
Tak terasa beberapa hari berlalu sejak pertemuan dan obrolan lewat telpon yang berakhir dengan derai air mata. Baik Ega maupun Elzata sama-sama sibuk mempersiapkan acara seminar dan aksi damai yang sudah matang mereka rencanakan.
Dan mengingat acara aksi damai akan dilaksanakan besok pagi dilanjut malamnya acara seminar kebangsaan, maka malam ini mereka berenam dibantu rekan panitia yang lain memutuskan untuk menginap dan menyelesaikan semua persiapan di markas KAPN.
Hingga tengah malam tiba, masih ada saja yang harus mereka kerjakan. Mungkin mereka semua tidak akan tidur semalaman melihat masih banyak yang harus di persiapkan.
Meski sudah berbagi tugas, tapi tetap saja finishingnya pakai sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Dan malam itu benar-benar melelahkan. Jika mereka semua harus lembur semalaman, mereka tidak akan punya waktu istirahat sampai besok malam.
"Za, istirahat gih", tiba-tiba sebuah pesan masuk, dari Ega
"Belum selesai, Ga. Bentar lagi ya.."
"Udah tinggalin aja. Aku gak mau kamu sakit"
"Trus gimana. Ini buat besok lho. Ga ada waktu lagi. Lagian nggak enak kan sama yang lain"
"Udah, biar aku aja yang selesaiin"
"Tapi???"
"sssttttt"
Aduh, bukan karakter Elzata banget kabur sebelum kerjaan selesai. Biasanya juga Elzata tidak tidur saat-saat seperti ini Ega cuek aja. Kenapa sekarang jadi perhatian gitu sich. "Tersiksa juga ya, diperhatiin kayak gini", batin nya dalam hati.
Tiba-tiba Ega bersuara, menarik perhatian semua orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Elzata yang tidak menghiraukan pesan Ega pun menebak-nebak apa yang akan dia katakan.
"Para Gadis biar istirahat aja gimana teman-teman. Kita maraton sampai besok malam lho ini..."
"Cerdas juga", pikir Elzata. Jika dia sendiri yang tidur sementara yang lain kerja, apa kata dunia.
Tapi karena ide Ega ini, akhirnya semua gadis yang ada disana beristirahat terlebih dahulu. Meski hanya beberapa jam, namun lumayan bisa ngecas energi untuk beraktifitas hingga malam kemudian.
Hingga pagi pun datang. Ketika Sera, Elzata dan beberapa gadis yang lain membuka mata, mereka melihat rekannya yang menyelesaikan tugas hingga akhir, semua terkapar dan tidur tak beraturan. Mungkin karna saking lelahnya. Jadi ada yang tidur di sofa, ada yang menundukkan kepalanya di atas meja, ada yang dilantai, bahkan ada yang bersandar di kursi komputer dengan begitu lelapnya.
Tiba-tiba Elzata menyapu pandangan ke seluruh sudut ruang, tak dilihatnya Ega. Elzata menuju kamar mandi juga semua kosong. Hingga akhirnya tanpa pikir panjang diraihnya hp yg ada dalam tasnya, dan dia segera mengirim pesan untuk Ega.
"Ga, dimana?"
Tak ada balasan. Dan entah kenapa ada rasa khawatir yang menjalar begitu saja dalam diri Elzata. Diapun mulai terlihat gusar.
__ADS_1
"Za, kamu oke?", Sera bertanya penuh curiga. Sepertinya sahabat Elzata yang satu itu adalah sahabat yang paling peka dan bisa membaca perubahan gerak-gerik Elzata dan Ega selama beberapa hari ini.
"Aku nyari kunci mobil Ser. Aku mau ambil baju ganti, tapi lupa naruh kuncinya", jawab Elzata sekenanya
"Ohhh, aku bantu cari ya,,,"
"Mmm Nggak usah, Ser. Kamu mandi aja dulu. Sebelum yang cowok mulai ngantri mandi juga kan?"
"Gitu ya? Oke lah kalau begitu. Aku mandi duluan ya"
Akhirnya Elzata menghembuskan nafas lega, meskipun dia berpikir bahwa mulai dari sekarang baik Ega maupun Elzata harus berhati-hati, dan saling menjaga sikap mereka.
"Za, aku tidur di mobil", tiba-tiba pesan Ega masuk
"Oke"
"Kamu bisa kesini sebentar nggak?"
"What???"
"Bentar aja, please"
"Nggak bakal"
"Kalau ketahuan?"
"Aku masuk angin nich. Bisa bawain minyak angin nggak ke mobil?"
"Modus"
"Beneran"
Akhirnya Elzata menyerah. Diraihnya kunci mobil dalam tas nya, dan segera saja dia berpamitan dengan teman-temannya untuk mengambil baju ganti di mobil. "Benar kan aku nggak bohong. Aku kan emang mau ambil baju ganti di mobil", pikir Elzata sambil senyum-senyum sendiri.
Sambil berlari kecil, segera saja Elzata menuju tempat parkir mobil. Dilihatnya mobil Ega tepat berada di sebelah mobilnya. Dia buka bagasi, diambilnya baju ganti dan bergegas mengambil kotak obat di bagian depan.
Tak lama kemudian dia mengetuk kaca mobil Ega. Dibukanya pintu pengemudi, dan di dapatinya Ega sedang menunggunya dalam posisi tidur.
"Kamu beneran sakit?"
__ADS_1
Ega hanya mengangguk
"Pusing?"
"Hem emm"
"Panas nggak badannya?"
"Kamu periksa dong, Za"
"Ihhh, kamu kan tinggal bilang aja panas atau enggak"
"Tapi aku mau diperiksa sama kamu"
"Apaan sich, Ega. Jangan manja dech"
"Nich, di dalam ada minyak angin dan obat juga buat kamu. Atau mau kupanggilin Barra nggak buat bantuin kamu? Soalnya yang lain masih tidur. Mumpung belum subuh jadi kamu bisa istirahat bentar sebelum minum obat", lanjut Elzata sambil menyerahkan kotak obat di tangannya.
"Nggak usah, Za. Aku sendiri aja",
Ega beranjak, mengambil kotak obat itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya meraih tangan Elzata. Di genggamnya sesaat, diremasnya beberapa kali kemudian dilepaskannya kembali sambil berucap, "Makasih, ya sayang".
Muka Elzata langsung memerah menahan malu, matanya setengah membelalak saat Ega meraih tangannya dan mengubah panggilannya dengan sebutan sayang.
"Ega...", teriaknya, kemudian segera berlari membenamkan diri ke markas.
Ega tersenyum saja melihat gadisnya kabur dengan malu-malu. Dia memandang tangan kanannya yang tadi dia gunakan untuk memegang tangan Elzata. Diciumnya tangan itu, seolah itu adalah tangan Elzata yg tadi dalam genggaman.
"Jika aku tahu bersama kamu akan sebahagia ini, maka tak ada alasan buatku untuk tidak memperjuangkanmu, Zata", gumamnya dalam hati.
Bunga-bunga cinta itupun semakin bermekaran. Sampai sosok Elzata benar-benar menghilang dari pandangan, mata Ega tak juga mampu terpejam. Hingga pagi pun datang dan mengantarkan Ega pada rentetan pekerjaan yang sudah di hadapan.
***
Akhirnya acara aksi damaipun berjalan dengan lancar. Karena ide cerdas Elzata dengan aksi jalan mundur dengan 1000 bendera Palestina berhasil mereka kemas dengan sangat menarik, aksi mereka kembali menjadi trending topic berita hari ini. Tanpa ada aksi dorong-dorongan, tak ada pula aksi kejar-kejaran dengan aparat. Semua berjalan benar-benar dengan damai hingga acara selesai.
Setelah melepas lelah sebentar, mereka segera berpindah ke acara seminar kebangsaan. Elzata yang di dapuk sebagai moderator selama acara berlangsung, mampu membawa acara yang diikuti lebih dari 1000 mahasiswa dari beberapa Universita itu menjadi seminar yang sukses, dan kembali membuat decak kagum awak media.
Namun satu hal yang tidak pernah disadari oleh siapapun yang hadir, bahwa di sudut yang lain ada sepasang mata penuh cinta yang sedang memandang takjub dan penuh kebanggaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG