CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
adakah harapan?


__ADS_3

Mama Elzata terus berkabung. Dia tidak berselera makan dan minum, bahkan sekedar keluar kamar saja tidak mau. Meski sang mama sudah bisa di ajak bicara dengan normal, tapi seolah dia ingin mengunci diri dari dunia luar. Dan walaupun sebenarnya masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan, tapi Elzata berusaha untuk memahami kondisi psikologis mamanya sepeninggal sang papa.


Mama Elzata bernama Eta Widya Purnama Hapsari. Dia anak pertama dari empat bersaudara. Adik pertamanya seorang laki-laki, meninggal saat menginjak usia 6 bulan. Adik keduanya laki-laki juga seorang dosen, dan adik ketiganya perempuan seorang dosen juga.


Eta lahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai apoteker, sedangkan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga, yang akhirnya melanjutkan usaha suaminya mengelola apotik setelah kakek Elzata itu meninggal.


Keluarga Elzata baik dari darah mamanya maupun papanya sebenarnya adalah keluarga yang cukup terpandang dan banyak harta. Sepeninggal Papanya, bisa saja dia meminta bantuan keluarga besarnya untuk meminjam modal dan membuka usaha sendiri, namun menuruni sifat papanya, Elzata tidak mau merepotkan orang lain.


Selama ini, Elzata hidup serba berkecukupan karena papanya adalah seorang anggota dewan. Namun karena papanya meninggal, maka gaji bulanan dan pendapatan lainnya selama menjabat tentu tidak akan mereka terima lagi mengingat papanya akan diganti dengan orang yang perolehan suaranya tepat berada di bawah papanya saat pemilu lalu.


Uang pensiun pun tidak akan mereka dapatkan, mengingat status mereka berbeda dengan anggota dewan pusat yang mempunyai hak sebagai pejabat negara. Berbeda dengan anggota dewan pusat, anggota dewan tingkat daerah adalah pejabat daerah yang hak-haknya tidak di atur sama seperti pejabat negara.


Apakah papanya tidak mempunyai simpanan? Sayangnya tidak. Seluruh simpanan yang selama ini dimiliki papanya sudah habis untuk biaya politik saat pemilu setahun yang lalu.


Ya. Meski ini adalah jabatan papa Elzata untuk yang keempat kalinya, tapi di periode ini memang papanya baru menjabat satu tahun. Jadi mengingat ongkos politik yang sangat besar, bisa dipastikan papanya belum balik modal dan mempunyai simpanan kembali. Hal itulah yang membuat Elzata berpikir keras, bagaimana dia akan menghidupi mamanya nanti.


Sebenarnya bisa saja Elzata menjual dua buah mobil dan satu rumah mewah yang masih mereka miliki, kemudian membuka usaha dan pindah ke rumah yang lebih sederhana. Namun karena mobil dan rumah itu menyimpan banyak kenangan mama bersama papa, Elzata sungguh tidak akan melakukan itu.


Dia tidak akan tega jika harus benar-benar mengubur semua kenangan mama bersama papa.


Dia akan berjuang dengan cara lain untuk bisa bertahan hidup, walaupun dia belum menemukan caranya. Minimal dia akan melamar kerja setelah wisudanya nanti. Yang penting mereka masih bisa bertahan hidup, meski tidak akan senyaman dan semewah sebelumnya.


***


"Za, terus bagaimana dengan wisuda dan rencana lamaranmu?", tanya mama tiba-tiba.

__ADS_1


"Udah, mama nggak usah mikir yang berat-berat dulu. Yang penting mama sehat. Untuk wisuda, jika mama memang belum kuat biar aku didampingi tante aja. Terkait Ega, mama tidak usah pikirkan lagi. Nanti aku akan bicara sama dia", jawab Elzata menenangkan mamanya yang terlihat gelisah.


Melihat mamanya yang tidak menanggapi atau menolak perkataan Elzata, dia berpikir bahwa berarti sang mama setuju dengan apa yang dia katakan.


***


"Hai sayang, gimana keadaanmu? Udah lebih baik kan?", tiba-tiba Ega mengirim sebuah pesan.


Melihat pesan Ega, Elzata tidak segera membalasnya. Dia menarik nafas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan sampai beberapa kali.


Setelah berpikir sejenak, dia pandang lagi pesan Ega di ponselnya dan akhirnya dia tekan tombol panggil untuk melakukan panggilan suara.


"Hallo sayang", sapa Ega dengan begitu riangnya di seberang sana.


"Hallo, Ga", jawab Elzata singkat.


"Udah. Kamu?"


"Ini baru aja makan. Gimana mama kamu?"


"Mama masih syok, Ga. Dia belum siap ditinggal sama papa. Karena itulah aku telphon kamu"


"mmmm, gimana... gimana...?"


"Melihat kondisi mama, kita tidak mungkin melanjutkan semuanya, Ega"

__ADS_1


"Kondisi mama kamu kayak gini kan bukan sesuatu yang permanen sayang. Kita bisa kok menundanya dua atau tiga pekan. Nikahnya juga tidak harus dipestain. Kita nikah saja di KUA, selesai. Yang penting kita nikah"


"Tapi kita tidak punya banyak waktu sampai jadwal keberangkatan kamu ke Jepang Ga? Dan aku tidak mungkin ikut kamu ke Jepang dengan kondisi mama yang selama ini tidak pernah sendiri dan terlalu bergantung pada papa. Kamu ingat apa pesan papa dua hari sebelum meninggal yang kemarin aku ceritain ke kamu itu kan? Papa ingin aku menjaga mama"


Ega terdiam lama, mencoba menenangkan diri dan mencerna setiap perkataan Elzata. Mereka sudah sejauh ini, mana mungkin akan mengorbankan semua perjuangan yang telah mereka lewati selama ini.


Ega memutar kembali apa saja yang telah Elzata lakukan bersamanya, mulai dari perjuangan mereka menyembunyikan hubungan mereka di hadapan publik hingga saat ini, perjuangan Elzata menolak pinangan pak mentri, yang terakhir begitu relanya Elzata tidak punya waktu tidur yang cukup hanya untuk menyelesaikan skripsi dalam waktu 3 bulan demi bisa wisuda bersama Ega dan perjuangan-perjuangan lain yang telah mereka lakukan selama ini demi mereka bisa bersama.


Dan sekarang, semudah ini kah semua akan berakhir begitu saja? Benar-benar sia-siakah semua yang telah mereka perjuangkan?


"Kamu tidak memikirkan bagaimana dengan aku, sayang?", Ega akhirnya bersuara.


"Kamu juga memikirkan permintaan mama kamu kan, Ga? Dan aku memikirkan mama aku. Sementara permintaan mama kamu dan kebutuhan mama aku tidak bisa kita penuhi secara bersamaan. Mama kamu ingin kamu menikah sebelum kamu berangkat ke Jepang, dan kamu harus membawa istrimu nanti ke Jepang agar bisa merawatmu selama disana. Sementara mama aku? Mama tidak mungkin aku tinggal, Ega. Karena itu kita harus mengorbankan perasaan kita untuk mama kita masing-masing", dengan terbata-bata dan menahan sesak di dada, Elzata mencoba untuk memahamkan Ega bagaimana kondisi mereka saat ini. Kristal-kristal bening pun akhirnya tak tertahan lagi.


"Kamu sudah berjuang, Elzata. Kamu sudah banyak berkorban. Aku akan coba bilang sama mama. Aku akan bilang agar setelah kita menikah, kamu tetap jaga mama kamu dan aku akan berangkat ke Jepang sendiri. Apakah kamu keberatan setelah kita nikah aku tinggal study ke Jepang?"


"Kalau mama kamu tidak setuju gimana?"


"Kita coba dulu, sayang. Jangan berpikir macam-macam. Oke?"


"Oke"


Setelah menutup telphon, mereka sama-sama menarik nafas lega secara bersamaan meski di tempat yang berbeda. Ada secercah cahaya disana, seiring dengan harapan yang tiba-tiba tersusun kembali.


Apakah Ega bisa mempertahankan Elzata dan membuat mamanya menerima lobby putranya? Kita lihat saja nanti.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2