CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
pilihan yang berat


__ADS_3

Ega masih termenung. Tatapannya benar-benar tak bisa di artikan. Sesekali dia menarik nafas panjang dan melepasnya lagi pelan-pelan. Sesekali dia bergumam tak jelas sambil terlihat memikirkan sesuatu.


"Harus mulai dari mana aku ngomong sama mama?", batinnya dalam hati.


Mama Ega bernama Nurul Asy Syifa. Wanita berdarah minang itu hidup bersama pamannya setelah ayah dan ibunya bercerai dan masing-masing menikah lagi. Dari pamannya itulah Nurul belajar berbisnis, dan memulai semua usaha dari nol.


Dia memulai usahanya dari berdagang kaki lima, berkembang menjadi toko kecil dan akhirnya berkembang menjadi mini market yang sekarang sudah memiliki puluhan cabang di setiap kota.


Ega tau betul karakter mamanya sama persis dengan sang kakek. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, maka dia akan berusaha dengan keras untuk mengejarnya. Jika dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan, maka dia akan terus mengejarnya sampai apa yang diinginkannya tercapai.


Karena itulah Ega benar-benar harus berpikir keras, kalimat apa yang harus dia pilih agar mamanya bisa mengerti.


Tak berapa lama, Ega menuju ruang tengah mencari mamanya. Dia menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruang. Dilihatnya di pojok ruang sudah berjejer puluhan parsel cantik berisi bermacam kebutuhan pengantin wanita, yang rencananya akan diberikan kepada Elzata di acara lamaran dan pertunangan mereka selepas wisuda besok.


Melihat itu, tiba-tiba pandangan Ega berubah lagi. Ada gurat kecewa disana. Tinggal melangkah sedikit lagi dan tinggal dalam hitungan hari, momen dimana dia akan menaiki hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius akan tiba. Dan semua sudah dipersiapkan dengan rapi, bahkan segala persiapan boleh dibilang sudah selesai. Namun apa dikata, Allah mempunyai rencana indah yang lainnya.


"Ga....", mama Ega memanggil.


"Iya ma. Ega mau ngobrol, mama lagi sibuk nggak?"


"Enggak, sayang. Apa yang mau kamu sampaikan sama mama?"


"Papanya Elzata meninggal ma"


"Innalillahi..., kok kamu nggak kesana? Nggak ngajakin mama juga untuk melayat"


"Elzata melarangnya, ma. Mamanya belum siap"


"Ohh gitu. Tapi mamanya sudah tidak apa-apa kan sekarang? Trus acara lamaran kamu gimana?"


"Tidak mungkin dihari yang kita sepakati sebelumnya, ma"


"Terus?"


"Hari ini, Ega memohon sama mama. Restui Ega dan Elzata apapun yang terjadi"


"Kamu ini ngomong apa nak? Tidak mungkin mama mempersiapkan semua ini jika mama tidak merestui"

__ADS_1


"Tapi maaaa..., izinkan Ega ke Jepang tanpa Elzata"


"Maksud kamu?"


"Izinkan setelah kami menikah, Elzata tetap di Indonesia untuk merawat mamanya, sementara Ega tetap melanjutkan S2 di Jepang. Tidak mungkin Ega tidak akan kembali ke tanah air sementara istri Ega di Indonesia, ma. Percayalah sama Ega"


"Mama tidak mau ambil resiko kalau disana kamu bisa setia dengan Elzata. Bisa saja kamu nyantol gadis Jepang dan menghianati Elzata"


"Maaa...."


"Cukup Ega. Mama beri kamu dua pilihan. Menikah dengan Elzata tapi tetap di Indonesia, atau tetap ambil S2 mu di Jepang tapi menikah dengan orang lain"


"Ega mohon ma, jangan buat Ega harus memilih salah satu"


"Keputusan mama sudah bulat, Ega"


"Maaa...."


"Cukup!!! Mama tidak mau di debat lagi"


Mama langsung meninggalkan Ega yang masih mematung di ruang tengah. Begitulah mamanya. Jika sudah memiliki keinginan, satu orang pun tidak boleh membantah.


Karena itu, pikiran nakal sang mama mulai memikirkan rentetan gadis yang kira-kira dekat dengan Ega dan bisa menemani Ega study ke Jepang.


"Mereka biasa berenam. Ega, Barra, Arya, Galih, Elzata daaaannnn...., Sera. Ya Sera", gumam sang mama dengan mata berbinar, seolah mendapatkan satu nama yang tepat.


Dan melihat Ega masih termenung di ruang tengah, diam-diam sang mama masuk ke kamar Ega, dan mengambil nomor Sera di ponsel ega yang kebetulan masih tergeletak di tempat tidur.


"Maaa...", suara Ega tiba-tiba mengejutkan.


"Ehh, sayang. Tadi sepertinya ada telphon. Mama mau angkat trus kasih ke kamu. Tapi pas mana sampai kelihatannya sudah dimatikan", jawab mama sekenanya.


"Ohh gitu ma. Makasih ya ma", jawab Ega, sambil memeriksa layar ponselnya.


Ega memandang ponsel dan mamanya bergantian. Tapi sudahlah. "Tidak penting', pikir Ega.


***

__ADS_1


Sementara itu, Elzata termenung. Pikirannya mengembara entah kemana. Beberapa kali suara desahan keluar dari mulutnya.


"Bisakah Ega membujuk mamanya?", batin Elzata dalam hati.


Elzata sangat tahu, bahwa hari ini adalah hari penentuan hubungan mereka. Menikah, atau tidak sama sekali.


Karena sudah tidak sabar menunggu kabar dari Ega, akhirnya Elzata berinisiatif mengirim pesan terlebih dahulu.


"Ga, gimana?"


Pesan yang sangat singkat, tapi berbeda dengan perasaan Ega yang membaca pesan itu. Sebuah pesan yang begitu dalam, dan sangat berat bagi Ega untuk menjawabnya.


Jujur, Ega belum siap dengan jawaban apapun, karena pilihan yang mamanya tawarkan tidak bisa Ega pilih salah satu. Jepang adalah impiannya sejak kecil, sementara Elzata adalah hidup dan matinya.


Namun bukankah Elzata berhak tahu yang sebenarnya?


"Aku sudah ngomongin semuanya sama mama, sayang", akhirnya Ega menjawab.


"Terus?"


"Mama kasih aku dua pilihan. Jepang atau kamu"


Elzata terdiam. Air matanya menghujani pipinya begitu saja tanpa bisa di bendung lagi. Dia betul-betul tahu, bahwa sekolah di Jepang adalah impian Ega sejak kecil.


"Aku tahu Jepang adalah impian kamu, Ga. Aku tidak mau cintaku justru menghancurkan impianmu. Pergilah, dan aku akan ikhlas demi kebahagiaan kamu"


"Sayang, Jepang adalah impianku sejak kecil memang. Tapi kamu adalah hidup dan matiku. Bolehkah aku meminta waktu sedikit saja untuk memikirkan semuanya? Aku janji tidak akan egois"


"Iyaa...", tutup Elzata dengan suara bergetar. Dia sudah tahu apa yang akan dipilih Ega. Pasti berat buat Ega untuk mempertahankan cintanya dan begitu saja membuang impiannya sejak kecil.


***


Ega sangat tahu, gadisnya saat ini pasti sedang menangis. Dan tangisan Elzata adalah kepedihan buat Ega. Jangankan melihat Elzata menangis, melihat wajah kekasihnya itu sembab saja Ega sudah tidak kuat. Tapi ini benar-benar bukan hal yang mudah. Sungguh ini pilihan yang teramat sulit.


Ega merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Pandangannya terus ke atas, terlihat berpikir cukup keras. Apa yang harus dia pilih? Elzata kah? Gadis yang selama ini sudah berjuang keras dan yang menjadi satu-satunya nama yang mampu mengukir cinta di hati Ega. Atau Jepang kah? Impian yang tak pernah terhapus dari benaknya.


Tiba-tiba mata Ega terpejam. Wajah Elzata dan bayangan dia berada di Jepang berputar-putar bagai sebuah slide yang muncul secara bergantian.

__ADS_1


Jadi, apa yang akan Ega pilih?


BERSAMBUNG


__ADS_2