
Bertahan Atau Melepas
Menatap kehampaan hati saat terpaksa berlabuh di tepian yang tiada teringin. Melepas dia yang selama ini di sisi bukanlah hal mudah. Terlebih lidah ini begitu kelu untuk mengatakan kenyataan ini.
Naura tak bisa memejamkan mata sekejap saja. Ponsel yang sedari tadi berdering dan beruntun notifikasi pesan tak mampu ia lihat. Ia tak berani mengatakan pada Gerry laki-laki yang saat ini memenuhi relung hatinya.
‘Naura sayang, tolong angkat telepon aku. Jangan abaikan aku seperti ini. Jika tak mau bacalah pesanku.’
Begitulah isi pesan terakhir yang di kirim Gerry sebelum Naura memutuskan untuk menelepon Gerry.
Tak butuh lama Gerry seketika menggeser gambar hijau untuk segera mendengarkan suara wanita yang di cintainya.
“Sayang, ..” Gerry belum sempat melanjutkan ucapannya sudah di potong Naura.
“Maaf kak, hubungan kita harus kita akhiri saat ini juga. Sekuat apa pun kita bertahan cinta takkan pernah bersatu. Minggu depan aku akan menikah dengan lelaki pilihan Papa dan kak Faiz. Good night.” Naura segera mematikan sambungan telepon itu tanpa menunggu jawaban Gerry. Karena ia pasti takkan mampu menahan perasaannya. Ia lebih memilih membiarkan posnel itu berdering tanpa di hiraukan.
‘maafkan aku kak Gerry, aku gak bisa menentang keputusan papa. Apa lagi kak Faiz. Semoga kak Gerry bisa menerima kenyataan ini.’ Naura masih larut dalam tangis kepiluan.
Di Rumah Gerry
Lelaki itu tampak frustasi melempar benda yang terjangkau tangannya. Tak luput segelas air minum yang terletak di atas nakas ikut hancur. Mendengar keributan dari kamar sang anak mama Gerry langsung mendatangi Gerry.
‘Astaghfirullah nak, kamu kenapa?” tanya mama panik melihat seisi kamar berantakan semua.
“Ma, apa salah Gerry ma? Gerry sangat mencintai dia ma. Kenapa cinta ini tetap tak bisa menyatu?” Gerry tak berdaya dalam pelukan sang mama.
“Mama sudah pernah bilang nak, jangan kau lanjutkan hubunganmu dengan Naura. Ini yang selama ini mama khawatirkan. Faiz dan mas Ardi takkan membiarkan kamu menikahi Naura.” Mama berusaha menenangkan Gerry.
“Tapi ma..” suara Gerry semakin berat menahan perasaannya. Ingin tubuh kekar itu segera mendekat kepada Naura untuk membawanya ke mana saja asal bersama.
“istirahatlah nak, besok kita cari jalan keluarnya lagi tunggu keputusan papa.” Jawab mama sambil mengecup pucuk kepala sang putra.
....
Keesokan harinya
‘Bertahan tapi menyiksa atau melepas meski hati terluka’
_gerry mahendra _
Di kediaman Ardi
Sakha pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah Naura. Ia berencana akan mengajak Naura untuk membeli cincin pernikahan.
__ADS_1
Saat mereka menikmati sarapan tak ada yang bersuara karena memang sudah kebiasaan keluarga Naura untuk menjaga adab saat makan.
Naura masih tampak kurang semangat ketika mendapatkan pesan dari Sakha mengenai rencana hari ini. Begitu malas Naura menelan semua makanan yang ada di depannya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat semua orang menghentikan sarapannya.
“Naura, tolong kamu lihat siapa yang datang.” Perintah Papa Ardi yang membuat Naura tak bisa menolak. Papa Ardi tahu jika yang datang adalah Sakha jadi beliau sengaja meminta Naura untuk membukakan pintu.
“Baik pa,” jawab Naura beranjak berdiri.
“Iya tunggu sebentar.” Jawab Naura karena mendengar ketukan berulang-ulang. Naura berjalan sambil melihat pesan di ponselnya. Namun ia mengabaikannya sambil membuka kenop pintu. Namun saat pintu terbuka tiba-tiba ponselnya berdering dan saat itu juga Sakha muncul dan mengambil ponsel Naura untuk menjawab panggilan tersebut.
Saat sudah terhubung Sakha segera menutup mulut Naura agar tetap diam. Dengan tatapan tajam ke arah Naura seketika Naura terdiam.
‘Sayang akhirnya kamu mengangkat telepon aku.’ Kata Gerry di seberang sana. Sakha masih diam tak menjawab.
‘Naura sayang , aku mohon bicaralah’ rengek Gerry.
‘Baiklah Naura aku tunggu di taman pagi ini ku harap kau datang meski mungkin ini yang terakhir.’ Panggilan terputus. Karena Sakha yang memutus panggilan tersebut.
“kenapa kamu tidak sopan?” tanya Naura geram.
“Mana ada kau ini calon istriku jadi apa pun urusanmu itu juga urusanku. Kita pergi sekarang setelah aku pamit sama orang tua kamu.
Saat sudah sampai di ruang makan Sakha dengan begitu sopan menyapa dan menyalami tuan Ardi dan juga kak Faiz.
“Assalamu’alaikum om, tante, kak Faiz. “ sapa Sakha ramah.
“Wa’alaikumsalam nak, mari ikut sarapan. Ra, ayo ajak Sakha sarapan kamu tadi juga belum sempat sarapan.” Pinta mama.
“Ayo kita sarapan dulu kak,” ajak Naura tanpa melihat Sakha.
“Maaf om, tante, kak faiz. Kalau di ijinkan saya mau sekalian ajak Naura sarapan di luar.” Ucap Sakhha dengan sopan.
“Boleh saja nak, lagian tadi Naura juga belum sempat sarapan.” Jawab papa Ardi.
“Terima kasih om ,tante. Saya ijin mengajak Naura sarapan di luar sekalian nanti mau beli cincin.” Lanjut Sakha. “Kalau begitu Naura aku tunggu di depan, Assalamu’alaikum ..” pamit Sakha sambil menyalami semua yang ada di ruang itu. Sedangkan Naura bergegas ke kamar untuk mengambil tas.
Tak di ragukan soal ketampanan Sakha dengan balutan t-shirt putih dan paduan jaket warna hitam begitu memesona. Sambil bersandar di pintu mobil Sakha fokus mengecek email yang di kirim asistennya hingga tak menyadari ada sepasang mata tengah memperhatikannya di bibir pintu.
Naura bar3u menyadari ternyata Sakha cowok yang sangat tampan. Ia masih terpaku menikmati pemandangan di depannya. Bahkan saat Sakha menyadari kedatangan Naura, ia masih terdiam. Hingga sebuah usapan lembut mengusik pipi mulusnya. “Apa segitu tampannya aku hingga kau terlalu lama menikmatinya?” Sakha sengaja mengusap pipi Naura.
“Jauhkan tanganmu itu.” Kata Naura dengan ketus.
__ADS_1
“Maaf sayang, ayo kita berangkat.” Ucap Sakha sambil berlalu membukakan pintu mobil untuk Naura.
Sepanjang perjalanan Naura hanya diam menatap luar jendela. Ia berusaha menata hati untuk menerima jalan ini. Terlanjur jatuh cinta namun harus melepasnya. Lelaki yang ada di sampingnya akan menjadi tujuan akhir dari perjalanan cintanya.
Sakha terus memperhatikan calon istrinya. ‘kalau saja dari dulu kamu mau membuka hatimu untukku tak mungkin aku menggunakan cara licik ini. Dari awal tujuanku hanya kamu Naura. Ku yakin kamu akan bisa menerimaku.’ Gumam sakha dalam hati.
Tak terasa mereka sudah sampai di sebuah caffe yang menyediakan spesial menu sarapan. Setelah Sakha mencari tempat duduk yang nyaman ia segera memesan makanan.
“Ada yang bisa saya bantu.” Sapa pelayan caffe dengan ramah.
“Saya pesan nasi goreng spesial 2 minumnya avocado juice 2.” Sakha langsung memesankan menu favorit Naura tanpa bertanya. Seketika Naura terdiam karena Sakha sangat tahu apa kesuakaannya.
“Baik tuan, mohon di tunggu.” Pelayan itu pergi meninggalkan meja Sakha.
Keduanya masih saling diam tanpa suara sebenarnya ingin sekali Sakha memulai pembicaraan namun ia juga ragu.
“Sakha “
“Naura”
Ucap mereka bersama. “kamu dulu, katakan apa yang ingin kau katakan.” Perintah Sakha.
“Bolehkah aku menemui kak Gerry sekali saja. Maaf.” Ucap naura ragu.
“Boleh, tapi harus aku temani. Selepas kita makan kita temui dia.” Ujar sakha sedikit dingin membuat nyali Naura semakin menciut.
“Terima kasih. Mana ponselku?” pinta Naura yang memang sejak kejadian di rumah tadi Sakha membawa ponsel Naura.”
Sakha lantas meraih ponsel di saku jaketnya dan memberikan ponselnya pada Naura. “Pakai ponselku aku pakai ponselmu.”
“Gak mau.”jawab Naura.
“Mau ambil atau tidak semuanya.” Ancam Sakha. Akhirnya mau tidak mau Naura mengambil ponsel Sakha.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ashfa_amay