
Luka
Setelah mengantarkan Naura ke dokter dan meminta resep terbaik agar luka bakarnya tidak meninggalkan bekas Gerry mengajak Naura untuk makan siang terlebih dahulu. Gerry mengajak Naura mampir ke resto langganan Gerry namun di tolak Naura. Naura minta untuk makan mie ayam favoritnya di kedai mie kang Asep yang ada di dekat rumahnya. Gerry tak bisa menolak karena apa pun yang Naura suka ia juga akan menyukainya.
“Makasih kak sudah mau temenin makan mie, kalo sama kak Faiz pasti gak di bolehin makanya aku jarang banget makan mie.” Kata Amay sambil mencari posisi duduk yang nyaman ketika sudah berada di dalam kedai mie mang Asep.
“Sama-sama sayang, tapi gak boleh sering-sering aku khawatir dengan asam lambung kamu yang bisa kambuh kapan saja.” Tegur Gerry sambil mengusap kepala Naura.
“Iya Kak, tenang saja. Duh gak sabar deh makan mie nya.” Naura antusias sekali saat akan makan mie. Gerry di buat tersenyum melihat wajah Naura yang sangat menggemaskan.
“Sayang, itu lukamu gak papa kan? Mau aku suapi?” tawar Gerry.
“Gak perlu kak, tanganku masih kuat hanya bahu aku yang sedikit perih. Oh ya kak, tolong jangan bilang sama kak Faiz aku khawatir dia akan lebih posessif lagi kalau tahu kondisi aku.” Pinta Naura.
“Iya Sayang, kamu tenang saja. Ya sudah sekarang kita makan terus langsung pulang.” Kata Gerry.
Keduanya sangat menikmati suasana makan berdua seperti ini. Sesekali mereka terlihat saling menggoda dan bercanda seperti biasa. Gerry sangat perhatian dan memanjakan Naura melebihi ia memanjakan Luna.
...
Di sekolah Naura
Faiz baru saja menerima kabar kalau Omanya yang ada di Bandung meninggal dunia karena gagal jantung. Ia segera mengosongkan jadwal meeting siang ini dan harus segera menjem0put Naura di sekolahnya. Sesampainya di sekolah Faiz langsung menuju ruang guru untuk meminta ijin tapi ternyata Naura sudah ijin sejak 2 jam lalu. Itu artinya Naura keluar saat jam istirahat dan tidak biasanya Naura bolos saat jam pelajaran. Itu artinya terjadi sesuatu dari Naura.
Faiz bergegas kembali ke parkiran dan akan menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Naura. Saat akan masuk mobil Faiz melihat Anisa teman dekat Naura.
__ADS_1
“Sa,” panggil Faiz.
“Iya Kak,” jawab Anisa sedikit khawatir kalau Kak Faiz menanyakan tentang Naura. Faiz sudah mencium sesuatu yang tidak beres kemudian hendak menegaskan di mana Naura berada.
“Katakan apa yang terjadi sebenarnya jangan coba berbohong.” Kata Faiz dingin membuat Nyali Anisa menciut seketika. ‘kak faiz kalau seperti ini serem banget, memang bener apa yang di katakan Naura.’ Kata Anisa dalam hati.
“Maaf kak, tadi waktu istirahat ada siswi yang sengaja menumpahkan kuah mi cup panas ke badan Naura. Kemudian Naura meminta kak Gerry untuk menjemputnya.” Jelas Anisa nemun belum selesai Faiz sudah meninggalkannya begitu saja.
‘Gerry. Hanya jika terjadi sesuatu yang sangat genting jika Naura menghubungi Gerry, karena ia takkan berani berterus terang padaku.’ Gumam Faiz selama perjalanan.
Faiz sudah mengetahui keberadaan Naura bersama Gerry di STORY CAFE karena sebelumnya Faiz sudah mengirim pesan pada Gerry ketika Gerry selesai makan siang. Tak butuh waktu lama menuju Cafe milik Naura kini Faiz sudah masuk ke dalam Cafe dan segera menuju ke ruangan Naura.
Saat Faiz membuka pintu ruangan Naura terlihat Naura telah berganti pakaian dan sedang merapikan jilbabnya. Faiz mendekat langsung memegang kedua bahu Naura dengan sedikit tekanan yang membuat Naura sedikit mengaduh kesakitan.
“Aaaww..” Naura sedikit berteriak.
“Gak ada Kak.” Jawab Naura sambil berlalu untuk duduk di sofa.
“Katakan atau kakak yang akan melihat.” Ancam Faiz yang membuat Naura menyerah pasrah.
“Cuma luka bakar sedikit di bahu kak, tadi kak Gerry sudah mengantar ke rumah sakit.” Jawab Naura dengan tertunduk.
“Kakak akan kasih pelajaran padanya yang sudah membuat luka itu .” Sorot mata tajam Faiz tak terima Naura mendapat perlakuan seperti itu.
“Gak usah kak. Sekarang kenapa kakak masih jam kantor sudah sibuk nyari aku.” Tanya Naura mencoba mengalihkan.
__ADS_1
“Sekarang kamu bersiap kita ke rumah oma. Karena oma telah tiada.” Jawab Faiz tanpa basa basi.
“Apa kak? Omaa....” Naura terkejut dan landung berhambur ke pelukan kak Faiz.
“Sudah, kamu tenang takdir Allah tak pernah salah. Kita hanya bisa mendoakan.” Jawab Faiz sambil mengusap kepala Naura.
Gerry ternyata berdiri di ambang pintu saat Faiz mengatakan kabar duka tersebut. Gerry tetap tenang membawa dua cangkir mocacino dan susu hangat kesukaan Naura. Setelah menunggu agak tenang Gerry baru masuk dan menawarkan minum untuk Faiz dan Naura.
“Kak Faiz, Naura, di minum dulu biar lebih tenang. Setelah itu aku akan ikut kalian ke rumah Oma.” Kata Gerry yang hanya di jawab anggukan oleh Faiz.
Di sekolah Naura
Setelah penolakan yang di lakukan Naura Sakha memutuskan untuk berhenti menjadi siswa SMA dan akan kembali ke kantor untuk menyusun ulang rencananya mendekati Naura.
Sakha kini berada di ruang kepala yayasan yaitu orang tuanya sendiri. Untuk membahas rencananya.
“Pa, aku akan kembali fokus ke kantor, tanpa melupakan Naura.” Kata Sakha to the poin.
“Kamu yakin? Sudahlah Kha, lupakan dendammu. Dia gadis yang baik.” Kembali papa Sakha mengingatkan.
“Lihat saja nanti Pa.” Jawab Sakha dengan pandangan tetap lurus ke depan.
...
“jika bukan hari ini, mungkin esok, lusa atau suatu saat ku pastikan kau akan bertekuk lutut padaku Naura.” _Sakha Ardiansyah_
__ADS_1
__ashfa_may __