
"Kalua sayang langsung hamil, ya tidak apa-apa, justru malah kakak senang mendengarnya. Karena kakak akan menjadi orang tua." jawab Damar dengan senang.
"Bener gak apa-apa, soalnya Elea kan mau kuliah." Ucap Elea sembari mengelus dada suaminya.
"Memangnya kalau kuliah gak boleh hamil, kan yang penting ada suaminya, yang jadi masalah itu, hamil gak ada suaminya." Damar mencubit hidung Elea.
"Oke, kalau kakak siap Elea juga siap jadi ibu." ucap Elea Sembari memeluk suaminya.
"Tunggu... tunggu... kenapa sayang nanya soal kehamilan, baru aja kita melakukan itu dari tadi pagi? mana bisa langsung hamil sayang." ucap Damar dengan heran.
"Ya bisa lah, karena hari ini dan dua hari kedepan adalah masa subur Elea, jadi kalau bulan ini Elea gak datang tamu bulanan, ya... bisa di pastikan Elea langsung hamil, apalagi kakak gak mau berhenti." ucap Elea dengan cemberut.
"Hei sayang... aku bahagia sekali, mendengar kamu dalam masa subur, biar nanti anak-anak kita kayak seumuran kamu, seperti mama, sudah punya anak 3, tapi masih muda dan masih cantik." ucap Damar.
Sesaat Elea terdiam, mendengar perkataan Damar. Sebenarnya Elea masih penasaran dengan suaminya, dengan begitu mudahnya Damar menerima persetujuan dari Sekar untuk menikahinya, bahkan kedua orang tuanya pun mendukung Damar. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Elea mencoba bertanya tentang perasaan Damar kepadanya.
"Kak... boleh Elea bertanya sekali lagi?" ucap Elea sembari memandang wajah suaminya.
"Kamu ini, tanya melulu, kayak dalam kelas saja, memang aku guru kamu El, ya sudah... mau tanya apa? nanti kakak jawab." Damar merapatkan pelukannya.
"Sebenarnya kakak terpaksa tidak menikah dengan Elea?" tanya Elea dengan takut-takut.
__ADS_1
"Menurut kamu bagaimana? kakak terpaksa tidak?" Damar memandang manik mata Elea dengan penuh kesungguhan.
Elea menatap Damar, dilihatnya manik mata sang suami yang selalu Elea rindukan selama ini. Tak nampak kebohongan disana. Sesaat Elea menggelengkan kepalanya, dan menatap Damar kembali. Elea mencoba pertanyaan yang lainnya.
"Lalu... apa kakak mencintai Elea?" tanya Elea dalam pelukan Damar.
"Huf... inilah wanita, segala sesuatu nya harus to the poin dan tidak bisa mencerna kiasan, apa selama ini kakak, kurang perhatian pada Elea?" tanya balik Damar pada Elea.
"Tidak, bahkan kakak lebih perhatian pada Elea, dan lebih terbuka, di banding Elea." ucap Elea malu malu.
"Aku tahu, hatimu masih ragu menerima aku Elea, karena semua wanita menginginkan kepastian, dan aku tegaskan padamu Elea... AKU MENCINTAIMU, SEJAK LAMA, DAN SELAMA LAMANYA... AKU AKAN MENCINTAIMU." Ucap Damar dengan suara keras.
Elea yang mendengar pun terkejut, seorang Damar, yang notabenenya orang kaya dan pengusaha muda sukses dan terkenal, bahkan terkenal dengan kepandaiannya. Mencintai dirinya yang tergolong orang miskin dan tidak secantik gadis-gadis yang mengelilingi suaminya.
"Sayang... jangan goda kakak lagi ya, alu kakak masih off ini, nanti kalau bangun kami yang kuawalahan." Damar menggenggam tangan Elea yang sudah nakal.
"Jawab dulu... sejak kapan kakak mencintai Elea." tanya Elea dengan serius.
"Rahasia dong, kalau sayangku ini bisa menemukan sejak kapan kakak mencintai kamu, kakak kasih hadiah besar, dan tak akan terlupakan." ucap damar.
"Nggak asik deh, kakak gak mau kasih tahu Elea ya? kalau begitu... Elea juga gaka akan kasih tahu sejak kapan Elea jatuh cinta sama kakak." Elea beralasan.
__ADS_1
Damar yang hampir saja memejamkan matanya, terkejut seketika, kala istri cantiknya membuat jantung nya berdebar dan berdetak lebih kencang.
"Hei... gadis cantik yang bahenol, sejak kapan kamu mencintaiku?" Damar makin penasaran kala Elea justru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal di kamar mereka.
"Nggak jadi, lagian siapa yang jatuh cinta sama orang jutek kayak kakak, yang ada makan hati terus tiap hari." ucap Elea sedikit marah.
"Oooo... jadi bales dendam ni... kepada kakak? Oke, kita sama-sama mencari tahu sejak kapan di antara kita, yang lebih dahulu saling mencintai, dan yang menang, yang akan dapat hadiah, jadi siapapun yang menang, harus memberikan hadiah, gak perlu mahal, asalkan ikhlas, dan bermanfaat, bagaimana?" tawar Damar pada Elea.
" Siapa takut, sekembalinya kakak dari luar negri, Elea akan kasih kakak hadiah, dan Elea harap lebih berharga dari harta dan benda." ucap Elea dengan tersenyum.
"Aku akan tunggu itu sayang, dan jangan lupa, untuk beberapa hari ini, kakak gak ijinin kamu keluar kamar, karena kakak gak sanggup berjauhan dari kamu." Goda Damar pada Elea.
"Ih... mesum terus kakak ini, apa gak capek gitu terus? Elea aja sangat capek lo kak, badan Elea serasa di pukul-pukul benda tumpul." jawab Elea.
"Pastinya, kan Alu kakak juga tumpul kan? bikin kamu mendesah lagi sayang." Damar semakin gemas pada istrinya yang bahenol itu.
"Capek banget lah, apalagi kakak sedikit-sedikit bangun aja tu Alu kakak, lumpang Elea kan sakit, tiap saat tiap detik tiap waktu di tumbuuuuk Mulu, bisa-bisa bengkak Lo kak." jawab Elea dengan sedih.
Damar yang semakin tak bisa menahan hasratnya, memutuskan untuk bercengkrama dengan keluarga besarnya di ruang tamu.
"Elea... kakak mau ngumpul di bawah saja, biar alu kakak tidak bangun lagi." Damar seketika bangun dan merapikan pakaian nya.
__ADS_1
"Elea gimana dong?