
Perdebatan Gaun
Di butik vani's
Di sebuah butik mewah milik nyonya Vani mamanya Sakha mama Lisa bertemu untuk memilih gaun yang akan di pakai Naura dan Sakha.
“Assalamu’alaikum Bu Vani.” Ucap Lisa dengan sopan karena memang masih sedikit canggung.
“Wa’alaikumsalam , panggil Vani aja. Biar lebih akrab.” Ujar Vani sedikit cerewet.
“Baiklah Van, maaf jadi merepotkan masalah gaun.” Lisa merasa canggung.
“Siapa yang di repotkan? Lagian aku itu sudah cocok sekali sama Naura. Rasanya sudah gak sabar melihat mereka menikah.” Vani antusias di pernikahan Sakha karena memang ia tahu sosok Naira dari dulu.
“Iya , ngomong-ngomong apa kamu sudah memberitahu anak-anak untuk datang ke sini?” tanya Lisa.
“Astaga, kenapa aku bisa lupa. Ok sekarang aku hubungi Sakha.” Vani meraih ponsel di dalam tas dan segera menghubungi Sakha.
Panggilan terhubung..
‘Sayang, kamu di mana?’ tanya Vani.
‘Halo tante,’ sapa Naura karena ponsel Sakha ia yang bawa. Sedangkan Sakha sedang melakukan transaksi setelah memilih satu set berlian putih yang di pilih Naura tadi. Desing sederhana namun tampak elegan.
‘loh, ini siapa? Bukannya ini nomornya Sakha?’ tanya Vani heran kenapa ponsel Sakha di pegang seorang wanita.
‘Maaf tan, ini Naura ponsel Sakha aku yang pegang dia lagi membayar perhiasan yang kami beli tadi.’ Jelas Naura.
‘Astaga sayang.. kebetulan sekali ada kamu. Tolong kamu sama Sakha untuk datang ke butik mamanya sekarang. Kalian secepatnya harus fitting baju. Sudah dulu ya sayang mama tunggu.’
Sambungan telepon terputus sepihak . Naura masih mengamati ponsel Sakha tanpa sadar jari jemarinya menuntun untuk membuka galery. Ada sebuah foto yang sangat cantik. Foto yang sudah beberapa tahun yang lalu Naura pun sudah melupakan peristiwa itu.
“Siapa yang menelepon?” bariton suara mengagetkan Naura.
“Eh, i..itu tadi Tante.. maksud aku mama kamu yang menelepon.” Jawab Naura gugup.
“Apa kata mama?” tanya Sakha.
__ADS_1
“Kita di suruh ke butiknya untuk fitting baju.” Naura berdiri merapikan pakaiannya setelah duduk cukup lama.
“Ya sudah, ayo kita segera ke sana.” Ajak Sakha.
...
Sudah tiga kali Naura mengganti gaun rasa lelah sudah melanda. Entah apa yang di inginkan Sakha karena sejak tadi belum ada gaun yang dia inginkan. Jengah iya tapi Naura berusaha menahan diri.
“Ma, apa tidak ada gaun yang lebih bagus dari semua ini?” Sakha menunjuk tiga gaun yang kini terdampar di atas sofa.
“Kamu ini kenapa sih Kha? Ini semua rancangan terbaik dari mama.” Vani mulai tak bisa menahan dengan tingkah Sakha. Sedangkan Naura terlihat sangat lelah ia memutuskan untuk duduk di sofa sambil memejamkan mata sejenak.
“Maaf ma,” Ucap Sakha. Namun seketika pandangannya tertuju pada gadis cantiknya yang tengah memejamkan mata. Ada perasaan bersalah karena membuat Naura kelelahan pasalnya ketiga gaun tadi cukup menguras tenaga saat memakai juga melepasnya.
“Baiklah ma, aku mau ketiga gaun itu.” Sakha mendekati Naura yang masih terpejam. Bukan tidur ia juga masih mendengar perdebatan antara ibu dan anak tersebut. “Sayang, maafkan aku.” Ucap Sakha yang langsung membuat Naura membuka mata.
“Kenapa mas?” Naura pura-pura tak tahu apa yang terjadi.
“Sudah membuatmu kelelahan.” Ujar Sakha.
“Tidak apa-apa mas, terus gaunnya gimana?” Masih berpura-pura.
“Caffe. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan sebelum cuti, jadi apa bisa kamu antarkan aku sekarang?” Tanya Naura dengan hati-hati.
“Dengan senang hari Nauraku..” lagi-lagi Sakha bersikap sangan manis. Sakha mendekati mama Vani dan mama Lisa yang masih sibuk membahas gaun seluruh anggota keluarga yang akan di kenakan nanti saat akad nikah juga resepsi Sakha dan Naura. “Mama, aku sama Naura pamit dulu masih ada urusan yang harus kami selesaikan.”
“Kalian mau ke mana nak?” tanya mama Lisa.
“Kita mau ke story caffe ma, sekalian makan siang.” Jawab Naura mendekati mama lisa.
“ya sudah kalian hati-hati. Sakha jaga calon mantu mama.” Mama Vani menegaskan kata mantu.
Sakha melenggang begitu saja tanpa menghiraukan apa yang dikatakan Mama Vani.
...
Di caffe
__ADS_1
Naura terus berjalan memasuki story caffe menuju ruangannya. Beberapa karyawan tersenyum ramah menyapa sang atasan. Sakha masih mengikuti Naura dari belakang dengan wajah dinginnya. Tak heran karena yang biasa menemani Naura ke Cafe adalah Gerry namun kali ini mereka di buat heran dengan kehadiran Sakha.
“Kamu mau minum apa mas?” tanya Naura saat sampai di ruangannya.
“Boleh aku minta kopi tanpa gula?” pinta Sakha lembut.
“Baiklah, tunggulah di sana akan aku pesankan.” Ucap Naura sambil menunjuk sofa di sudut ruangan. Sakha menyandarkan tubuh kekarnya di sofa yang tak bisa di bilang besar. Hanya cukup untuk tubuhnya.
Naura menghubungi anak buahnya untuk membuatkan minuman. “Lin, tolong bawakan opi spesial tanpa gula sama alpukat seperti biasanya.” Pinta Naura.
“Baik Mbak, sekalian di bawakan cake tidak mbak?” tanya Luna.
“Boleh Lin, aku tunggu thanks.” Naura menutup panggilan telepon .
Naura kembali fokus dengan pekerjaannya dan membiarkan Sakha istirahat. Beberapa kali terdengar hembusan nafas kasar. Naura sedikit lelah , kenapa begitu sulit data ini untuk di olah. Begitulah gerutu Naura dalam hati.
Sakha tersadar saat ketukan pintu beberapa kali terdengar. Sedangkan Naura sama sekali tidak mendengar karena ia sangat fokus pada benda layar tipis itu. Sakha berdiri untuk membukakan pintu ternyata salah satu karyawan Naura mengantarkan minuman.
“Terima kasih.” Hanya itu yang di dengar Lina. Ia pun langsung pergi . Sakha meletakkan minuman itu di meja kemudian mengambil avocado berniat untuk memberikannya pada Naura.
“Sayang, minumlah.. kau terlalu lelah mematikan biar aku bantu.” Sakha sudah berada di samping Naura sehingga membuat Naura kaget.
“Mas, kamu buat aku kaget. Kapan minuman itu datang?” tanya Naura heran karena sedari tadi ia tak mendengar suara ketukan pintu.
“Sudah, minum sekarang.” Tegas Sakha sambil mengambil alih lap top milik Naura untuk di bawa ke sofa.
Saat Naura menikmati jus alpukat Sakha dengan kecerdasannya mampu menyelesaikan pekerjaan Naura dengan hitungan menit. Naura mendekati Sakha dan duduk di sampingnya.
Sekilas melirik apa yang di lakukan Sakha. “Mas,!” Naura terkejut saat melihat pekerjaannya selesai ditangan Sakha.
“Apa sayang?” Sakha meminum kopinya.
“Mas yang selesaikan ini? Makasih mas, dari tadi aku sudah coba tapi entah kenapa aku gak bisa.” Keluh Naura.
“Iya, apa sih yang gak buat kamu.” Sakha tersenyum menggoda.
...
__ADS_1
Mendapatkanmu bukan untuk hari ini, ini baru langkah pertama.. setapak masih panjang untuk kita lalui bersama.. ijinkan ku iringi langkah dengan rasa ini..
_Sakha Ardiansyah_