CINTA SUCI DAMAR DAN ELEA

CINTA SUCI DAMAR DAN ELEA
ALU DAN LUMPANG


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar Damar, mereka duduk di sofa di depan jendela, Damar dan Elea sama-sama terdiam, tak beberapa lama ketikan di kamar Damar memecah kebisuan di antara mereka.


Tok


Tok


Tok


,


"Maaf mas, pak Dodo bawa koper milik nona Elea." ucap mbak Marni, di depan pintu.


"Iya mbak, sebentar... " Damar membuka pintu dan menyuruh pak Dodo menaruh koper di sudut ruangan.


"Makasih ya pak Dodo, ucap Elea dengan tersenyum.


"Sama-sama non Elea, say permisi dulu Den, Non." pak Dodo berlalu turun keluar rumah menuju taman.


Damar pun langsung menutup pintu, tak lupa mengunci nya, dan menyalakan mode on pada peredam suara di kamarnya. perlahan Damar mendekati Elea yang sedang sibuk membuka koper nya, bahkan Elea nampak terkejut saat Damar memeluk nya dari belakang.


"Elea... kakak sudah gak kuat, tadi kamu bilang malu di jalan raya kan? sekarang hanya ada kita berdua saja, jadi jangan malu lagi." Damar mengangkat Elea ke dalam pelukannya, dan mendudukkan di atas pangkuannya, di pandangnya Elea dengan penuh hasrat. Damar mendekatkan******* ke ***** Elea, di lu****nya ***** Elea, pertahanan Elea pun runtuh, seluruh tubuh Elea memanas.


Elea benar-benar tak bisa berkutik, saat tangan Damar sudah mulai nakal di depan sana. Lama kelamaan Elea pun terbuai dengan sentuhan yang di buat Damar, bahkan sudah sangat terbang melayang.

__ADS_1


Perlahan lahan Damar membuka satu persatu pakaian Elea, Damar sangat tertegun, gadis cantik tinggi bak gitar spanyol, yang selalu menjadi fantasi nya, kini telah menjadi istrinya. Tak menunggu lama, Damar pun memulai mengekplor seluruh tubuh Elea dengan sentuhan yang membuat Elea mabuk kepayang, dua gunung kembar Elea menjadi korban keganasan Damar, yang sedang menyusu, bahkan lebih rakus, tak lupa area sensitif Elea yang jadi sasaran utama Damar siang ini, saat ini Elea sudah me**** liuk, dan mendesah, menyebutkan nama sang suami yang selalu dia kagumi ketampanan dan kepandaiannya.


"Kak... ah... adek mau ke ka mar man di Du...lu." pinta Elea pada Damar.


"Kenapa sayang..." ucap damar dengan suara yang serak, menahan gejolak di hatinya yang ia tahan sejak kemarin. Damar pun semakin


"Aku mau pipis... ah... lepas, adek gak kuat..."


"Mendesah lah sayang, keluar kan semuanya, tak akan ada yang mendengar, walaupun kamu berteriak."


Mendengar ucapan Damar, justru Elea semakin malu, digigitnya bibir bawahnya, agar tak bersuara lagi, namun Damar yang melihat pun justru mengekplor lidahnya kedalam mulut Elea, yang menambah Elea semakin menggila, ******* pertama pertanda Elea sudah mengalami pelepasan.


"Ah... kakak..." membuat damar tersenyum dan membiarkan Elea beristirahat sebentar saja.


Namun rasa itu berubah 180 derajat, ketika Damar sudah mulai melancarkan aksinya, menumbuk alu dengan naik turun, sensasi berbeda bagi keduanya, penumbukan yang tidak teratur, kadang cepat dan kadang lambat, membuat keduanya mabuk kepayang, besarnya hasrat keduanya yang baru merasakan pertama kali, membuat mereka cepat dalam mencapai puncak.


Saat keduanya merasa sudah tak letih lagu, Damar sudah kembali menyerang Elea, erangan dan ******* menggema di dalam kamar Damar. Berkali-kali mereka melakukan penumbukan, sehingga membuat Elea sudah lelah dan tak sanggup lagi.


"Kak... sudah dulu ya, adek capek banget, ini juga sangat sakit, bener bener sakit kak." Elea merengek pada Damar untuk tidak melakukan penumbukan kembali.


"Ah... baiklah sayang... kakak sudah lega sekarang, kamu hanya akan menjadi miliiku, selama lamanya."


ucap Damar pada Elea.

__ADS_1


Elea hanya mengangguk dan membaringkan tubuhnya di sebelah Damar.


"Kakak... pakailah pakaian mu, dan jangan dekat-dekat, aku malu." ucap Elea menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Hei... kau lupa sayang... padahal baru saja kamu membelai seluruh tubuh kakak, bahkan kamu sudah melihat ALU punya ku, kenapa harus malu lagi?" Damar terheran-heran pada Elea.


" Ih kakak jangan begitu, aku jadi makin tambah malu." Elea semakin merapatkan selimut di tubuhnya.


"Sayang... kayaknya aku harus ngajak kamu ketika keluar negri, kakak gak sanggup jauh-jauh darimu." Damar membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Elea, bahkan melempar nya ke sembarang arah, yang membuat Elea terkejut.


"Kakak nakal deh, aku malu... Elea menutup kedua gunung kembarnya dan area sensitif nya dengan kedua tangannya.


Damar yang melihat pun terkekeh, damar memegang kedua tangan istrinya, dan membentangkan kekanan dan kekiri, sehingga Damar dapat melihat seluruh tubuh Elea.


"Sayang bukalah matamu, lihat betul-betul alu suamimu sekarang, sungguh susah untuk menidurkan nya, sekarang saja sudah berdiri tegak sayang." Damar menyuruh Elea untuk membuka matanya.


Perlahan namun pasti, Elea pun dengan mengintip pelan-pelan, Elea pun melihat nya.


"Kak.... sebesar itukah yang masuk di area sensitif Elea?" tanya Elea dengan menelan salivanya.


"Iya sayang, coba lihat, dia juga sudah bergerak gerak, mau masuk kedalam lumpang nya." goda Damar pada Elea.


"Ah... jangan dulu, ini juga sangat sakit, biarkan aku istirahat barang sebentar kak, rengek Elea pada Damar.

__ADS_1


__ADS_2