
" Naak, jadilah dirimu sendiri, jangan menjadi orang lain, karena sesuatu yang di awali dengan kebohongan, akhirnya tidak bagus atau tidak baik." Nasehat ayah pada Elea.
" Makasih ayah, Elea akan memakai pakaian yang Elea miliki, dan mensyukuri nikmat Allah, yang telah di berikan kepada kita." Elea tersenyum.
" Nah... itu baru anak ayah." ayah mengacak rambut Elea.
" Ayah... rambut Elea nanti rusak... aaah..."Elea merajuk, dan pergi meninggalkan ayah dan ibunya.
" Ayah kebiasaan deh, Elea bukan gadis kecil lagi yah, sebentar lagi juga pacaran lo, marah kan akhirnya." ibu menabok tangan suaminya yang sering jahil pada Elea.
" Kayak baru kemarin ya Bu, kita menimang Elea, sekarang sudah besar saja." ayah menerawang mengingat masa kecil Elea.
" Iya yah, sekarang sudah menjelma menjadi gadis cantik, dan pintar." ibu merebahkan kepalanya ke pundak ayah.
Sementara itu di kediaman Sekar, Sekar yang sedang rebahan di depan televisi, terdengar suara handphone yang menggema, Sekar terkejut, dilihatnya ada nama sahabatnya yang sangat Sekar sayangi.
" Hallo assalamualaikum, apa kabar Elea?" Sekar membuka percakapan.
" Sekar, ada waktu tidak? aku pengen ketemu sama kamu, kalau sibuk lain kali juga tidak apa-apa?" ucap Elea pada Sekar.
" Eh... aku ada waktu kok, aku jemput kamu sekarang ya, aku ganti baju dulu, tunggu aku ok?" Sekar yang bahagia pun berteriak.
" Ok, kalau begitu, aku juga mau siap-siap, kutunggu di depan rumah ya, love you Sekar, Assalamualaikum." Elea menutup percakapannya.
" Love you to Elea, Waalaikum salam." jawab Sekar.
Tepat satu jam kemudian Sekar datang, tak lupa Sekar menelpon Elea sebelum sampai depan rumah sahabatnya itu.
Suara klakson mobil Sekar sudah menggema, Elea yang masih berada di dalam kamarnya berlari keluar, dan tak lupa meminta ijin pada kedua orangtuanya.
" Ayah, El mau keluar sama Sekar, boleh?"
Ayah memandang putrinya, terlihat di wajah nya, ada beban berat yang menjadi tanggung jawabnya, sebagai seorang anak pertama.
" Kakak mau kemana? jangan sore-sore pulangnya, ingat nanti malam masih ada undangan Lo dari keluarganya." ayah menasehati Elea.
__ADS_1
" Hanya sebentar ayah, habis dhuhur kakak pulang kok, ibu mana yah?" Elea memberi alasan.
" Kayaknya masih nyuci, nanti ayah sampaikan, sudah sana, nanti teman kamu lama menunggu." jawab ayah pada Elea.
" Terima kasih ayah, assalamualaikum." sembari mencium punggung tangan ayah nya, sembari mengikuti Elea yang keluar rumah.
" Waalaikum salam, hati-hati di jalan, jangan ngebut ya nak Sekar." pesan ayah pada Elea dan Sekar.
" Insyaallah ayah... " jawab Sekar dan Elea.
Elea meninggalkan ayahnya berjalan menuju mobil Sekar yang sudah berada diluar rumah, setelah masuk mobil, Elea tersenyum pada Sekar, dan mengucap salam.
" Assalamualaikum... apa kabar sayang ku".sembari memeluk Sekar.
" Alhamdulillah baik cintaku..." membalas pelukan Elea sahabatnya.
Entah mengapa Sekar merasakan Elea sahabatnya menangis dalam pelukan nya saat ini, seakan ada beban berat yang mengganjal ulu hatinya. selama sembilan tahun bersahabat dengan Elea, baru kali ini Sekar melihat Elea sangat rapuh.
" El... menangis lah, keluarkan semua yang mengganjal di hatimu, aku akan membantu kamu, apapun itu, jangan sungkan ya, aku akan tetap menjadi sahabat kamu selamanya." Elea hanya mengangguk dan menuangkan seluruh isi hatinya,dengan tangisan yang sangat menyayat hati bagi yang mendengarnya.
" Yuk kita ke cafe bang Jono, pasti sangat ramai di sana, sekalian cuci mata." ajak Sekar yang di sambut senyuman dari Elea.
" Sudah... nangisnya nanti lagi." goda Sekar pada Elea .
Akhirnya mereka pergi menuju cafe Jono yang menjadi langganan mereka berdua, selain pemandangan yang indah, disana Elea dan Sekar sudah menjadi pelanggan tetap, selama 4 tahun ini. Bahkan pemilik cafe sendiri sudah hafal dengan kedua gadis yang bersahabat lama ini.
Elea memesan minuman dan makanan yang menjadi favorit mereka berdua, selera yang sama, setiap kali selalu apa yang di inginkan Elea, itu pula yang di inginkan Sekar, sehingga, tak sulit bagi mereka untuk memesan makanan apa setiap kali datang ke cafe tersebut, apapun yang di pesankan oleh salah satu diantara mereka, pasti akan habis di makan bersama.
Setelah 10 menit menunggu, makanan yang mereka pesan pun datang, Sekar mencoba untuk membuka percakapan sahabatnya itu.
" El... bisakah kamu bagi masalah kamu padaku saat ini? jangan kau tanggung beban yang berat itu sendirian, kalau aku bisa bantu, Insyaa Allah aku bantu." Sekar memegang kedua tangan sahabatnya itu dan mengusapnya dengan lemah lembut.
" Kayaknya kamu tidak bisa deh membantuku dalam masalah ini Sekar, ini terlalu rumit." Ungkap Elea sedih.
" Serumit apapun kalau aku bisa bantu bagaimana?" Sekar meyakinkan Elea untuk berbagi.
__ADS_1
" Sekar... mungkin dalam bulan ini aku akan pindah ke Sumatera, dan aku takut aku akan pergi dan susah untuk bertemu dengan mu kembali." Elea memulai curhatnya pada Sekar.
" Memang nya keluarga kamu mau pindah ke Sumatera?" selidik Sekar yang mulai kepo.
" Bukan, tetapi aku akan menikah, dan menetap di sana." Elea mulai menitikkan air mata.
" Menikah El? dengan siapa? bukankah kamu tidak punya kekasih?" Sekar tambah bingung dengan pernyataan Elea.
" Pakdeku mau menikahkan aku dengan kakak sepupu ku, dan kalau aku belum memiliki calon suami, mereka tidak akan menyerah, bahkan mengancam akan menculik aku, sebenarnya aku sudah sering di telpon mas Rio, selalu saja meminta ku menikah setelah lulus sekolah ini, tepatnya seminggu lagi." Elea menyeka air matanya yang menetes.
" Kenapa kamu tak bilang padaku?" Sekar sedikit emosi pada Elea.
" Kalau aku bicara sama kamu, apa kamu bisa memberiku solusi? tidak kan? bahkan aku tak memiliki seseorang yang bisa membawaku pergi dari ancaman dan desakan mereka, Ibuku sering menangis, Ayah juga, kehidupan kami sangat penuh dengan tekanan, dan ancaman." Elea menggenggam erat tangan sahabatnya, yang di balas dengan ucapan jari jemari Sekar di punggung tangan Elea.
" El... kalau aku bisa memberikan solusi kepada kamu, apa kamu mau menerimanya?" Sekar menatap manik Elea dwngan oenuh serius.
" Akau bersedia, apapun, asalkan aku dan keluargaku terlepas dari bayang-bayang keluarga angkat ayahku." seketika Elea memeluk Sekar.
" Ok.. aku pegang janjimu Elea, jangan kau ingkari, dan aku harap kamu tidak menyesalinya seumur hidup kamu." Sekar membalas pelukan Elea.
" Insya Allah, aku tidak akan menyesal." Elea semakin mempererat pelukannya pada sahabatnya.
" Janji adalah hutang, jadi harus kamu tepati." Sekar melepas pelukan Elea dan menatap wajah Elea dengan kesungguhan.
" Kapan aku pernah berbohong pada kamu sayang, jadi makin sayang sama kamu." Elea mencubit pipi Sahabatnya.
" Gak pernah, semoga kata-katamu bisa aku pegang, dan tak pernah kamu ingkari." Elea tersenyum mengangguk anggukkan kepalanya.
Senyuman penuh kebahagiaan terpancar di mata mereka berdua, terutama Sekar yang memiliki ide yang terbilang ekstrim untuk Elea.
Setelah selesai mencurahkan seluruh isi hati Elea, Elea dan Sekar memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall terdekat, Sekar bermaksud membelikan dress yang indah untuk di pakai Elea malam ini.
Elea sudah menolak pemberian dari sahabatnya tersebut, namun Sekar tidak mengindahkan perkataan Elea, Sekar sudah membelikan Elea dengan barang-barang branded, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Pukul 1 siang Elea dan Sekar sudah berada di rumah Elea, sesuai janji Elea pada sang ayah, untuk pulang tidak terlalu sore.
__ADS_1