CINTA SUCI DAMAR DAN ELEA

CINTA SUCI DAMAR DAN ELEA
DASAR MATRE


__ADS_3

Pergumulan siang ini, sungguh memabukkan bagi mereka berdua, di tambah lagi suasana yang mendukung bagi mereka, bayangkan saja dari jam 10 pagi sampai jam 1 siang, mereka tak mampu menahan gejolaknya, bahkan sebentar naik, sebentar turun.


"Setelah mandi dan menunaikan shalat dhuhur, Damar membawa makan siang nya ke kamar, kedua orang tua Damar yang melihat pun hanya tersenyum, sedangkan kedua adik Damar berdehem, dan tertawa lepas.


"Kak... belum kering rambutnya?"


"Usst... nanti kakak kamu marah, biar saja, kan namanya juga pengantin baru, maunya celap celup terus, nanti juga akan berhenti juga." ucap mama pada kedua putrinya.


"Elea apa kabar ya mam? apakah dia akan bangun dan turun untuk makan malam?" tanya Cempaka pada mama.


"Kalau kakak mu belum bosen pasti Elea gak bisa keluar kamar." ucap papa.


"Memang papa dulu seperti itu mam?" tanya Sekar pada sang mama.


" Jangankan dulu... sekarang saja kalau mama mau, papa akan memakan mama." ucap mama.


"Ma... mama kayak tidak tahu saja, ajari anak-anak mama, biar nanti mereka bisa membuat suami betah di rumah." ucap papa.


" Nanti lah pa, mama mau ngajarin Elea dulu, biar damar makin lengket dan gak bisa berpaling dari Elea." terang mama.


"Mama pelit deh, kan Cempaka sebentar lagi juga akan menikah, kasih tahu dong ma." rengek Cempaka pada sang mama.

__ADS_1


"Nanti saja kalau sudah menikah, sekarang belum boleh, apalagi kamu Sekar, jangan pernah macam-macam kalau belum sah." terang mama pada kedua putrinya.


" Mama jahat deh, kami juga kan akan menikah Mama, jadi boleh lah kami tahu rahasianya apa?" rengek Cempaka.


"Oke... tapi jangan lupa tas kremes buat Mama." mama mengeringkan matanya.


" Huh... dasar matre, sudah kaya juga, masih minta sama anak-anak nya yang belum bekerja ma." bela papa pada kedua putrinya.


"Baiklah... mama menyerah." mama meninggalkan mereka bertiga.


Sementara Damar dan Elea saat ini sedang makan siang di dalam kamar, Elea yang di buat Damar tak bisa bergerak dengan bebas. Bahkan seluruh tubuhnya terasa bagai di pukul dengan benda tumpul.


"Kak... Elea sudah besar... masak di suapi" rengek Elea


"Jangan panggil kakak dong, kan sekarang aku sudah jadi suami kamu Elea... " Damar merengek.


"Ih nggak tahu ah... kakak makin manja saja kayak anak kecil." timpal Elea.


"Manjanya sama kamu saja kok sayang, nggak sama yang lain." goda Damar.


"Awas saja ya, goda cewek lain, jangan harap deket-deket sama Elea." ancam Elea.

__ADS_1


"Uuuh... takut... nggak akan sayang..." Damar memeluk Elea dari belakang, saat sedang membereskan piring makanan, sungguh Damar yang sudah bucin tak ingin melepas Elea begitu saja.


"Kakak... lepasin El, mau beresin ini ke bawah."pinta Elea pada Damar.


"Panggil sayang dulu... baru aku lepas." ungkap Damar.


"Ih... nggak mau ah, maksa banget si... " Elea masih saja memberontak.


"Sayang... jangan banyak bergerak, nanti alu kesayangan mu meronta-ronta." bisik Damar di telinga Elea. Elea yang terkejut dengan suara Damar pun akhirnya menyerah dan diam terpaku. Deru nafas tak beraturan dari Damar sangat terdengar di telinga Elea. bahkan Elea sendiri sudah terbawa suasana, tak di pungkiri oleh Elea, diapun sudah mulai terhipnotis hanya dengan pelukan suaminya.


Elea yang mulai kehilangan kesadaran, dengan pelan membelai tangan suaminya. Damar yang melihat Elea sudah terpancing pun membuka kancing baju Elea satu persatu, di bukanya kemeja Elea, di re***nya dua g****g Elea, membuat Elea men****g, di c*** nya pundak putih Elea, Damar melepas kemeja Elea dan membuang ke sembarang arah. Elea yang sudah polos bagian atasnya, hanya mampu mendesah dan melenguh memanggil nama suaminya. Damar yang sudah berhasrat, menganggkat tubuh Elea yang bak gitar spanyol menuju ranjang besar miliknya.


Percintaan mereka tak terelakkan lagi, keduanya sama-sama menikmati percintaan yang mereka lakukan setelah makan siang ini, setelah lelah, keduanya memutuskan untuk mandi bersama, namun Damar tak ingin melakukan di kamar mandi, karena menurut Damar, kalau benih yang di tanam berhasil, Damar menginginkan berada di tempat yang semestinya, bukan di tempat kotor, seperti kamar mandi.


Sesaat setelah mereka mandi bersama, mereka memutuskan untuk rebahan di ranjang besar milik Damar, sebelum adzan asar berkumandang, Elea yang sudah sejak pagi memikirkan tentang kehamilan pun sedikit takut, karena bila di hitung-hitung, hari ini dan dua hati ke depan adalah masa subur bagi Elea, sehingga Elea ingin memastikan pada suaminya apakah bila Elea lebih cepat mengandung, Damar tidak keberatan.


"Kakak... boleh Elea bertanya?" ucap Elea pada Damar.


"Kamu mau tanya apa sayang? kalau kakak mu ini bisa jawab, akan kakak jawab, kalau tidak... buat PR kakak."Damar memeluk Elea.


"Emmmm ... kalau Elea langsung hamil bagaimana?" Elea bertanya.

__ADS_1


__ADS_2