Cinta Tak Terbatas

Cinta Tak Terbatas
Sebuah Awal


__ADS_3

Sebuah awal


Malam yang biasanya bahagia untuk pasangan pengantin namun beda untuk pasangan yang baru memasuki kamar yang bernuansa abu klasik itu.


Sakha menggandeng tangan Naura lembut menuntun untuk duduk di tepi ranjang. Rapi dan bersih itu kesan pertama yang menjadi suara hati Naura.


“Mas.”


“Apa sayang?”


“Aku mau mandi tapi mama belum antar koper aku.”


“Kamu tenang saja di salah satu lemari itu sudah mas siapkan semua perlengkapan kamu. Jadi mau mandi sekarang atau nanti?” jelas Sakha sembari melepas jas dan menggulung kemejanya.


“Mas aja yang mandi dulu aku mau melepas semua aksesoris ini.” Kata Naura sambil menunjuk banyak aksesoris yang masih menempel.


“Ya sudah mas mandi dulu.” Sakha mengulas senyum dan mengusap kepala Naura lembut. “Kalau butuh bantuan panggil mas aja.” Lanjutnya.


“Makasih mas.” Naura beranjak menuju meja rias yang di sana sudah tersedia banyak sekali skin care yang di butuhkan Naura. Kamu baik banget sih mas dan tahu semua kebutuhanku.


Tak butuh waktu lama buat Sakha untuk membersihkan diri sakha keluar dari kamar mandi sudah memakai t-shirt putih dan celana pendek senada. Sambil mengeringkan rambut yang masih basah ia melihat Naura sedikit kesusahan melepas mahkota yang masih tersangkut di kain jilbab.


Tanpa bertanya Sakha mendekat dan langsung membantu Naura. Naura sedikit terkejut hingga kedua pasang mata bertemu dalam pantulan cermin.


“Sini mas bantu.” Ucap Sakha lembut. Naura hanya mengangguk canggung. Kedekatan ini paling di hindari Naura. Kedekatan yang nyatanya naura sendiri sama sekali belum siap.


Helaan nafas bergantian menguasai ruang. Sakha mencoba menahan diri untuk tidak terpancing namun hati dan pikiran tak sejalan setelah terlepas Sakha tak kunjung beranjak kedua tangannya terulur menyentuh wajah Naura yang bagitu cantik. Kedua tangan Sakha menangkup kedua pipi Naura perlahan namun pasti Sakha memberanikan diri mengecup kening dengan lembut seketika pertahana Naura luruh. Ada rasa yang tak bisa ia elak dan spertinya menuntut lebih. Tak berhenti di situ Sakha kembali mengecup kedua mata Naura bergantian hingga turun ke hidung dan di kedua pipi Naura. Seolah tiada puas Sakha sedang Naura berusaha menahan diri meski rona merah tak bisa ia tutupi membuat Sakha gemas.


"Mas.. " Akhirnya Naura menyadarkan aksi Sakha sebelum terlalu jauh.


"Iya sayang kenapa? " Tanya Sakha sambil tersenyum lembut.


"Aku mau mandi dulu. " Jawab Naura langsung berlalu meninggalkan Sakha yang masih terpaku gemas.

__ADS_1


Sumpah Demi apapun Ra.. Kamu sudah buat hati ini tak karuan.. Semoga kau segera membalas rasa ini. Gumam Sakha.


Sudah hampir 30 menit Naura tak kunjung keluar membuat Sakha khawatir. Ia berjalan mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk perlahan.


"Sayang.. Kamu baik-baik aja kan?" Sakha menajamkan pendengaran.


"Aku gak papa kok mas.. Cuma.. " Karena tadi menahan malu sampai saat masuk kamar mandi Naura lupa membawa handuk dan baju ganti.


"Ada apa sayang? Jangan buat aku khawatir." Pinta Sakha.


" Aku lupa gak bawa handuk sama baju ganti mas. " Jawab Naura lirih namun masih terdmegar di telinga Sakha.


"Kenapa gak bilang dari tadi Ra.. Kalau kamu kedinginan terus sakit gimana? " Gerutu Sakha sambil memberikan kimono di sela pintu yang sedikit terbuka.


"Terima kasih mas. " Naura kembali menutup pintu. Sedangkan Sakha turun untuk membuatkan susu hangat karena ia tahu kebiasaan Naura sebelum tidur.


"Sayang.. " Panggil Sakha ketika melihat Naura selesai berganti pakaian dengan gaun tidur panjang yang masih tertutup namun tetap terlihat anggun dan cantik.


Tak butuh waktu lama untuk Naura melakukan perawatan karena tak mau suaminya menunggu. Ya.. Lelaki yang kemarin memenuhi hati karena kebencian kini sudah menjadi suaminya yang artinya ia harus siap jatuh cinta.


"Duduk sini. " Sakha menepuk ranjang di samping tubuhnya.


Masih ada sedikit keraguan di hati Naura. Takut akan mengecewakan banyak orang yang selama ini menyayanginya termasuk Sakha. "Mas."


"Mas gak akan maksa., mas hanya minta jangan memberi jarak diantara kita." Sakha menggenggam kedua tangan Naura dan membawanya ke dalam kecupan hangat. Naura merasakan ketulusan Sakha dari tatapan mata yang teduh.


"Maaf. Beri aku waktu dan tetaplah disisiku apapun yang terjadi mas. Ku tahu ini berat untukmu juga untukku tapi aku ikhlas diri ini untukmu. " Jawab Naura diiringi is akan lembut. Sakha langsung memeluk dan menghujani pucuk kepala Naura dengan kecupan.


"Sudah, ayo kita istirahat sebelum dia bangun karena belum ada yg bisa menjinakkan. " Ucap Sakha sambil menatap di bagian inti dirinya sedang Naura mengikuti arah pandang sangat suami seketika Naura memmukul dada bidang Sakha sambil terkekeh.


"Mas.. " Rengek Naura manja sekaligus menahan malu.


...

__ADS_1


Di kediaman Ardi


"Pa, apa Naura akan bahagia? " Tanya Faiz pada papa Ardi saat makan malam.


"Semoga saja nak, papa yakin Sakha lelaki yang bertanggung jawab dan penuh cinta. " Jawab Papa Ardi menguatkan diri.


"Semoga saja Pa, semua ini terjadi juga karena Faiz." Sesal Faiz karena pernikahan Naura dan Sakha ada campur tangannya.


"Jangan selalu menyalahkan diri sendiri nak, anggap saja takdir Naura ada di Sakha bukan Gerry. Bagi papa Gerry sudah papa anggap anak sendiri. Kalian pikir dengan merestui Naura dan Gerry hubungan keluarga akan baik-baik saja? Papa yakin tidak." Papar Papa ArdiArdi.


"Ya sudah pa, Faiz ke kamar dulu ada beberapa berkas yang harus Faiz selesaikan." Faiz beranjak tak lupa mengecup kening sang papa yang sudah menjadi kebiasaan sejak kecil sebelum tidur.


"Ya sayang.. Jangan terlalu larut kerjanya." Pesan papa Ardi melihat Faiz menaiki tangga.


Faiz hanya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh ke belakang. Sesampainya di kamar Faiz benar membuka kembali bebarapa berkas untuk meeting besok.


Hampir tengah malam Faiz bergelut di dengan berkas hingga ketukan pintu menyadarkannya.


"Siapa?" Tanya Faiz dari dalam kamar.


" Kamu belum tidur nak,?" Tanya sang mama.sudah menjadi kebiasaan saat tengah malam mama bangun untuk memastikan anak-anaknya tidur cukup waktu.


"Bentar lagi ma." Sahut Faiz tanpa beranjak.


"Sudah larut sayang," mama masuk dan duduk di sisi ranjang.


"Janji ma, ini tanggung banget. Lima menit ok." Tawar Faiz saat melihat aura mama sudah mulai khawatir.


"Ok, mama tinggal dulu jangan terlalu larut sayang." ucap mama sambil mengusap kepala Faiz dan berlalu meninggalkan kamar anaknya.


"Akhirnya.. kelar juga." gumam Faiz sambil merenggangkan otot. Faiz lekas merapikan semua berkas dan bersiap untuk tidur.


...

__ADS_1


__ADS_2