CINTA SI MACAN KAMPUS

CINTA SI MACAN KAMPUS
hari wisuda pun tiba


__ADS_3

Tak terasa, hari wisuda pun tiba. Ada perasaan yang berbeda menghadapi hari bersejarah itu bagi Ega, Elzata dan Sera.


Bagi Ega, ini adalah hari terakhirnya menjadi mahasiswa sekaligus Presiden mahasiswa yang sebenarnya masa baktinya masih 3 bulan lagi. Ada rasa sesak di dadanya harus meninggalkan tugasnya yang sebenarnya belum selesai, namun mau tidak mau dia harus segera lulus demi cita-citanya dan demi masa depannya bersama Elzata.


Bagi Elzata, ini adalah hari yang sangat mengharukan buat dirinya dan sang mama. Bukan karena lamaran yang sedianya akan dilaksanakan malam nanti akhirnya tertunda, karena masalah dirinya dengan Ega hanya persoalan menunggu waktu. Namun lebih menyedihkan dari itu, hari wisuda yang seharusnya menjadi moment bahagianya bersama keluarga justru menjadi moment yang penuh haru biru. Bagaimana tidak? Moment ini adalah moment yang sangat dinantikan sang papa. Namun hanya tinggal menunggu hitungan hari saja, sang papa justru pergi tanpa bisa menunggu hari yang sudah di tunggu-tunggunya sejak sekian lama.


Dan bagi Sera, ini adalah hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia buat dirinya dan juga Ega. Hari dimana Ega akan melamarnya dan mengumumkan pernikahan mereka menurut versi Bu Nurul, sang mama, yang akhirnya kandas begitu saja. Hari yang seharusnya penuh kebahagiaan, namun berakhir dengan keputusasaan.


Dan di hari itu, mereka bertiga akan bertemu dengan perasaannya masing-masing.


***


"Foto bersama dulu yuk guys", sebuah pesan di group whatsapp masuk, dari Barra.


"Oke, kita ketemuan di depan gedung ya", sahut Galih, yang hari itu jauh-jauh dari universitas lain namun tetap menyempatkan diri untuk hadir demi bisa memberi selamat kepada ketiga sahabatnya.


"Oke"


"Oke"


"Oke"


"Oke"

__ADS_1


Arya, Elzata, Ega dan Sera membalas bersamaan. Kebetulan acara ceremonial wisuda hari itu sudah selesai. Semua wisudawan memang sedang asyik berfoto ria.


Hari itu Barra, Arya dan Galih yang kebetulan dari Universitas lain memang belum bisa wisuda akhir tahun. Jadi kedatangan mereka murni untuk memberikan ucapan selamat sekaligus melepas kepergian ketiga sahabatnya untuk kembali ke kota masing-masing dan menoreh masa depannya masing-masing.


Mereka berenam pun akhirnya bertemu. Ada rasa canggung di hati Ega, Sera dan Elzata tanpa di sadari oleh Barra, Arya dan Galih.


Meskipun mereka tetap berusaha untuk bersikap seperti biasa saja, namun Sera dan Ega terus menghindari bertemu mata. Bahkan saat mereka tak sengaja bertatapan pun, mereka langsung berpaling, membuang tatapan mereka begitu saja. Jujur, dalam hati Ega ada perasaan tidak tega melihat Sera yang matanya terlihat sayu, dan berusaha menahan air mata itu. Tapi dia pun tak bisa berbuat apa-apa, dan tidak mungkin juga berbohong, apalagi harus mengorbankan dirinya dan juga cintanya kepada Elzata.


Elzata yang menyadari hal itu, berusaha bertanya malalui isyarat mata kepada Ega, namun Ega justru tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya kepada Elzata dengan nakal. Elzata yang melihat kelakuan kekasihnya itu hanya menggeram kesal.


Selesai berfoto ria, Sera bermaksud pamit untuk menemui keluarga nya dan pulang terlebih dahulu, namun sebelum Sera sempat pergi, Bu Nurul dan Pak Firman, orang tua Ega datang untuk menyapa.


Melihat kedatangan orang tua Ega, masing-masing bersalaman dengan mencium punggung tangan mereka. Tetapi ada pemandangan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun yang melihatnya, ketika bu Nurul bertemu dengan Elzata dan Sera.


Di luar dugaan, sang mama memeluk Sera dan berbisik, "Maafkan tante, ya sayang".


Mendengar itu, Sera langsung mengangguk sambil menyeka air matanya yang sudah tidak tertahan lagi. Untungnya Barra, Arya dan Galih tidak menyadari hal itu karena sedang asyik bersendau gurau dengan Pak Firman.


Hanya Ega yang sesekali melihat adegan haru itu, sambil melirik Elzata secara bergantian, mencari-cari dan menebak seperti apa wajah Elzata melihat adegan sang mama dan Sera.


Wajah Elzata benar-benar memerah. Biar bagaimanapun, selain orang tua Ega yang sangat tahu tentang cerita Sera, Elzata dan Ega adalah orang yang paling mengerti apa yang terjadi. Entah perasaan cemburu atau kasihan kepada Sera, yang jelas tatapan Elzata waktu itu sangat sulit di artikan.


Tak lama, mama Ega melepaskan pelukannya dari Sera dan berpaling ke arah Elzata.

__ADS_1


Melihat itu, Elzata langsung menyapa dan mencium punggung tangan Bu Nurul. Tanpa di duga Bu Nurul langsung mencium kening dan kedua pipi Elzata sambil berbisik, "jaga dirimu buat anak tante ya cantik?"


Elzata mengangguk malu, kemudian mereka berpelukan lama.


Ada tatapan penuh tanya di mata Sera melihat adegan Elzata dan Bu Nurul itu. Seolah membenarkan apa yang menjadi kecurigaan Sera selama ini.


Tiba-tiba rasa benci itu menyelimuti hati Sera.


"Penghianat", gumamnya dalam hati.


Entah apa maksud kata-katanya itu, yang jelas bagi Sera, Elzata adalah penghianat organisasi yang membiarkan dirinya jatuh cinta kepada teman organisasi nya sementara peraturannya jelas, tidak boleh berpacaran. Meski Sera tidak mempunyai bukti apapun, namun perlakuan bu Nurul terhadap Elzata yang dilihatnya tadi sudah cukup memberi Sera jawaban.


Entah hanya karna itu atau karena yang lain, tapi tetap tidak bisa dipungkiri bahwa dalam hati kecil Sera, ada perasaan tidak rela jika Elzata lah yang telah merebut hati Ega.


Sementara itu, Ega tak lagi mempedulikan tatapan membunuh Sera kepada Elzata. Ega justru menikmati pemandangan yang sangat indah dimatanya, dimana dua wanita yang dia cintai sedang berpelukan di depannya. Ya, tidak ada yang lebih membahagiakan buat Ega selain melihat mama dan gadisnya berpelukan dengan begitu mesranya. Dan entah mengapa, Ega benar-benar melihat apa yang dilakukan mamanya kepada Elzata benar-benar tulus dari hati. Begitu juga dengan Elzata, Ega melihat ketulusan itu ada dalam diri gadis yang dicintainya itu.


Elzata yang melihat ekspresi Ega hanya tersenyum bahagia. Dia menganggukkan kepalanya dan memandang Ega penuh makna, seolah ingin mengatakan kepada Ega ucapan terima kasih yang luar biasa atas perjuangan Ega dalam mempertahankan hubungan mereka di hadapan sang mama. Perjuangan yang tentu tidak mudah, sama seperti perjuangan Elzata ketika ada pinangan dari pak mentri waktu itu.


Dan sejauh ini, semua bisa mereka lalui. Apakah perjuangan mereka telah selesai? Tentu tidak. Jalan mereka masih panjang. Ega harus segera berangkat ke Jepang untuk melanjutkan studynya, dan Elzata harus berjuang untuk terus mempertahankan hidupnya bersama sang mama tanpa ada papanya lagi dan tanpa bantuan siapapun.


Bisakah Ega dan Elzata mempertahankan cinta mereka dengan kesibukan masing-masing? Benar-benar tidak ada orang lainkah selama mereka berpisah? Dan benarkah hari bahagia dimana mereka benar-benar bersatu akan tiba? Kita lihat saja nanti.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2