
Sudah beberapa bulan ini, entah mengapa Barra sering sekali menghubungi Elzata. Ada saja alasan yang membuat Barra harus menelphon Elzata dengan dalih konsultasi, meminta masukan atau hanya sekedar mengajak ngobrol yang menurut Elzata sama sekali tidak penting.
Beberapa kali Barra bahkan datang ke rumah Elzatta, dengan membawa banyak oleh-oleh untuk sang mama.
Beberapa kali juga Barra salah kirim pesan ke ponsel Elzata, entah sengaja ataupun tidak sengaja.
Yang jelas, Elzata yang memang karena cuek atau tidak peka, membiarkan Barra bersikap seperti itu sampai sekian lama.
Harapan demi harapanpun seolah Barra dapatkan dari sikap Elzata yang tidak pernah menolak jika Barra sekedar datang atau mengirim pesan berbalas pesan, bahkan menghabiskan waktu diskusi melalui panggilan suara.
Memang tidak ada pembicaraan yang menjurus ke arah kehidupan pribadi di antara mereka. Barra pun tidak bisa mengambil resiko jika harus di tolak Elzata jika mengungkapkan perasaannya secepat itu. Namun kedekatan Barra dan Elzata segera saja tercium oleh Sera, yang kemudian akan dia manfaatkan sebaik-baiknya.
***
"Mohon dijelaskan mengenai kedekatanmu dengan Barra", sebuah pesan tiba-tiba masuk, dari salah satu dewan pembina KAPN.
Melihat pesan yang masuk, kening Elzata berkerut. Dia mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi. Jika harus ada yang bertanya, seharusnya yang ditanyakan adalah hubungan dirinya dengan Ega, bukan Barra. Tapi ini, mengapa harus Barra? Bukankah selama ini tidak ada hal yang spesial antara dirinya dan juga Barra?
Meskipun akhirnya pesan itu Elzata balas dengan sebijak mungkin, namun sejak saat itu, baik Elzata maupun Barra sering sekali mendapatkan pesan yang sama dan memojokkan mereka berdua seolah-olah mereka adalah sang terpidana yang telah melanggar aturan organisasi karena telah saling jatuh cinta.
Berita itupun segera tersebar kemana-mana, termasuk Ega. Berbagai hujatan dan olokan mereka terima melalui pesan ataupun konfirmasi langsung di depan mereka.
Ega yang benar-benar kaget dan tidak menyangka ada issue panas yang dilempar kepada kekasihnya itupun tak lagi bisa tenang. Dalam hati kecilnya, dia tak akan pernah percaya jika Elzata menghianatinya, namun kabar kisah cintanya bersama Barra juga tidak akan pernah ada begitu saja jika tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua.
Disaat Ega kalut memikirkan semuanya, tiba2 sebuah panggilan masuk.
"Telphon juga akhirnya kamu, sayang", dengan nada penuh emosi Ega menerima telphon Elzata.
"Ega, kamu sudah tahu semuanya?", jawab Elzata terbata-bata.
"Jadi benar?", Ega semakin tidak bisa menahan emosi.
"Benar apa?"
__ADS_1
"Kamu dan Barra"
"Sekarang aku tanya. Kamu percaya aku atau percaya mereka?"
"Aku ingin percaya sama kamu. Tapi mereka tidak akan berbicara seperti itu jika kamu memang tidak sedekat itu dengan Barra"
"Aku dekat dengan Barra seperti kedekatanku dengan dia yang kau lihat selama ini. Tidak ada yang berubah antara aku dan Barra sejak kita berenam mulai bersahabat dulu. Bahkan sekarang ini aku ingin sekali namaku dan namamu yang dihujat mereka karena kenyataannya memang seperti itu. Bukan aku dan Barra"
"Kalau begitu ayo kita lakukan!"
"Lakukan apa?"
"Kita ikrarkan hubungan kita di depan mereka. Kalau perlu aku pulang sekarang juga dan kita menikah"
"Egaaa !!!"
"Kenapa? Kamu sudah tidak mau lagi menikah dengan ku?", pertanyaan Ega benar-benar seperti orang putus asa. Nadanya memang tidak seemosi tadi, namun pertanyaan itu betul-betul membuat Elzata pasrah saja dengan apa yang akan dikatakan kekasihnya yang sedang dipenuhi api cemburu itu.
"Aku akan bicara dengan mama agar segera melamarmu. Aku akan pulang di hari pernikahan kita nanti dan aku akan berangkat lagi untuk melanjutkan studyku", tanpa pikir panjang, Ega memberi keputusan yang diiyakan begitu saja oleh Elzata.
Setelah Elzata menutup telphonnya, tiba-tiba sebuah pesan dari Sera masuk.
"Ga, aku masih menunggumu dan masih akan selalu menunggumu", tanpa ada rasa malu, Sera masih berani berkirim pesan.
Dan sejak keberangkatan Ega ke Jepang, pesan yang sama sudah puluhan kali Sera kirimkan meski tidak mendapatkan jawaban dari Ega.
"Sudah kubilang puluhan kali, jangan menungguku Ser. Dari pada kamu sakit hati", Ega menjawab asal.
"Kenapa?"
"Karna aku akan menikahi gadis lain"
"Elzata?"
__ADS_1
"Syukurlah kalau kamu sudah tahu"
Entah mengapa sejak dia mendengar hebohnya gosip kedekatan Barra dengan Elzata, Ega benar-benar ingin semua orang tahu kalau Elzata dan dirinya adalah sepasang kekasih.
Dia tidak peduli lagi dengan reaksi orang di luar sana bagaimana saat mengetahui hubungannya dan Elzata, termasuk bagaimana reaksi Sera saat kata-kata dia akan menikahi Elzata benar-benar terucap dari mulutnya. Dia pun tak mau tahu sehancur apa perasaan Sera saat itu, yang jelas dia harus segera membicarakan pernikahannya dengan kedua orang tuanya.
Sementara Sera yang mendengar jawaban tegas Ega, seolah tak percaya dengan apa yang sudah didengarnya tadi. Bahkan disaat Sera sudah berhasil menyebar issu kedekatan Barra dan Elzata sekalipun, ternyata tidak bisa menjauhkan mereka dan membuat mereka berpisah. Justru apapun yang dilakukan Sera, justru semakin mendekatkan mereka, bahkan mereka akan segera menikah. Apakah ini benar-benar akhir dari perjuangan Sera?
***
Sementara di tempat lain, Barra termenung sambil mengusap-usap layar ponselnya dan terlihat memikirkan sesuatu. Biar bagaimanapun, rumor yang beredar tentang kedekatannya dengan Elzata adalah akibat dari kesalahannya. Karena itu, tanpa mengetahui hubungan Ega dan Elzata, dia memutuskan untuk menelphon Elzata dan mencari solusi terbaik dan mengambil keputusan besar untuk mereka berdua.
"Iya, Barra", suara Elzata di seberang sana membuat dada Barra berdebar kencang.
"Maafkan aku karena telah membuatmu terusik dan dihujat mereka", Barra membuka percakapan dengan ragu.
"Bukan salahmu, santai saja", jawab Elzata di buat setenang mungkin.
"Tapi ini salahku, dan aku akan mempertanggungjawabkan semuanya", Barra mulai menekan suaranya.
"Maksud kamu?", jawab Elzata tak mengerti.
"Semua ini salahku, Za. Selama ini aku memang mendekati kamu untuk mendapatkan hatimu. Karena itu, izinkan aku melindungimu dari semua yang dituduhkan pada kita. Biarkan aku menikahimu dan biarkan saja mereka menghujat kita asal kita sudah bersama", Barra memberanikan diri untuk mengatakan semuanya.
"Barra, aku hargai niat baikmu. Tapi maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa"
"Kenapa, Za?"
"Sebentar lagi aku akan menikah"
Sama seperti yang dilakukan Ega kepada Sera, Elzata juga melakukan hal yang sama kepada Barra. Baik Ega dan Elzata sudah saling memantapkan diri untuk segera mengikrarkan cinta mereka di depan publik, seperti apapun reaksi yang akan mereka terima. Mereka tak lagi memikirkan bagaimana hancurnya Sera dan seperti apa tercabik-cabiknya hati Barra mendengar jawaban mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1