeming sedikitpun, Ega pun tidak mau main-main dengan kata-katanya sendiri.


Ega langsung pergi ke kamarnya. Diambilnya beberapa pakaian dan barang miliknya, dimasukkan nya ke dalam sebuah koper. Tak lama, dia menyambar jaket di balik pintu kamarnya, mengambil hp yang berserak di tempat tidur dan akhirnya keluar.


Melihat ancaman putranya yang tidak main-main, sang mama menangis. Dan kemudian ambruk begitu saja, pingsan tanpa bisa berkata apa-apa.


"Mama...!!!"


Melihat mamanya pingsan, Ega dan Papa langsung berlari menuju arah sang mama dan membopongnya ke kamar. Dibaringkan mamanya di tempat tidur, kemudian ditepuk-tepuklah pipi sang mama, dan dioleskan bau-bauan di sekitar hidung sampai mamanya siuman.


"Ega..., Ega..., jangan pergi nak. Jangan pergi..., mama mohon jangan pergi sayang. Jangan tinggalin Mama", setelah siuman mama langsung menangis, memohon kepada Ega.


"Maafin Ega, Ma. Tapi Ega tidak bisa. Biarkan Ega pergi dan mengambil jalan Ega sendiri. Akan Ega buktikan bahwa Ega bisa bahagia dengan keputusan Ega", jawab Ega, tak mau terlihat plin-plan di depan mamanya meski mamanya sudah pingsan di depan mata dan kepalanya sendiri.


"Tidak nak. Jangan tinggalkan Mama. Maafkan Mama sayang, maafkan mama", ucap sang mama, tidak menyerah.


"Kembalilah ke kamarmu. Biar Papa bicara dengan mamamu sebentar", akhirnya Papa menengahi.


"Tapi, Pa. Ega..."


"Stttt..., nanti kita bicara. Masuklah ke kamarmu"


Mendengar perintah papanya, Ega hanya menurut tanpa mengucap satu kata pun. Entah seperti apa nasibnya nanti, yang jelas jika mamanya masih tetap memaksa, Ega akan melanjutkan aksi kaburnya. Biar bagaimanapun, Ega sudah berjanji akan berjuang untuk Elzata dan kebahagiaan mereka berdua. Dan inilah saatnya Ega membuktikan kepada Elzata dan keluarganya sendiri, bahwa perasaan Ega kepada Elzata tidaklah main-main. Sekeras apapun, Ega akan tunjukkan bahwa cintanya kepada Elzata lebih besar dari apapun juga.


Dimanakah ujung dari perjuangan Ega?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2