
Di ruang keluarga, Elzata duduk mematung bagai seorang terdakwa yang menanti pembacaan vonis pada sidang terakhirnya. Dia duduk di sebuah sofa, sementara mama dan papanya duduk bersanding di sofa yang berhadapan.
Elzata memberanikan diri untuk menjelaskan. Bahwa dirinya akan fokus menyelesaikan kuliahnya dan akan mengejar obsesinya tanpa bantuan siapapun. Dia tidak mau jika suatu saat nanti dia bisa menjadi sosok negarawan hebat, publik akan menilai bahwa itu adalah bantuan dari pak mentri dan anaknya jika Elzata menerima pernikahan itu.
"Zata mohon, Pa. Biarkan Zata kejar mimpi Zata"
Rahardian, papa Elzata hanya mendengarkan tanpa ekspresi. Sesekali matanya menatap istri yang duduk di sebelahnya seolah mencari dukungan dan masukan, jawaban apa yang harus dia sampaikan kepada putri bungsu yang dia tau betul sangat keras kepala itu. Eta, mama Elzata yang menangkap pandangan suaminya pun hanya tersenyum dan mengangguk pelan, entah jawaban seperti apa itu, hanya mereka yang tau.
Lama, suasana ruang keluarga hening. Tak terdengar apapun, hanya sesekali terdengar tarikan nafas panjang yang kemudian dilepas lagi secara bergantian.
"Papa kecewa sama kamu, nak. Papa tidak pernah menolak apapun permintaan kamu, dan sekarang Papa hanya minta satu saja dari kamu, kamu menolaknya"
Suara Rahardian benar-benar seperti suara petir yang menyambar. Butiran-butiran kristal bening itu tiba-tiba saja menetes di pipi Elzata dan tak mampu tertahan lagi. Harapan yang baru saja terbangun, mungkin akan hancur begitu saja dan terserak menjadi serpihan-serpihan duka yang tercecer entah kemana.
"Tapi papa hargai keputusanmu. Kau sudah dewasa untuk mengambil keputusan terhadap hidupmu sendiri", lanjut Rahardian sambil melempar senyum dan menanti ekspresi putrinya mendengar jawaban yang papanya pilih itu.
Eta pun tersenyum, dan menghampiri Elzata yang mematung seolah tak percaya terhadap vonis papa yang baru saja di dengarnya. Dipeluknya putri kesayangannya itu, dibelainya dengan lembut punggung sang putri yang masih memasang ekspresi terkejut tanpa bergeming sedikitpun.
***
Lagi-lagi Ega gelisah. Dia menanti hasil lobby Elzata kepada orang tuanya seperti apa. Bisakah dia lolos? Atau dipaksa nikahkah dia seperti Siti Nurbaya?
Hari itu waktu terasa berputar begitu lama. Dilihat nya jam tangan dan layar hp bergantian, seperti orang yang membandingkan apakah jam di kedua benda itu menunjukkan angka yang sama.
Ega benar-benar tak tahan. Dia mondar-mandir seperti orang tanpa tujuan. Sesekali dia duduk di sofa. Sesekali dia berguling-guling di ranjang. Tak beberapa lama pindah lagi ke ruang tv, dan sebentar-sebentar balik lagi memandangi hp yang di genggamnya, berharap ada nama Elzata yang memanggilnya disana.
Karena yang diharap tak kunjung tiba, akhirnya dia memilih untuk mengirim pesan duluan.
"Dimana, Za?"
"Di rumah nich. Mungkin baru besok aku balik"
" Kamu dah ketemu mama papa kamu kan? Mereka bilang apa?"
__ADS_1
"Mereka bilang kalau mereka kecewa sama aku, Ga. Kata Papa dia hanya minta satu itu aja dari hidupku, tapi aku malah menolaknya", Elzata sengaja menggantungkan kalimatnya.
Jantung Ega tiba-tiba berdegub kencang, menunggu akhir kalimat Elzata yang tak kunjung datang. Kalau ortunya kecewa, itu artinya....
"Tapi mereka bilang aku berhak memutuskan sendiri atas hidupku"
Ega tersenyum lega.
"Itu artinya?"
"Artinya, besok temenin aku ke perpustakaan. Aku mau cari referensi buat judul skripsiku"
Akhirnya mereka pun tergelak bersamaan, melepaskan beban berat yang luar biasa telah mengekang.
Dan satu pe-er terselesaikan, tinggal Elzata bekerja keras untuk lima bulan ke depan. Akhir tahun harus wisuda. Titik.
***
Adalah pemandangan yang aneh melihat seorang Elzata begitu khusyuknya duduk di perpustakaan seharian. Bahkan sudah hampir 8 semester di kampus itu, ini adalah kali pertama dia menginjakkan kaki disana.
Pemandangan yang tak biasa pun terlihat dari sepasang kekasih itu. Jika biasanya sepasang kekasih akan berdekatan atau berhadapan sambil membaca buku yang sama, atau berdiskusi asyik tentang masing-masing buku yang mereka baca, lain dengan Elzata dan Ega. Mereka memilih untuk duduk berjauhan. Elzata sibuk dengan setumpuk buku di mejanya, sementara Ega berada di sudut yang lain sambil memainkan hp nya.
Sesekali mereka berpandangan dan saling melempar senyum. Sesekali Ega mengepalkan tangannya ke atas, menyemangati. Sementara dengan tekat hati yang kuat, Elzata sibuk sekali mencermati apa saja yang tertulis dalam setiap buku yang di bacanya.
Dalam bukunya, sudah tertulis beberapa judul yang bisa dia ajukan untuk judul skripsinya.
Keesokan harinya, Elzata dengan semangat yang membara menuju kampus pagi-pagi sekali. Setelah memarkir mobilnya, segera saja dia menghadap kaprodi untuk mengajukan judul skripsi yang kemarin sudah dia tulis dengan rapi.
Kaprodi pun memeriksa judul yang diajukannya. Beberapa kali judul yang dia sodorkan ternyata ada yang sama dengan teman jurusannya yang lain. Untung saja dia sudah menyiapkan beberapa alternatif judul, sehingga hari itu juga dia bisa langsung mengganti judul yang sama tadi, dengan judul yang baru.
"Oke. Fiks pake judul ini ya, Za", akhirnya mereka bersepakat
"Siap bu",
__ADS_1
"Kamu mau minta dosen pembimbing siapa?"
Tidak seperti memperlakukan mahasiswa lain, Kaprodi benar-benar menawari Elzata. Mungkin karena Elzata dekat dengan semua pejabat kampus, termasuk pejabat di jurusan sehingga dia sebaik itu pada Elzata. Mungkin juga karena sudah bosan dengan Elzata yang sangat vokal dan provokatif dalam mengkritisi setiap kebijakan kampus, sehingga sang kaprodi ingin Elzata segera hengkang dari kampus. Mungkin juga karena keduanya.
"mmm, menurut ibu siapa bu?"
Elzata justru melemparkan bola panas kepada ibu Kaprodi.
"Mmm, dosen pembimbing 1 pak mosaik, dosen pembimbing 2 pak kajur gimana? Beliau berdua setiap hari masuk dan stay di kantor jurusan. Jadi kamu bisa bimbingan setiap hari jika kamu mau"
Seperti sangat tau kalau Elzata segera ingin lulus, atau seperti sangat ingin Elzata segera selesai biar kampus segera damai tanpa kehadiran Elzata, pilihan kaprodinya terhadap dosen pembimbing Elzata benar-benar sesuai keinginan Elzata.
"Siap buk. Terima kasih"
Elzata segera melempar senyum termanis yang dia punya.
Tak lama setelah itu, segera saja ditemuinya pak mosaik dan pak putut, sang kepala jurusan untuk meminta arahan.
Kedua dosen pembimbingnya itu juga sangat semangat menyambut Elzata untuk segera dibimbingnya. Mungkin juga sudah sangat menginginkan Elzata Lulus, agar tidak membuat pihak jurusan selalu kelimpungan dengan ulahnya yang selalu provokatif.
***
Ditempat yang berbeda, Ega justru gusar. Dilihatnya berkali-kali layar hp nya, berharap Elzata segera memberi kabar.
Akhirnya seperti biasanya, Ega mengirim pesan terlebih dahulu.
"Gimana?"
"Beres"
"Alhamdulillah..."
"Siiippppp"
__ADS_1
Percakapan yang sangat singkat, namun menyimpan makna yang begitu dalam. Akankan akhir tahun Elzata benar-benar bisa wisuda?
BERSAMBUNG