Cinta Tak Terbatas

Cinta Tak Terbatas
Maaf


__ADS_3

Maaf


_'jika dengan terluka bisa membuatku dekat denganmu aku rela terluka setiap saat hanya untukmu.’_


_Gerry Mahendra_


Setelah membuat kesal Naura Sakha langsung meninggalkan Story Cafe. Dengan menaiki motor beaarnya Sakha membelah kemacetan menjelang malam. Ia sedikit merasa puas sudah mengerjai Naura hari ini. Esok akan ada kejutan selanjutnya..


Sakha memasuki sebuah kawasan elit di mana rumah orang tuanya berada. Sebuah bangunan mewah dan megah berdiri kokoh diantara bangunan sekitarnya. Rumah dengan dominasi warna putih dengan suasana sekitar terlihat asri karena masih banyak terdapat pohon di sekitaran halaman depan juga belakang.


Sakha memarkirkan motor hitamnya di garasi di mana di sana banyak koleksi motor dan mobil sport miliknya juga milik orang tuanya. Sakha melepas helm dan mengibaskan rambutnya sehingga menampilkan pesona luar biasa tampan.


Sakha masuk rumah di sambut para pelayan yang memang setiap hari di biasakan menyambut sang pemilik rumah ketika pulang.


“Selamat malam tuan muda.” Sapa pelayan.


“Malam, mama di mana?” tanya Sakha.


“Nyonya ada di ruang makan tuan muda.” Jawabnya sambil menunduk.


Sakha tak langsung menemui sang Mama ia lantas masuk ke kamar dan dusuk di meja belajarnya.


‘FAIZZAN ARKHAM IZDHAR’ karena kekuasaanmu aku kehilangan kesempatan untuk menguasai bisnis yang di janjikan Papa. Waktu itu hanya tinggal beberapa langkah saja aku bisa menguasai perusahaan besar yang saat ini kau miliki. Maka dari itu aku sengaja kembali ke masa SMA untuk mendekati adik perempuanmu. Tunggu saatnya tiba sampai Naura jatuh cinta padaku aku akan sakiti dia hingga puas kesakitan ini.’ Sakha menyeringai kecil menatap foto sepasang kakak adik. Foto itu adalah Faiz dan Naura.


Karena sebuah tantangan yang di berikan orang tua Sakha saat mulai memasuki dunia bisnis. Ia di janjikan sebuah perusahaan besar tapi harus bisa bersaing dengan Faiz. Karena sifat Sakha yang suka bersenang-senang dengan dunianya sendiri sehingga ia mengabaikan pendidikan bisnisnya yang membuat langkahnya terhenti karena Faiz lebih unggul dalam semua prestasu pada waktu itu.

__ADS_1


Hingga sampai saat ini Sakha menaruh dendam kepada Faiz. Faiz sudah melupakan kejadian itu karena tiap hari ia di sibukkan dengan kerja dan kerja. Saat Sakha tengah asyik dalam pikirannya sebuah kerukan pintu menyadarkannya. Ia segera bangkit untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.


“Mama,” Kata Sakha.


“Kata bibi kamu sudah pulang, kenapa gak langsung makan sayang. Mama sudah masakin makanan kesukaan kamu ada rendang dan sambal ijo.” Kata mama Kinan.


“Iya Ma, Aka mau mandi dulu abis itu Aka turun biat Makan malam.” Memang sedari kecil Aka adalah panggilan kesayangan Sakha, hanya keluarga dan para pelayan di rumah yang tahu panggilan itu.


“Ok Mama tunggu.” Mama Kinan berlalu meninggalkan kamar sakha.


...


Kembali ke Story Cafe


Ketika Naura masih sibuk merapikan perban di tangan Gerry Luna datang menghampiri. Ada perasaan canggung ketika kepergok sama Luna. Sedangkan Gerry masih belum menyadari kedatangan Luna karena ia masih sibuk menikmati kecantikan wajah Naura.


“Ah, itu tadi ada sedikit insiden.” Jawab Gerry mencoba tenang dan mengontrol emosi jantungnya.


“Kok bisa?” Luna masih penasaran.


“Sudahlah jangan berlebihan ini gak begitu penting. Kita pulang jam berapa?” tanya Gerry mencoba mengalihkan.


“Aku masih pengen ngobrol sama Naura.” Keluh Luna.


‘Bukan kamu saja yang masih ingin berdua sama Naura aku bahkan gak ingin beranjak dari sisi Naura.’ Kata Gerry dalam hati. Tak sadar sedang di perhatikan Luna dan Naura Gerry masih bengong memikirkan Naura.

__ADS_1


“Kak,” panggil Luna. “Kenapa malah bengong sih?” tanya Luna.


“Gak papa. Kapan-kapan kita bisa ketemuan lagi sekarang kita pulang pasti Mama sudah menunggu kita pulang.” Ajak Gerry pada Luna.


“Ok, kita pulang tapi Naura next time kita atur waktu lagi buat ketemuan, kalo bisa sekalian liburan.” Usul Luna yang langsung di setujui Gerry.


“Boleh juga tuh kita adakan liburan keluarga.” Sergah Gerry.


“Nanti aku tanya Kak Faiz dulu.” Jawab Naura.


“Kak Gerry lukanya jangan kena air dulu, maaf aku permisi sebentar.” Naura hendak pergi namun suara Gerry menghentikan langkahnya.


“Tunggu Ra, Lun aku mau bicara sebentar sama Naura kamu duluan aja ke mobil.” Kata Gerry yang di tanggapi Luna dengan anggukan.


“Ra, percayalah padaku suatu saat semua akan menang pada kenyataan. Kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu dan berharap bisa memilikimu seutuhnya. Ini ada sesuatu untukmu tolong jangan di tolak.” Gerry menyerahkan sebuah kotak yang Naura sendiri belum tahu apa isinya.


“Kak, jika suatu saat kenyataan ini akan terasa pahit ku mohon kakak akan tetap baik padaku.” Naura menerima kotak itu antara ragu menerima atau tidak. Menerima takut memberi harapan menolak takut menyakiti. “Tidak usah kak, ini akan memberatkan langkahku. Aku hanya tak ingin mengecewakanmu baik di awal atau pun di akhir.” Naura menolak.


“Ra, please apa pun itu terima ini. Jangan jadikan ini sebagai bebanmu tapi jadikan ini sebagai milikmu. Jadi jika suatu saat kita kalah pada kenyataan pahit masih ada ini yang bersamamu.” Gerry kembali menyerahkan kotak itu dengan hati-hati Naura menerima.


“Terima kasih, pulanglah kasihan Om dan Tante menunggu jangan sampai Luna curiga.” Naura mengingatkan Gerry.


“Baiklah, jaga dirimu aku pulang dulu Assalamu’alaikum.” Gerry mengusap kepala Naura sebelum meninggalkan Naura yang masih terdiam. Dengan lirih Naura menjawab salam dari Herry kemudian berlalu masuk ke dalam ruangannya.


...

__ADS_1


_' Jangan jadikan ini sebagai bebanmu tapi jadikan ini sebagai milikmu. Jadi jika suatu saat kita kalah pada kenyataan pahit masih ada ini yang bersamamu.’_


_Gerry Mahendra_


__ADS_2