
Pagi itu sungguh pagi yang tidak biasa. Ketika Elzata membuka matanya, dia terperanjat melihat disampingnya ada laki-laki yang sedang memeluknya.
"Aaaaa...", Elzata setengah berteriak.
Karena kaget, segera saja Ega terbangun tak kalah terperanjat juga.
"Ada apa sayang?", Ega bertanya sambil melihat di sekeliling tempat tidurnya, tidak ada apapun.
"Maaf cinta, aku kaget disebelahku ada laki-laki. Maaf, aku belum terbiasa", jawab Elzata dengan wajah yang sudah memerah.
Melihat jawaban Elzata, Ega pun tergelak. "Lucu banget sich istriku", sambil mencubit pipi Elzata lembut.
Dan pagi itu mereka segera membersihkan diri di kamar mandi, setelah itu sholat subuh berjamaah. Selepas sholat, Ega terlihat menyandarkan tubuhnya di ranjang sambil memainkan hp, sementara Elzata tidur di pangkuan suaminya.
"Cinta, lagi lihat apa sich?", Elzata yang merasa di cuekin penasaran dengan yang dilakukan suaminya.
"Aku lagi pelajari anatomi tubuh kamu. Masih penasaran sich, sama yang semalam", ucap Ega sambil membelai kepala Elzata yang masih menempel di kakinya.
"Semalam dipaksain aja biar aku tahan. Siapa suruh nggak mau",
"Aku nggak tega lihat kamu kesakitan sayang, bisa jebol punya kamu kalau aku paksain semalam"
Mendengar perkataan Ega dan membayangkannya, membuat Elzata bergidik ngeri.
Tapi tiba-tiba saja Ega berbisik, "kita coba lagi yuk, sayang"
Tanpa menunggu jawaban Elzata Ega segera saja mengulangi apa yang dilakukannya semalam. Pagi itu dia bertekad akan menyelesaikannya apapun yang terjadi, mengingat besok pagi-pagi sekali dia sudah harus kembali terbang ke Jepang. Sayangnya, belum sampai mereka pada acara puncak, tiba-tiba terdengar suara pintu di ketok.
Tok tok tok, "Non?"
__ADS_1
Tok tok tok, "Non Elzata?"
"Iya mbak"
"Non Elzata, sarapan sudah siap non. Ibuk sudah nunggu di meja makan", suara mbak imah, ART di rumah Elzata dari luar pintu terdengar keras.
"Iyaa mbak, bilang mama bentar lagi kita keluar", jawab Elzata dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.
Ega masih saja tidak bisa mengkondisikan dirinya. Tangannya masih nakal dan aktif kemana-mana. Melihat kelakuan suaminya, akhirnya Elzata memegang tangan nakal suaminya itu dan berucap, "ayo kita lanjut nanti aja, nggak enak sudah ditungguin mama, tuch".
Ega pun merapikan kembali pakaian istrinya dan segera menggandengnya keluar kamar.
Dimeja makan, mama sudah terlihat menunggu. Melihat putri dan menantunya datang, mama pun tersenyum ke arah mereka.
"Maaf, mama mengganggu pengantin baru ini kayaknya. Tapi besok pagi-pagi Ega sudah harus ke Bandara kan? Kita hanya punya waktu makan bersama hari ini sebelum Ega balik ke Jepang", ucap mama Elzata, setengah menggoda putri dan menantunya yang sampai meja makan masih bergandengan tangan.
Pagi itupun mereka bertiga habiskan untuk mengobrol tentang banyak hal. Tentang Papa Elzata, perjuangan Elzata setelah papanya meninggal, juga perjalanan Ega dan Elzata hingga akhirnya mereka bisa menikah. Sebuah kenangan yang tidak enak ketika dijalani, tetapi terasa begitu indah ketika sudah terlewati.
Setelah mereka bercanda seharian di ruang tamu, Ega dan Elzata pun masuk kamar untuk menunaikan sholat dhuhur. Ega yang sudah wudhu terlebih dahulu, memutuskan untuk menunggu Elzata yang masih di kamar mandi.
Tiba-tiba, terdengar suara teriakan Elzata dari dalam kamar mandi, "aaaa"
Mendengar Elzata berteriak, Ega pun segera lari dan membuka kamar mandi. Melihat Ega masuk, Elzata segera melilitkan handuk memutar tubuhnya dan memeluk Ega sambil menangis. Ega yang tidak tahu apa yang terjadi, akhirnya dengan bingung bertanya kepada istrinya yang masih sesenggukan itu, "Ada apa sayang? Apa kamu sakit? Atau kenapa?", cecarnya.
"Maafin aku cinta. Maaf. Aku malah datang bulan. Padahal besok kamu balik ke Jepang", dengan ragu Elzata menjelaskan.
Raut kecewa Ega segera saja bisa terlihat dari ekspresi wajahnya.
"Berarti aku harus nunggu beberapa bulan lagi untuk bisa memiliki kamu seutuhnya?", Ega kembali bertanya.
__ADS_1
"Maaf", jawab Elzata mengiyakan, sambil memegang wajah Ega dengan kedua tangannya.
"Yach, mau gimana lagi", ucap Ega sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kamu marah cinta?",
"Ya enggaklah. Kan diluar rencana kamu sayang", Ega mencium kening Elzata kemudian melaksanakan sholat dhuhur sendirian.
Dan hari itu Ega dan Elzata hanya bisa melepas rindu tanpa bisa membuat tanda cinta seperti pasangan pengantin baru pada umumnya. Lagi-lagi, malam pertama tertunda. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi, mungkin enam bulan, mungkin lebih. Ega menyesuaikan dengan tesis dan jadwal wisudanya.
***
Karena memilih untuk mengobrol semalaman, Ega dan Elzata benar-benar tidak tidur hingga pagi menjelang. Mereka benar-benar tidak ingin melewatkan waktu sedikitpun kebersamaan mereka yang sangat singkat untuk ukuran sepasang pengantin baru.
Menjelang subuh, Ega sudah berpakaian rapi dan mengecek seluruh barang yang akan dibawanya. Karena jadwal penerbangan pagi, maka sebelum shubuh Ega yang diantar oleh istrinya itu sudah menuju ke Bandara. Mereka memutuskan sholat shubuh di tengah perjalanan agar tidak tertinggal pesawat.
Selama dalam perjalanan, Elzata terus menangis. Dia benar-benar tidak rela ditinggal suaminya dalam usia pernikahan mereka yang baru masuk dalam hitungan hari. Entah kenapa jiwa manja Elzata tiba-tiba saja muncul. Mungkin karena statusnya sekarang sudah bersuami sehingga menurutnya sudah ada yang melindungi.
Ya, sekarang sudah ada tempat dia untuk bermanja-manja sehingga itu yang ditunjukkan kepada suaminya bahwa seharusnya Elzata tidak hidup sendiri lagi.
Selama ini Ega mengenal Elzata sebagai gadis mandiri yang kuat. Tapi setelah mereka menikah, sifat manjanya kepada Ega menjadi lebih dominan. Meski Ega sama sekali tidak keberatan dengan kemanjaannya itu, tapi tangis Elzata yang tidak mau ditinggal suaminya itu membuat Ega juga sangat berat untuk pergi.
"Udah dong, sayang. Jangan nangis terus dong. Kita kan udah sepakat. Aku pulang untuk nikahin kamu, terus aku balik lagi untuk lanjutkan S2 aku. Paling enam bulan lagi kelar kok. Sabar-sabar ya sayang. Setelah aku lulus kan nggak akan ditinggal-tinggal lagi", Ega berusaha menenangkan istrinya yang masih saja sesenggukan.
Karena Elzata tidak menjawab dan masih saja terus menangis, Ega pun memilih untuk diam sambil sesekali membelai pucuk kepala istrinya dan sesekali juga menggenggam erat tangannya, lalu mencium punggung tangan dalam genggamannya itu.
Sesampai di Bandara, Ega mengeluarkan kopernya, memeluk istrinya dengan erat, menciumi seluruh muka Elzata dan akhirnya mereka berpisah dipintu keberangkatan penerbangan luar negeri. Dengan sangat berat hati, akhirnya Ega pergi meninggalkan istrinya seorang diri.
BERSAMBUNG
__ADS_1