
Dalam perjalanan pulang, ayah dan Damar di hadang oleh beberapa ibu-ibu, yang memperhatikan mobil yang terparkir di depan rumah Elea.
" Assalamualaikum pak RT, selamat pagi, maaf pak RT, ibu-ibu kampung bertanya, sejak semalam ada mobil yang mencurigakan parkir didepan rumah pak RT, sekitar jam 3 pagi, kalau boleh kami tahu, tamu pak RT atau bukan?" Bu Iren bertanya langsung pada ayah Elea.
" Perkenalkan, sqya Damar, calon suami Elea, maaf mengganggu, karena kedatangan saya yang mendadak." jawab Damar yang mampu membuat seluruh ibu-ibu yang datang terkejut.q
"O... calon mantu pak RT,bukankah Elea baru lulus sekolah pak RT, bahkan Elea juga mendapat beasiswa, apa nggak sayang tu pak beasiswa nya, secara banyak orang yang berjuang untuk mendapatkan beasiswa, eee... Elea malah mau nikah, padahal kan pinter banget lo." ejek bu Lasmi pada pak Rt.
"Maaf Bu, saya tidak membatasi Elea untuk tidak kuliah, bahkan saya ingin Elea mewujudkan impian dan cita-cita nya, itu janji saya. pada Eleadan juga ayah Elea."wow jawaban yang mampu menohok semua ibu-ibu yang ada.
Wajah pucat pasi dan terkejut mereka tak mampu merekq sembunyikan lagi, bahkan ada yang tak berkedip melihat kejadian ini.
" Ya sudah Bu, kami pamit dulu, nak Damar juga baru sampai, belum istirahat, mari Bu."ucap ayah Elea pada ibu-ibu yang menghadang mereka.
Setelah berpamitan pada Bu Iren dan yang lain, Ayah dan Damar masuk kedalam rumah, mereka berbincang sebentar, ayah yang melihat Damar masih sangat mengantuk, akhirnya menyuruh calon menantunya untuk tidur di kamar Elea.
" Nak Damar, tidurlah di kamar Elea, Elea sementara tidur di kamar kami." Ayah menuntun Damar untuk masuk ke dalam kamar Elea.
Damar yang memang sedang mengantuk pun langsung merebahkan diri di ranjang single bed milik Elea, Damar menatap seluruh ruangan Elea.
Damar sangat tertegun dengan kesederhanaan Elea, terlihat ruangan Elea hanya di isi dengan single bed, dan meja belajar, serta satu lemari plastik, yang sudah pudar warnanya.
Perlahan-lahan, damar menutup matanya, karena kantuk yang berlebihan,entah berapa lama Damar tertidur, dia tak tahu, hanya saja yang membuat dirinya terbangun adalah suarq azan dhuhur di rumah Elea.
Damar melihat jam di pergelangan tangan kiri nya, dilihatnya jam 12 siang, perlahan diapun bangkit dan duduk di pinggir kasur, selang 5 menit Damar pun keluar kamar, dan mencari kamar mandi di rumah itu, karena Damar tahu, kalau di rumah Elea kamar mandinya satu hanya di belakang.
Damar yang melihat adik Elea pun bertanya, "Dek... kamar mandi di mana ya?"
"Oh di sebelah dapur kak, tapi tunggu dulu ya, aku panggil kak Elea dahulu, biar disiapkan keperluan kakak, duduk dulu kak." Dion pun melenggang menuju musola yang ada di sebelah ruang makan.
__ADS_1
"Kak El, kak Damar mau ke kamar mandi."Dion pun duduk di sebelah ibunya.
" Sana El, siapkan keperluan nak Damar ke kamar mandi, ambilkan semuanya yang baru, dari toko"
Nasehat ibu pada Elea.
"Baiklah Bu, El kedepan dulu." Elea melangkah masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke toko kecil milik ibunya.
Setelah dirasa cukup semua kebutuhan Damar yang di ambil Elea dari toko ibunya, Elea masuk dan mengajak Damar untuk menuju kamar mandi.
"Maaf kak, disini hanya ada satu kamar mandi, jadi mohon di maklumi, mari saya antar ke kamar mandi." Elea mengajak Damar menuju kamar mandi.
Damar pun hanya mengekor kemana Elea melangkah. Tak dipungkiri, rumah minimalis dengan 3 kamar tidur, ruang tamu dan ruang tengah, serta dapur dan kamar mandi yang bersebelahan, terlihat sangat simpel dan tertata rapi, bahkan dapur sangatlah bersih, terlihat dari perawatan nya, yang membuktikan, bahwa Elea bukanlah gadis yang manja.
Setelah meletakkan handuk dan peralatan baru untuk Damar, Elea segera keluar dan meninggalkan damar untuk masuk ke kamar mandi.
Selang 10 m3nit Damar keluar dari kamar mandi dengan wajah penuh ceria, setelah solat duhur di musola dalam rumah, Mata Damar menjelajah seluruh penjuru rumah Elea, bagi Damar, semua yang ada sudah sangat cukup baginya, hanya satu saja yang mengganggu pikirannya, adalah kamar mandi, kamar Elea tak ada kamar mandinya, setelah menikah nanti tentunya, damar akan sangat malu untuk keluar masuk kamar hanya untuk mandi, karena sudah di pastikan damar akan melewati ruang tengah yang biasa digunakan untuk berkumpul.
"Ayah, maaf saya mau minta izin untuk membawa Elea untuk membeli cincin pertunangan." pamit Damar kepada ayah Elea.
"Silahkan nak damar, tapi apa gak makan siang dulu nak Damar? dan apa nak damar tidak pergi ke kantor hari ini?" Ayah yang merasa tidak enak hati, karena Damar harus libur dari kerja.
"Nggak apa-apa yah, sebenarnya Damar pengen makan disini yah, tapi melihat waktu yang tinggal sedikit, sekalian mau beli buat Persiapan pernikahan nanti." Alasan Damar pada ayah Elea.
"Ya sudah... hati-hati di jalan, jaga keselamatan, jangan ngebut, dan jangan pulang kesorean." Ucap ayah pada Damar.
"Baik yah, assalamualaikum" Damar memberi kode pada Elea untuk segera mengekor di belakangnya.
Elea hanya mendengus kesal, ternyata Damar benar-benar tidak main-main dengan keputusan nya untuk menikahinya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Elea berpamitan kepada ayah dan ibunya, dan segera menyusul Damar yang sudah menunggunya di dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, mereka berdua. turun di mall terbesar di kota. Elea yang sedikit terseok-seok, karena langkah kaki Damar yang lebar, membuat dirinya sedikit berlari kecil, untuk menyamakan langkah nya pada Damar.
Sedangkan Damar sendiri tersenyum melihat Elea sedikit kesal, akhirnya Damar menghentikan langkahnya, diraihnya tangan Elea, digenggamnya dengan erat, serta memperlahan langkah kakinya.
Elea yang mendapat perlakuan yang sangat spesial dari kakak sahabatnya, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya ini pun sedikit terkejut. Namun keterkejutan Elea tidak lah lama, akan tetapi, detak jantung Elea yang sangat kencang lah yang menyebabkan dirinya tidak nyaman.
Setelah sampai di roofcourt yang di pilih Damar, Elea yang masih shock pun hanya mampu terdiam dan menunduk malu. keheningan memang tercipta saat itu, namun dengan suara yang meredam gejolak hati Elea, Damar mampu memecahkan keheningan diantara mereka.
"El, kamu mau pesan apa?" tanya Damar pada Elea.
"Ah... samain aja, sama kakak, Elea makan apa aja kok, gak pilih-pilih." jawab Elea dengan tegas, walau jantung dah dig dug der mau copot.
"Ini orang ngajak nikah beneran, memang sih, ganteng, tinggi, pinter, putih, kaya lagi, apa mungkin aku jadi istrinya, secara keluarga kami hanya orang miskin, ah gak tau lah, apa yang akan terjadi nanti, aku jalani aja." Batin Elea yang melihat perlakuan Damar yang tiba-tiba mengajaknya mencari cincin.
" El... kamu kenapa bengong? lihat apa? jangan bengong, nanti kesurupan lagi, aku gak mau ya calon istri ku gila karena kesurupan."leek Damar.
"Enggak kok, lagi lihatin balon aja, tu banyak balon di sana, kayaknya ada yang mau ulang tahun deh." Alasan Elea pada Damar, yang memang didepan mereka sedang lewat balon yang begitu banyaknya.
"Kamu mau aku belikan balon seperti itu?" Damar menelisik wajah Elea, mencari kebenaran disana.
"Enggak kok, aku ... cuma lagi liat aja, bukan pengen." Elea gelagapan menanggapi pertanyaan dari Damar.
Tak beberapa lama, makanan yang mereka pesan pun telah datang, dengan tanpa bersuara, mereka makan dengan diam, merasakan nikmat dari makanan yang mereka pesan.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Damar dan Elea pergi ke toko perhiasan.
Saat masuk ke toko perhiasan, tanpa di sengaja, mereka berdua bertemu dengan mama nya Damar dan sahabatnya Sekar.
__ADS_1
Elea yang minder pun berdiri MEMATUNG, sedangkan Damar malah mendekati kedua orang yang sedang memilih perhiasan dan cincin untuk dirinya dan Damar.
Mama yang mendapat bisikan dari Damar, akhirya menoleh ke pintu, dilihatnya, Elea masih berdiri mematung, dengan kasih sayangnya, mama mendekati Elea yang berdiri di depan pintu.