Cinta Tak Terbatas

Cinta Tak Terbatas
Pernikahan


__ADS_3

Pernikahan


Senandung lagu cinta namun tak mendamaikan hati. Langkah menerima berseteru akan hati. Percaya takdir merelakan keinginan yang lalu.


Dengan balutan kebaya warna putih panjang menjuntai, butiran mutiara kecil bertebaran menambah rona nan cantik itu. Suasana natural tak mengurangi kecantikan Naura justru terlihat begitu anggun.


Faiz menatap wajah sang adik terlihat sedikit murung ia mencoba memenangkannya.


“Dek,” Faiz duduk di samping Naura di atas ranjang kamarnya merangkul bahu dari samping.


Tanpa suara Naura menatap sepasang mata yang kini menatapnya penuh kasih sayang.


“Maafkan kakak yang tak bisa menolak permintaan Sakha, kakak yakin dia akan membahagianmu karena dia sangat mencintaimu.” Kata Faiz masih dengan pandangan lurus.


“Terima kasih kak, kakak sudah mengantarkan aku ke takdir ini. Aku akan berusaha menerima dan berusaha membalas cinta Sakha.” Naura sedikit tersenyum getir menatap sang kakak.


“Percayalah, dia pilihan untukmu.” Faiz memeluk Naura hangat seolah menyalurkan semangat dengan kasih sayangnya. “Ayo kita keluar, semua sudah menunggu kita. Karena acara akan segera di mulai.” Faiz membantu Naura berdiri dan menuntun saat menuruni tangga.


Benar saja yang dikatakan Faiz semua orang yang di undang dan kerabat Naura maupun Sakha sudah datang. Bahkan Sakha sudah duduk di tempat pelaksanaan prosesi ijab kabul.


Semua mata terperangah saat Naura sampai di ujung tangga. Sakha yang sedari tadi fokus menghafalkan kalimat yang akan di ucapannya sejenak terpaku kehadiran Naura.


Sungguh Naura terlihat sangat cantik hari ini. Terlihat guratan senyum menyapa semua yang hadir di ruangan itu. Naura perlahan mendekati sang Papa dan memeluk pria yang selama ini menjadi pahlawan terbaiknya. Air mata yang sejak tadi ia bendung kini menerobos ujung mata.


“Ayo sayang kamu duduk di sini,” Papa menunjuk kursi di samping kiri dan Sakha berada di samping kanan. Naura hanya mengangguk tersenyum.


“Silakan pak bisa di mulai.” Penghulu memberi arahan sebentar kemudian Ardi memulai menjabat tangan Sakha erat. Naura tertunduk gelisah sesekali melirik kedua tangan kekar itu saling menjabat.


“Saya nikah kan engkau Sakha ardiansyah bin Bima Ardiansyah dengan putri saya Naura Afra Ar Rayya binti Ardi Rosyid dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 190.920.000 juta rupiah di bayar tunai" suara berat namun terdengar lantang.

__ADS_1


“Saya terima nikahnya Naura Afra Ar Rayya binti Ardi rosyid dengan mas kawin tersebut di bayar tunai. “ Sakha mengucapkan dengan satu tarikan nafas. Sakha tersenyum bahagia setelah melafalkan ijab kabul dengan lancar.


“Bagaimana para saksi?” tanya penghulu.


“SAH.” Semua saksi menjawab.


“Alhamdulillah..” tampak raut bahagia di ruangan tersebut. Penghulu membacakan do'a untuk kedua pengantin. Naura meneteskan air mata entah bahagia atau sedih. Bahagia jika ia bisa melihat kedua orang tuanya bahagia namun sedih karena pernikahanan ini bukanlah pernikahan yang ia inginkan.


Sakha mengulurkan tangan agar Naura membalasnya. Sentuhan lembut terasa di kulit Sakha saat Naura meraih tangan itu dan di kecupnya perlahan. Sakha pun mengecup kening Naura yang kini sudah menjadi istri sahnya.


_berbahagialah bersama ku Naura..._


Satu do’a terucap lirih namun masih terdengar jelas di telinga Naura. Keduanya saling menatap dalam. Hingga tepukan di bahu Sakha menyadarkannya.


“Woy.. acara masih panjang... kalian masih betah seperti itu?” tanya kak Faiz mengagetkan Sakha .


“Abang?” Faiz sedikit aneh mendengar. “Boleh juga panggilan itu.” Lanjut Faiz.


“Makasih bang,” Sakha tersenyum sesekali memperhatikan Naura yang masih terdiam dalam senyum kepalsuan.


Acara masih panjang kini Sakha dan Naura berada di dalam kamar untuk berganti pakaian. Sakha masih tenang duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Sedang naura duduk di tepi ranjang dengan tatapan sendu.


‘Naura,, seberat itukah kamu menerima pernikahan ini?’ gumam Sakha dalam hati.


Sakha beranjak mendekati Naura yang masih diam tanpa peduli. Sakha berlutut di hadapan Naura menggenggam kedua tangannya. Naura terkejut dan berusaha melepas genggaman tangan sakha namun sia-sia. Sakha begitu erat penuh kelembutan menggenggam tangan Naura.


“Sayang, maafkan aku tolong beri aku kesempatan untuk membutamu jatuh cinta padaku. Biar ku genggam semua beban di hatimu kita lalui ini bersama.” Ucap Sakha lirih. Tanpa suara Naura membalas Sakha dengan tatapan berlinang. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini.


Sakha menarik tubuh ramping itu dalam pelukan hangat. Naura berusaha menolak namun sakha tetap mendekap tubuh itu hingga Naura semakin merasakan kenyamanan dan akhirnya Naura terdiam menikmati pelukan Sakha.

__ADS_1


Sakha mengusap punggung dan sesekali mengecup ujung kepala yang masih berbalut jilbab. “Sayang, percaya padaku jangan biarkan masa lalu membebanimu.” Sakha mengendurkan pelukan dan kini tangannya mengusap sisa air mata.


“Sayang..” lengkingan suara di iringi terbukanya pintu kamar mengagetkan Sakha dan Naura. Mama Lisa yang masuk tanpa permisi.


“Mama,” ucap Sakha dan Naura kompak karena terkejut.


“ups.. maaf sayang, mama ganggu kalian. Mama Cuma mau kasih tahu sebentar lagi akan ada MUA yang datang untuk membantu memperbaiki riasan kalian.” Lanjut Mama Lisa tanpa berdosa.


“Iya ma, makasih, aku ke kamar mandi dulu Ma, mas.” Pamit Naura karena setengah malu di pergoki sang mama mertua karena salah paham.


“Mama kenapa gak ketuk pintu dulu. Pending kan jadinya..” gerutu Sakha yang justru membuat Mama Lisa gemas.


“Mama sudah minta maaf sayang, tahan dulu lanjut nanti malam.” Goda Mama Lisa. “ ya sudah mama keluar dulu jangan lupa makan siang nanti ada orang yang akan mengantar makan siang kalian ke sini.” Mama Lisa berjalan meninggalkan Sakha yang masih kesel.


...


“Sudah berapa kali kamu mencuci muka Gerr..?” seru mama bella melihat sang putra yang bolak balik ke kamar mandi untuk mencuci muka.


“Ma, apa aku gak usah datang aja ke pernikahan Naura.” Gerry frustasi karena masih belum menerima takdir ini.


“Jangan gitu sayang, tunjukan kalau kamu bukan lelaki lemah. Ayo buruan papa sudah nunggu di depan. Luna juga pasti sudah ngambek nungguin kamu nak.” Mama Bella mengusap pipi Gerry penuh kasih sayang seolah menyalurkan kekuatan untuk sang putra.


“Bentar lagi ma, Gerry rapikan penampilan gerry sebentar.” Gerry nerlalu kembali ke kamar untuk mengambil hadiah uang sudah dia siapkan.


‘Ku yakin kan langkah ini untuk melihatmu bahagia, jika bukan aku yang berujung padamu ku harap hati ini juga akan menemukan ujung tanpamu.. terima kasih untuk cinta yang pernah singgah melukis senja yang tak pernah menemukan pagi bersamamu.. untuk hati yang pernah terpaut meski tan menyatukan takdir.. salam bahagia untukmu Naura .. dari aku Gerry mahendra..’


Kembali Gerry membaca surat untuk Naura sebelum ia masukkan di bungkus kado itu. Gerry menghela nafas dalam-dalam kemudian dengan langkah cepat menghampiri keluarganya yang sudah menunggu sedari tadi.


....

__ADS_1


__ADS_2