
Saat yang di nanti nanti pun telah tiba, dimana Damar harus meninggalkan Elea di rumah bersama orang tuanya dan kedua adiknya.
Elea menangis dalam dekapan sang suami, orang yang selama satu Minggu ini selalu ada didekatnya.
Elea tak mampu menahan rasa takut dan rindu yang akan di rasakannya nanti.
Elea memeluk suaminya, tak mau melewatkan saat-saat terakhirnya sebelum perpisahan terjadi.
"Sayang... jangan menangis ya, doakan kakak sehat dan selamat sampai tujuan. doakan juga semua urusan kakak segera terselesaikan, jangan khawatir, kakak akan pulang, oke." Damar menaruh kepalanya di pundak Elea
"Jangan bohong ya kak, awas saja kalau gak kasih kabar, kalau sudah sampai di sana." ancam Elea.
" Iya... jangan khawatir, kakak akan kasih kabar, dan ingat, jangan lupa makan yang teratur, takutnya ada Damar junior di dalam sini." ucap Damar menggoda Elea sembari mengusap perut Elea.
"Ih... kakak malu-maluin aja, Elea malu, di lihatin semua orang." ucap Elea yang sudah tersipu malu.
"Hei.. kakak, kamu gak malu apa, di liatin orang banyak di bandara, masih kurang yang semalam?" tanya Cempaka pada Damar.
__ADS_1
"Ya sudah, kakak berangkat dulu, jangan lupa makan yang teratur ya sayangku." ucap Damar sembari melepaskan pelukannya, lalu mencium bibir Elea dengan sangat rakus. Awalnya Elea ingin melepaskan ciuman Damar, namun Damar justru menekan tengkuk Elea, agar tak menarik kepalanya, dan alhasil, ciuman perpisahan pun sudah Damar dapatkan, walau berulang kali Elea memukul dada Damar.
Papa yang melihat kejadian itu pun memukul bahu anaknya, agar segera melepaskan ciumannya.
"Dasar bucin, sudah cukup, kasihan Elea nya Damar." ucap Papa pada Damar. Damar yang mendapat pukulan agak keras pun terkejut, dan akhirnya melepaskan ciumannya dari bibir Elea.
Melihat adanya celah, Elea langsung berlari memeluk sang Mama, karena malu, sedangkan Mama, Sekar dan Cempaka pun hanya geleng-geleng kepala, kebucinan sang kakak yang sudah mendarah daging ini, baru saja di lihatnya, yang mematahkan IMAGE dirinya yang terkenal sebagai pengusaha muda dan sukses, yang memang tidak pernah, terdengar dalam infotainment, tentang skandal percintaan ataupun pernikahan nya. tentu saja berita ini akan tersebar luas dengan beberapa detik saja.
Keputusan Damar mengumbar kemesraan dan kebucinan nya di ranah publik, ini karena Damar sendiri yang sudah tidak mampu menahan gejolaknya dan ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa Damar sang pengusaha muda dan sukses ini, sudah memiliki seorang kekasih atau bisa dikatakan seorang istri.
Setelah melepas Elea Damar berjalan menuju ruang pemeriksaan paspor dan tiket, sebelum masuk ke dalam pesawat terbang.
Setelah tak terlihat dari pandangan mata, Cempaka mengajak kakak iparnya, meninggalkan bandara, di susul dengan Sekar dan kedua orangtuanya.
Kesunyian dan keheningan tercipta di dalam mobil, karena semuanya terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing. Elea yang tidak tahu bagaimana kehidupannya Setelah kepergian suaminya pun hanya mampu menagis dalam hati.
Sesampainya di dalam rumah, Sekar menawarkan diri, untuk mengajak Elea tidur bersama dirinya.
"El... kalau kamu mau tidur sama aku, nggak apa-apa ko, lagian kasurku juga gede lo, muat untuk kita berdua." ucap Sekar mencairkan suasana.
__ADS_1
"Iya El, lagipula biar gak sendirian dan kesepian, gak ada si BUCIN yang nempel terus kayak parasit sama kamu." tutur Cempaka.
"Nggak apa-apa kok kak, nanti juga terbiasa, Elea kan baru terlepas dari PARASIT, jadi pengen istirahat dulu dan memulihkan tenaga." ucap Elea sembari tertawa lepas, melepaskan beban dalam dirinya.
"Kamu bisa aja, ya sudah, kalau sewaktu waktu berubah pikiran, kamu bisa kok ketuk pintu kamar ku ya." tutur Sekar.
"Siap komandan, aku naik dulu ya, makan siang mungkin aku gak turun, jadi nggak usah ketuk pintu, kalau aku lapar, aku turun sendiri." ucap Elea sebelum masuk ke kamarnya.
"Jangan lupa pesan kak Damar padamu Elea, aku laporin baru tau rasa, kakak kalau sudah marah gak bakalan ngomong sampe berhari hari Lo El, makanya jangan membantahnya." pesan Sekar pada Elea.
"Aku akan makan, tapi bener deh, aku capek banget." terang Elea.
" Sekar, Elea kecapekan, jadi biar dia istirahat, seminggu di obok obok kak Damar, pasti kurang tidur dia." ucap Cempaka sembari menggandeng adiknya, menuju kamar nya. Sementara Sekar masih belum paham arti kata Obok Obok yang di ucapkan kakaknya.
Elea hanya tersenyum manis dan masuk kembali ke kamar Damar yang telah menjadi kamarnya pula. Tak lupa mengunci nya dari dalam.
Setelah meletakkan tas dan sepatu yang di pakainya pada tempatnya, Elea merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar, saksi bisu keganasan Damar yang selalu mengajak Elea mengenal artinya surga dunia.
Dirabanya sprei yang menjadi saksi percintaan mereka pagi tadi sebelum berangkat ke bandara, walau dalam seminggu, namun Elea merasa sudah terbiasa dan bergantung pada suaminya, entah kejahilanya, bahkan sikap yang Elea dengar dari sahabatnya Sekar sama sekali tidak pernah Elea lihat selama satu minggu ini, yang Elea lihat suaminya sangatlah manja dan ingin selalu menempel padanya, apapun alasanya.
__ADS_1
"Hah... malam ini aku tidur sendiri." Ucap Elea merebahkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Angan Elea melayang tinggi, saat ini dia tidur sendiri lagi, namun tak sama seperti sebelum sebelumnya, dulu Elea hanyalah gadis desa yang sederhana, dan belum mengerti arti berumah tangga, bahkan Elea sendiri tak mengenal arti bahagia yang sesungguhnya, sebelum Elea mengenal dan menjadi istri seorang Damar.