
Malam Pergantian Tahun (part 2)
Masih menunggu detik-detik pergantian malam tahun baru. Suasana puncak sangat dingin namun tak mengurangi semangat Naura dan teman-temanya bersuka ria menikmati hangatnya api unggun yang semakin menipis.
Naura dan Nisa tak henti berfoto bersama dengan yang lainnya. Saat Rayhan mengarahkan untuk foto bersama Sakha langsung mengambil kesempatan untuk mendekati Naura. Dan satu, dua , tiga, kamera yang mengarah ke semua kelompok menunjukkan posisi Sakha dan Naura yang terhitung sangat dekat bahkan tanpa di sadari oleh Naura Sakha sedang memperhatikan wajah cantik Naura dari jarak yang sangat dekat.
Sudah beberapa kali pose di ambil untuk melengkapi kenangan di tahun ini. Dan Sakha tak hentinya mengambil posisi sedekat mungkin dengan Naura. Jika di lihat dari jarak sepeti ini kamu memang cantik Naura. Tak salah jika aku menyukainya sejak awal kita bertemu. Naura kau memang cantik. Sakha tersenyum sendiri melihat Naura.
“Ok, sekarang kita semua istirahat karena besok pagi-pagi kita harus kumpul kembali untuk menikmati sun rises. Jaga diri dan kesehatan kalian untuk para wanita jika butuh bantuan untuk pergi ke toilet bisa menghubungi Kami.” Rayhan menunjuk dirinya sendiri Sakha dan juga Umar.
“Siappp!!!!’’ jawab mereka serempak. Tampak Naura berjalan bersama Nisa memasuki tandanya. Aulia dan Zalfa juga bergegas meninggalkan kerapian. “Selamat malam Naura, Nisa.”
“Malam juga see you tomorrow.” Naura menjawab dari balik tenda.
Dinginnya malam semakin mengajak mereka bersahabat dengan alam. Meringkuk merapat sedikit mengurangi udara dingin di malam itu. Nisa terlelap sangat nyenyak namun tidak untuk Naura yang sampai sekarang masih terjaga.
“Duuh... kenapa juga malah kebelet sih.” Naura merasakan sebuah panggilan alam menuntut untuk segera.
“Sa, bangun. Aku kebelet nih. Sa, tolonglah sa.!” Masih tetap sama tak ada pergerakan dari Nisa. “Ni anak kalau tidur selalu saja begini sudah banget di bangunin.” Naura masih menggerutu.
__ADS_1
“Gimana nih? Gak mungkin juga aku tahan sampai besok.” Masih berfikir.
“Ya sudahlah coba aja gak boleh takut.” Naura menyemangati diri sendiri dan keluar dari tenda dengan membawa sebuah senter tak lupa sebuah tas kecil yang isinya barang-barang penting yang bisa di gunakan ketika keadaan darurat.
Masih di tempat perapian Rayhan , Sakha dan Umar masih terjaga sengaja memang untuk mengawasi teman-temanya yang tengah beristirahat. “Kha, lo tumben banget ikut acara beginian biasanya ada aja alasan kalau gue ajak.” Kata Umar dengan sedikit tersenyum sinis.
“Pengen cari suasana baru aja.” Jawab Salah yang masih cuek sambil melihat foto-foto di ponselnya. Ia mengunggah sebuah foto yang sempat ia curi ketika melihat Naura sore tadi. Tampak foto Naura duduk menyamping menyaksikan sun set dengan latar cahaya sun set jadi Naura hanya terlihat seperti bayangan hitam. Ia berhasil mengunggah dengan caption
_melihat keindahan di balik kecantikan.. siapa gerangan pemilik kecantikan itu.._
Rayhan yang juga berada di sana hanya sekedar melihat perdebatan antara Sakha dan Umar. Hingga pandangannya tertuju pada langkah seseorang yang melintas dengan membawa senter kecil.
“Gue gak liat tadi. Kenapa emang?” Sakha ikut penasaran.
“Apa sih.. jangan horor deh..” Umar sedikit bergidik horor.
“Gak, tadi gue seperti lihat Naura lewat.” Akhirnya Rayhan ngaku.
“Lo serius Ray? Kita susul!” Sakha langsung berdiri mengikuti arah yang di tunjuk Rayhan.
__ADS_1
Naura masih berjalan perlahan karena perasaanya sedikit takut namun terpaksa ia pergi ke toilet sendiri. Gak mungkin juga jika ia meminta tolong Rayhan pikirnya. “Toiletnya mana sih.. bukannya tadi sore hanya beberapa meter dari tenda.” Naura masih melihat sekeliling mencari tempat yang ia inginkan saat ini.
“Mana gelap banget nih.. aaaarrrrrrggghhhhhh!!!” Naura kaget ketika ada sebuah ular jatuh mengenai bahunya. Dan ular tersebut sedang menggeliat di pundaknya. Naura masih membeku ketakutan tak berani bergerak ataupun berteriak. “YA allah..tolong Aku...” Naura hanya bisa berteriak dalam hati.
Sakha dan Rayhan masih mencari sumber suara yang sempat mereka dengar tadi. “Tadi lo juga dengar kan suara Naura berteriak. Kita harus cari segera.!” Sakha fokus dengan pikiran tertuju pada Naura.
“Naura!” Sakha dan Rayhan sama-sama khawatir melihat Naura dengan Ular masih menggantung dulu baunya.
“Kamu tenang Ra, kami akan bantu kamu.” Sakha mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk menyingkirkan ular tersebut tanpa membahayakan Naura.
Sebuah kayu sudah di genggamnya Rayhan juga ikut berjaga. Perlahan langkah Sakha mendekati Naura dan satu langkah, dua langkah, tiga Sakha berhasil melempar ular menjauh dari tubuh Naura Rayhan dengan sigap menahan ular tersebut agar tak lagi mendekati Mereka. Saat itu juga reflek tangan Sakha menarik tangan Naura hingga terjatuh ke dalam pelukannya.
“Aaarrrggghhhh...” kembali teriak karena terkejut. Kini tubuh Naura masih dalam dekapan Sakha tanpa ada jarak sedikit pun. Dari nafas Naura masih berlarian hingga terdengar jelas di telinga Sakha. Sedangkan Sakha tak hentinya menahan sebulan jantung yang ikut tak beraturan.
“Kamu gak papa? Sakha bertanya.
“Aku gak papa hanya sedikit shock. Tapi apa boleh kamu lepaskan aku sekarang?” keduanya saling pandang melihat posisi mereka.
....
__ADS_1
ashfa_may