Cinta Tak Terbatas

Cinta Tak Terbatas
Dia Milikku


__ADS_3

Dia milikku


_saat semua terlepas begitu saja merelakanmu adalah kepastian namun mencintaimu tiada pernah berujung_


Gerry_mahendra


Tak lagi terlihat rapi rambut yang biasanya di pomade kini terlihat berantakan. Namun sama sekali tak mengurangi kadar ketampanan Gerry. Sejak Naura memutuskan hubungan ia sangat frustasi hingga mengurus penampilannya saja tak sempat.


Pagi tadi ia sempatkan mandi setelah barhasil menghubungi Naura untuk bertemu hari ini. Hanya memakai kaos dan celana jeans Gerry tengah duduk di bangku taman kota. Di sudut taman ia memilih untuk menunggu Naura karena di tempat inilah ia sering menghabiskan malam minggu berdua.


‘Ini yang ku khawatirkan selama ini. Dari dulu kak Faiz memang tak menyetujui hubungan ini.’ Gerry berbicara dalam hati.


...


“Kamu sudah selesai?” tanya Sakha dengan suara lembut.


“Sudah, Sakha ..” Naura ingin mengatakan sesuatu namun ia ragu.


“Apa sayang.. apa yang ingin kamu katakan?” tanya Sakha namun seketika wajah Naura memerah karena mendengar Sakha memanggilnya sayang.


“Apa kamu benar mencintaiku?” Tanya Naura sedikit bergetar karena takut.


Sakha tak langsung menjawab pertanyaan Naura. Ia semakin menatap dalam sepasang mata cantik yang ada di depannya seolah menyiratkan kalau tak ada keraguan. “Dari dulu sampai sekarang perasaan ini tak pernah berubah masih sama aku sangat mencintaimu. Apa pernah kamu berpikir mencintai dalam diam itu sungguh menyiksa. Kaulah wanita pertama yang bisa merubah segalanya. Ku harap kamu bisa menerimaku meski belum ada cinta di hatimu. Maafkan Naura..” Sakha memberanikan diri menggenggam tangan Naura. Karena tak ada penolakan Sakha semakin lembut menggenggam tangan Naura. Naura masih tak percaya dengan kejujuran Sakha.


“Sakha..” Naura tak tahu harus berkata apa.


“Bisakah kamu ganti panggilan itu?” Sakha melepas genggamannya.


“Aku harus panggil kamu apa?” tanya Naura bingung.


“Terserah kamu.” Jawab Sakha tersenyum menggoda.


“Ok. Mas.. Sa_kha..” ucap Nuara ragu.


“Coba kamu ulangi?” Sakha semakin menggoda.


“Mas Sakha apa boleh aku meminta sesuatu?” kini Naura sudah mulai biasa dengan panggilan itu.

__ADS_1


“Katakan sayang, apa pun yang kamu inginkan aku akan penuhi asal jangan minta membatalkan pernikahan kita.” Jawab Sakha.


“Bukan itu. Aku hanya minta waktu untuk bisa menerima kamu. Jadi selama itu aku harap kamu jangan meminta hak kamu nanti sebagai suami. Karena..” kata Naura terputus.


“Aku tahu Ra, aku juga gak akan memaksa itu. Aku akan berusaha membuat kamu mencintai aku. Percaya padaku aku akan buat kamu bahagia.” Sakha berusaha meyakinkan Naura.


“Baiklah aku percaya terima kasih.” Naura sedikit lega. Ia kembali teringat janji nya hari ini untuk bertemu Gerry. Namun baru saja akan bertanya notifikasi ponsel Naura terdengar. Sakha segera membuka pesan itu.


//Sayang, aku tunggu di tempat biasa. Love you Gerry//


“Kita berangkat sekarang dan selesaikan urusanmu dengannya hari ini juga.” Sakha beranjak untyk segera pergi dari caffe itu di susul Naura. Naura hanya mengangguk pasrah. Ia lekas memasukkan ponsel Sakha ke dalam tasnya karena memang Sakha tak mau mengembalikan ponsel miliknya.


Hanya lima belas menit perjalanan dari caffe menuju taman yang di sebutkan Gerry. Sampai di sana Naura bergegas menuju tempat yang biasa ia datangi bersama Gerry.


Naura berhenti saat langkahnya hanya berjarak beberapa meter di belakang Gerry. Kakinya seperti tak bertenaga saat ingin mendekat. Namun dari belakang Sakha memberi kekuatan dengan anggukan kepala.


‘bahkan kaki pun ikut mati rasa melihat penampilan Kak Gerry saat ini. Apakah lidah ini nanti masih mampu berucap?’ gumam Naura dalam hati sambil terus mendekati Gerry.


“Kak.” Sebuah panggilan lembut yang seketika menggugah tubuh Gerry untuk beranjak mencari sumber suara.


‘deg' Perasaan yang tadinya membuncah bahagia saat mendengar suara wanita yang ia rindukan kini melebur saat melihat lelaki yang ada di sampingnya. Garry tersenyum getir melihat Naura datang bersama Sakha.


...


Gerry & Naura


“Maaf..” sebuah kata yang cukup mewakili hati Naura.


“Bukan salahmu karena kita tak bisa memaksa cinta.” Sebuah sindiran yang membuat Sakha langsung menatap tajam Gerry dari kejauhan.


“Aku sudah siap jika takdir lebih memilih dia untukmu. Cukup melihatmu bahagia aku tak akan lagi mengusik cinta itu. Karena memang bukan hatiku yang menerima.” Gerry menguatkan hati di hadapan Naura.


“Terima kasih buat semua. Aku yakin ini bukan akhir dari perjalananmu kak, berbahagialah cukup sekali ini kita pernah memaksa cinta untuk berlabuh dalam satu adat yang akhirnya terpisah seperti ini.” Ucap Naura sebelum beranjak pergi.


“Berjanjilah untuk bahagia Naura.” Ucap Gerry saat Naura sudah berjalan beberapa langkah mendekati Sakha.


Teriris. Begitulah perasaan Naura saat mendengar ucapan Gerry. Ia tetap melangkah menghampiri Sakha. Sakha tersenyum penuh kemenangan menatap Gerry. Ingin saat itu juga memeluk tubuh Naura namun ia urungkan karena belum saatnya. “Tunggu aku di mobil.” Ucap Sakha dingin.

__ADS_1


Naura menatap Sakha penuh tanya namun lagi-lagi Sakha meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Akhirnya langkah kecil itu perlahan menjauh meninggalkan kedua lelaki itu.


Sakha mendekati Gerry yang masih duduk di bangku sedang kini Sakha sudah berdiri di samping Gerry. “Dia milikku. Terima kasih ” Sakha menepuk bahu Gerry dan berlalu begitu saja. Namun di langkah ke tiga suara Gerry menghentikan langkah Sakha.


“Jaga dia.” Hanya itu yang terucap di bibir yang penuh kelukaan. Ia bergegas meninggalkan teman yang penuh kenangan dan juga luka.


...


Gerry menyusuri jalan kota membawa separuh hatinya tang masih tertinggal. Terdengar begitu jelas nafas itu begitu berat menghadapi kenyataan hari ini. Cukup bertahan seperti ini, ia akan kembali dalam kesibukannya. Menenggelamkan diri dalam tumpukan map yang sudah lama ia abaikan. Perusahaan Papa Roy menanti di hadapannya. Luna pun demikian ia juga tengah sibuk membantu sang kakak.


Setibanya di kantor Gerry bergegas masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk memperbaiki penampilannya. ‘aku takkan bisa melupakan tentangmu Ra,’ Gerry berbicara lirih sambil membasuh mukanya.


Stelan jas sudah membalut tubuh kekarnya. Lantas ia segera keluar dari ruangan itu ketika mendengar ketukan pintu dari luar.


“Morning kak,” sapa Luna yang muncul dari balik pintu setelah pintu terbuka.


“Morning,” jawab Gerry dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari lap topnya.


“Kak,” Luna sedikit bingung dengan kondisi kakaknya. Tak biasanya ia dingin seperti itu.


“Hemmm.” Hanya itu yang terdengar oleh Luna.


‘Kakak kenapa sih? Kok jadi dingin seperti itu. Coba nanti aku tanya mama.’ Ucap Luna dalam hati.


“Kak lima menit lagi meeting di mulai. Klien kita Tuan Willy sudah berada di ruang rapat.


“Baiklah, kita ke ruang rapat sekarang. “ Gerry bergegas keluar tanpa menunggu Luna. “Jangan lupa siapkan berkas yang dibutuhkan.” Ucap Gerry di ujung pintu.


Gerry melewati semua karyawan dengan suasana berbeda yang biasanya ia bisa tersenyum ramah kini aura dingin menyelimuti dirinya. Tak ada lagi kehangatan itu membuat semua karyawannya heran. "Selesaikan pekerjaan kalian kalau kalian maaih ingin bekerja di sini!" ucap Gerry mengejutkan para karyawan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


_ashfa_may


__ADS_2