
Sakha Ardiansyah
Faiz masih fokus di depan laptopnya untuk membaca semua email yang di kirim Reki asistennya. Semua data tentang SAKHA ARDIANSYAH sudah ia baca secara detail. Sakha adalah anak salah satu dari saingan bisnisnya yang sampai saat ini masih saling memperkuat untuk mendapatkan posisi masing-masing.
BIMA ARDIANSYAH adalah ayah dari Sakha yang terkenal dengan bisnis di dunia hitam. Jalur hitamnya sampai saat ini masih berjalan mulus tanpa tersentuh oleh pihak yang berwajib. Usia Sakha sebenarnya bukan lagi usia pelajar SMA pada umumnya. Ia kembali menempuh pendidikan SMA hanya untuk mencari celah dari kelemahan lawan bisnis dari sang Papa yang tentunya berada pada anak-anaknya tentunya yang masih bersekolah.
Saat ini bisa jadi Amay yang jadi incarannya. Makanya Faiz sangat terkejut ketika mengetahui Sakha mencoba mendekati Amay. Faiz yang kini sudah mengetahui semua rahasia Sakha segera meminta Reki untuk mencari tahu semua info tentang Sakha.
“Aku pastikan kalian akan menyesal jika berani bermain-bermain dengan FAIZZAN ARKHAM.” Gumam Faiz dengan geram.
“Naura, kau adik kakak satu-satunya kakak janji akan menjaga kamu dari apapun yang terjadi. Takkan ku biarkan mereka secuil pun menyakitimu.” Kata Faiz dengan lirih.
Faiz menutup laptopnya dan kini ia merebahkan dirinya setelah mandi tadi tubuhnya lebih terasa fresh. Ia meletakkan kedua tangannya sebagai bantal di kepalanya. Ia menatap langit-langit kamarnya yang dari kecil masih sama dengan masih dengan gambar antariksa namun saat ini gambarnya lebih terkesan dewasa. Bukan lagi gambar kartun seperti waktu kecil.
***
Di puncak
Matahari perlahan membentang menghangatkan setiap insan yang kini tengah beramai-ramai mengabadikan potret indah sang surya.
Empat gadis tampak masih asyik dengan kameranya masing-masing. Berbagai gaya dan pose mereka ambil bergantian. Sedangkan para laki-laki juga masih tenang menikmati kopi panas yang kini tak lagi panas. Udara dingin begitu cepat menguasai kopi panas tersebut.
Sakha masih sibuk mencuri foto Naura ia sangat terobsesi pada Naura. Rayhan sebenarnya juga sesekali mencuri foto lewat ponselnya. Ia lebih menahan diri memendam perasaannya mengagumi ataukah mencintai dalam diam. Itulah Rayhan.
“Guys, coba kalian ke sini ponselku ada jaringan ayo kita live.” Ajak Naura.
“Benarkah? Ayo guys..!” ajak Aulia.
Mereka berempat melakukan live di sosmed Naura. Naura tampak bahagia akhirnya keinginannya untuk menaklukkan puncak gunung kini telah terwujud.
Saat asyik melakukan live video tiba-tiba ponsel Naura bergetar ada panggilan masuk. ‘Kak Faiz' kata Naura.
“Sorry aku angkat telepon dulu ya..” Naura sedikit menjauh dari teman-temanya.
__ADS_1
‘Halo kak.’
...
‘Aku baik-baik saja, kakak tenang saja.’
...
Belum bisa pastikan kak soalnya nanti waktu turun belum tahu juga kondisi jalurnya. Semoga lancar biar bisa cepet pulang.’
...
Gak perlu kak, kakak gak usah lebay gitu. Ok pokonya kalau nanti jam 1 aku belum pulang terserah kakak mau apa.’
...
‘aku juga sayang kakak.’
Naura memutuskan panggilan dari Kak Faiz. ‘kak faiz ada-ada aja masa iya pulang muncak mau di jemput pake heli kan gak seru. Dasar workaholic yang tak pernah tahu rasanya bersenang-senang di alam.’ Gumam Naura sambil kembali ke tenda.
Meski terasa lelah namun tak mengurangi semangat untuk melakukan proses akhir yaitu turun. Saat turun langkah kaki terasa lebih ringan dan mereka bisa santai menikmati setiap pemandangan tang di lewati. Bercanda tawa bersama menepikan rasa lelah.
Butuh waktu sekitar 3jam untuk sampai di basecamp. Kini semua sudah bersiap di mobil masing-masing kelompok. Memang sengaja hanya membawa 3 mobil sesuai kelompok aga menghemat tenaga. Di mobil Sakha ada Naura,Nisa dan Rayhan. Nisa sudah terlelap di kursinya sedangkan Rayhan juga asyik berbicara pada Sakha mencoba mengurangi rasa kantuk. Naura sendiri sibuk membuka semua chat dari Papa, kak Faiz dan juga dari Gerry yang semuanya baru masuk.
//kak, aku sudah perjalanan pulang. Maaf baru bisa balas pesan kak Gerry karena di sana gak ada jaringan. Sampai jumpa salam buat Luna😊//
Naura mengirimkan sebuah pesan pada Gerry. Perjalanan masih cukup panjang Naura mulai merasakan kantuk. Ia mencoba untuk menahan kantuknya karena merasa kurang nyaman jika tidur dalam mobil apa lagi ada laki-laki dalam satu mobil.
“Kalau ngantuk tidur dulu aja Ra,” kata Sakha yang memang sedari tadi memperhatikan Naura yang terkantuk.
“Iya.” Jawab Naura.
“Oh ya, rumah kamu di mana?”
__ADS_1
“Jl. Melati Blok A no. 1.”
“Ok.”
Mobil Sakha mulai membelah jalan yang cukup ramai karena ini hari minggu. Beberapa kali terjebak kemacetan namun Sakha masih sangat sabar ketika mengendarai mobilnya.
‘Satu langkah sudah ku lalui untuk mendekatimu Naura. Sakha gak akan pernah kalah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Naura tunggu saatnya tiba.’ Sakha berbicara dalam hati sambil tersenyum.
Naura tiba di rumahnya menjelang sore karena kemacetan di jalan tak bisa di hindari. Ia juga sempat memberi kabar kakaknya karena khawatir kakaknya akan berbuat yang macam-macam.
“Terima kasih Kak. Mau mampir dulu?” tawar Naura.
“Gak usah Ra lain kali saja. Aku balik dulu.” Sakha berlalu sambil melambaikan tangan.
Naura melangkahkan kaki lelahnya ke dalam rumah. Langkahnya sangat berat terlebih lagi tas ranselnya yang melebihi kapasitasnya. ‘kenapa sampai di rumah jadi sangat lelah ya.. padahal tadi di sana sama sekali gak merasa lelah.’ Gumam Naura yang kinibsudah berada di depan pintu.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Naura.
“Wa’alaikumsalam .. “ Jawab Kak Faiz yang memang dari tadi sudah menunggu Naura di balik pintu.
“Kak Faiz.” Bahagia dan terkejut karena kini kak Faiz yang sudah lama tidak pulang kini ada di hadapannya.
“Kenapa masih di situ? Gak mau peluk kakak?” tanya Kak Faiz.
“Kak Faiz... kakak jahat.. kenapa gak pernah pulang.” Kini Naura berhambur ke dalam pelukan Kak Faiz tak peduli dengan badannya yang kotor ia hanya merasa kangen sama kak Faiz.
“Hey, katanya sang petualang.. baru kangen aja sudah mewek seperti ini.” Sindir Kak Faiz.
Faiz memang sangat hangat kepada keluarganya terutama pada sang adik yang selalu ia manjakan. Faiz mengusap punggung Naura memberi ketenangan. “Sudah, mandi dulu sana kakak ada hadiah spesial buat adik kakak tersayang.”
“Benar kak? Ok kalau begitu aku mandi dulu.” Naura berlalu meninggalkan kak Faiz. “Kak... tolong bawakan ransel aku!” teriak Naura dengan suara manjanya.
“Dasar ni bocah..” Akhirnya dengan terpaksa sang CEO membawakan ransel adiknya.
__ADS_1
♡♡♡
_memilih untuk melindungimu adalah suatu yang pasti. Tak ku biarkan mereka mencelakaimu walaupun seujung kuku._ ‘Faizzan_arkham'