
Papa Ega bernama Firman Sakala Narendra. Sama seperti sang istri, Firman berdarah asli minang. Awal merantau di ibu kota, dia bekerja disebuah toko tekstil di sebuah pasar terbesar di kota itu. Karena kegigihannya, dia berhasil membuka toko sendiri, membuka beberapa cabang, dan akhirnya bisa memiliki pabrik sendiri.
Dalam keluarga Ega, Pak Firman adalah sosok ayah yang tidak banyak bicara. Hanya persoalan-persoalan yang dianggapnya penting saja baru dia akan turun tangan.
Ya, seperti persoalan Ega kali ini. Karena sudah terjadi konflik antara Ega dan mamanya, maka Pak Firman merasa harus ada penengah diantara keduanya. Apalagi mengingat ini terkait masa depan putranya, maka tak segan Pak Firman ikut andil dalam menyelesaikan konflik antara anak dan ibu itu.
***
"Ega bukan anak kecil lagi, Ma", Papa Ega memulai percakapan, sambil terus memijit sang istri yang baru saja siuman dari pingsan nya.
"Apa Mama salah Pa, jika Mama ingin anak Mama bisa meraih apa yang menjadi impiannya selama ini?", sambil terisak Mama Ega memberi alasan.
"Ukuran kebahagiaan Ega waktu dia belum dewasa, berbeda dengan ukuran Ega sebagai pria dewasa yang sudah mengenal cinta seperti sekarang ini, Ma"
Sang mama hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan suaminya. Air matanya terus menetes, tak bisa berhenti meski sudah di sekanya berkali-kali.
"Apa Mama masih mau memaksa Ega juga setelah semua yang terjadi? Mama lihat nggak, anak Mama itu bisa nekat melakukan apapun?"
"Terus mama harus gimana Pa?"
"Hilangkan Ego mama. Biarkan Ega ke Jepang tanpa Elzata, setelah itu baru mereka menikah"
"Tapi mama nggak mau ambil resiko, Pa"
"Kekhawatiran Mama itu tidak berdasar tau nggak? Memang mama tidak bisa lihat sebesar apa Ega mencintai Elzata? Bahkan dia bisa meninggalkan apa saja demi bisa bersama Elzata. Jadi tidak mungkin dia akan tertarik dengan gadis Jepang dan tidak mau pulang ke tanah air. Justru Elzata itulah senjata Mama biar Ega tetap kembali"
"Iyaa, Pa. Tapi, masalah Sera gimana?"
"Biar Ega yang selesaikan", tutup Papanya, tegas.
***
Ega bernapas lega setelah sang Papa menemuinya dan menjelaskan keputusan akhir sang mama. Apalagi bukan hanya satu pilihan yang bisa dia ambil, tetapi dua-duanya. Dia bisa mendapatkan Elzata, sekaligus melanjutkan study nya ke Jepang.
Tentu hal ini adalah berita bahagia yang harus segera di sampaikan kepada seorang gadis di seberang sana yang pasti matanya sudah sembab karena pikirannya yang sudah kemana-mana.
Dengan semangat, Ega langsung menyambar ponsel yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Dicarinya nomor sang pujaan hati, dan dipencetnya tombol panggil, sambil berharap gadisnya segera mengangkat telphonnya.
"Hallo, Ga"
"Hallo, sayang. Udah makan belum?"
"Sudah. Kamu?"
"Sudah dong"
__ADS_1
"Gimana?"
"Gimana apanya?"
"Mama kamu"
"Ohh Mama?"
"Iya, soal Sera"
"Jadi soal Sera atau Mama nich?"
"Egaaaa,,,, please dech", Elzata teriak sambil terisak.
"Tuch kan mewek lagi?"
"Habis kamu muter-muter ngomongnya"
"mmmm, gimana ya aku njelasinnya ke kamu?", Ega masih berusaha untuk menggoda Elzata yang sudah semakin terisak. Kini nafas gadisnya itu sudah semakin terdengar tersengal, karena menangis.
Ega yang tidak tega, akhirnya bicara.
"Kamu mau kita nikah dulu baru aku berangkat ke Jepang, atau mau aku ke Jepang dulu baru kita menikah setelah aku pulang?"
"Maksud kamu?", Elzata tak mengerti dengan perkataan Ega.
Tak ada satu katapun yang bisa menggambarkan perasaan Elzata mendengar apa yang diucapkan kekasihnya itu. Dia hanya bisa menangis, menangis dengan air mata bahagia.
"Kok nangis lagi sich, sayang? jadi gimana, kamu ingin kita menikah dulu, atau kita menikah setelah aku pulang dari Jepang?"
"Terserah kamu"
"Kamu masih bisa tahan nggak, kalau nunggu aku pulang dari Jepang?"
"Ihhh, Ega"
"Hahahahaha"
Begitulah obrolan dua sijoli yang telah banyak berjuang untuk sebuah kata, "kebersamaan".
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah setelah Ega pulang dari Jepang. Mengapa?
Yang pertama karena tekanan dari KAPN setelah mereka menikah pasti akan sangat kuat, sehingga jika mereka menikah terlebih dahulu, Elzata akan menghadapinya sendirian. Karena itu keputusan terbaik adalah menikah setelah Ega kembali, dan tetap menyembunyikan hubungan mereka berdua dari dunia luar.
Yang kedua karena pertimbangan kondisi psikologis mama Elzata yang belum siap jika anak gadisnya menikah dengan kepergian sang papa yang bisa dibilang baru dalam hitungan hari, sehingga keputusan menunda pernikahan adalah hal yang paling tepat mereka lakukan untuk saat itu.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Sera?
***
Setelah menutup sambungan telphonnya dengan Elzata, akhirnya Ega memutuskan untuk menghubungi Sera lewat sebuah pesan.
"Hallo, Sera", pesan Ega singkat.
Membuka pesan dari Ega, jantung Sera berdegub sangat kencang. Pikirannya kemana-mana, membayangkan sang pengirim pesan sebentar lagi akan berada dalam satu pelaminan dengan dirinya.
"Hallo, Ga. Tumben ini WA aku. Ada apa?", balas Sera, berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja.
"Kemarin mama telpon kamu ya, Ser?", balas Ega lagi, to the point.
"Ohh, tante Nurul ya. Iyaa", Sera yang membaca pesan Ega yang sangat to the point itu langsung membalas, karena tak sabar menunggu pesan Ega selanjutnya. Dalam benak Sera, pasti Ega akan membicarakan masalah pernikahan mereka.
"Maafkan mamaku, Ser. Dia langsung telpon kamu tanpa memberitahuku terlebih dahulu",
"Iya, Ga. Nggak papa kok", balas Sera tanpa mengerti arah pembicaraan Ega.
"Dan maafkan aku, karena aku belum siap untuk semuanya"
"Maksud kamu?"
"Aku belum siap untuk menikah"
Mendengar kata-kata Ega, tiba-tiba dada Sera terasa sesak. Bulir-bulir bening dari ujung matanya menetes begitu saja tanpa bisa tertahankan. Harapan yang kemarin telah terlanjur membumbung tinggi, kini jatuh dan hancur tak bersisa.
"Bolehkah aku menunggu?", Sera memberanikan diri untuk bertanya.
"Aku mohon jangan menungguku", jawab Ega tegas.
"Kenapa?", Sera terus mencari tahu.
"Karena kamu berhak bahagia, Ser", jawab Ega masih kekeh.
"Apa karena Elzata?", Sera yang selama ini cukup curiga dengan perubahan sikap dua sahabatnya itu mencoba menebak.
"Bukan karena Elzata atau siapapun. Aku akan fokus pada studyku, dan tidak akan memberi harapan kepadamu maupun gadis lain sebelum aku kembali", Ega menutup pembicaraan dengan tegas.
Sera tak bisa berkata apa-apa. Walaupun sakit, tapi dia berusaha menyembunyikan kekecewaannya kepada Ega dan akan menyimpan rapat-rapat cintanya yang sudah terlanjur bermekaran di dalam hatinya.
"Apakah aku masih punya kesempatan?", pikir Sera dalam hati.
Namun dia hempaskan pikiran itu jauh-jauh, karena dalam hati kecilnya dia tahu, bahwa sebenarnya ada gadis lain yang dicintai seorang Ega.
__ADS_1
BERSAMBUNG