
Terpaksa Menerima
Lima Tahun kemudian..
_'pergilah kak, cinta ini akan terus menyiksa jika kita tetap bersama. Kita tak bisa lagi memperjuangkan cinta ini.’_
Naura_ArRayya
“Sampai kapan pun kakak gak akan pernah merestuimu dek, lupakan Gerry!” Kak Faiz berbicara sedikit meninggikan suara ketika Naura berusaha memperjuangkan cintanya
“Tapi kak?” Naura ingin membantah namun tak mampu.
“Masuk kamar! Dua jam lagi keluarga Sakha akan datang melamarmu dan minggu depan kalian harus menikah. Kakak harap kamu tidak menolak.” Faiz semakin menekan adiknya untuk menerima perjodohan ini.
Flash back on..
Beberapa waktu yang lalu Sakha berhasil menekan perusahaan Faiz dan milik orang tuanya. Alhasil Sakha memin5a imbalan Naura untuk menjadi istrinya. Mau tidak mau demi mempertahankan nasib ribuan karyawan Faiz menerima tawaran Sakha.
Mama dan Papa sudah tak lagi campur tangan dengan perusahaan Faiz, jadi ketika Faiz menceritakan niat Sakha menikahi Naura Orang tuanya setuju aja. Karena Mereka tidak mengetahui latar belaka. Sakha. Yang mereka tahu Sakha pengusaha muda yang sukses dan baik.
Flash back off...
Satu jam berlalu tanpa ada pergerakan Naura. Dia terdiam duduk di sisi ranjang. Baju yang sudah di siapkan kak Faiz masih ia pandangi dengan tatapan kosong tak berarti.
“Sayang, mama masuk ya..” pinta mama.
Tanpa menunggu jawaban Naura, Mama masuk dan melihat kondisi putrinya sedikit terheran. Pasalnya Naura masih belum bersiap.
“Kamu kenapa sayang?” tanya mama.
“Aku gak papa ma Cuma lelah aja.” Jawab Naura mencoba menutupi perasaannya.
“Kamu buruan mandi sayang sebentar lagi keluarga nak Sakha datang, biar mama siapkan air buat mandi biar kamu lebih tenang “ ucap Mama sambil masuk ke kamar mandi.
...
Lelaki bertubuh tinggi putih paras tampan yang banyak di gilai para wanita. Namun ia tetap sama seperti dulu menginginkan Naura untuk menjadi miliknya. Apa pun caranya ia lakukan agar bisa memiliki Naura.
Sakha duduk di samping sang papa yang pesonanya tak kalah keren. Hanya usia yang menjauhkan perbedaan mereka. Sakha cukup santai malam ini, ia hanya memakai jeans hitam dan juga kemeja hitam yang lengannya di gulung sampai siku.
“Malam Bim.” Sapa Papa Naura.
“Malam juga Ar. Lama sekali kita tidak bertemu.” Jawab papa Naura.
“Gak nyangka kita bakal jadi besan. Ku kira kau masih dendam padaku.” Ucap Papa Sakha sedikit tertawa sinis.
“Jodoh kita juga menjadi besan Bim. Hampa jika masa lalu kita tak ada varian cerita. Sekarang kita nikmati masa tua dengan melihat anak-anak kita bahagia.” Jawab papa Naura dengan bijak.
“Kau benar, kalau boleh tahu mana anak gadismu itu?” tanya papa Sakha sambil melihat sekitar belum terlihat Naura.
__ADS_1
Saat akan beranjak memanggil Naura Faiz terlebih dulu muncul di ujung tangga. Sambil memainkan ponselnya.
“Kak, tolong kau panggil Naura sekarang.” Pinta Papa.
“Baik Pa.” Faiz kembali menaiki tangga menuju kamar Naura.
“Dek, “ belum ada jawaban.
“Dek, kakak boleh masuk?” tanya Faiz di balik pintu. “Kakak masuk ya.” Tanpa menunggu jawaban sang adik Faiz masuk ke kamar Naura.
Naura masih termenung di depan cermin dengan tatapan kosong. Sedang tangannya masin trrgerak merapikan pashmina dengan sebuah bross berwarna silver. Faiz mendekati Naura dan memegang kedua bahunya.
“Maaf kakak yang tak bisa berbuat apa-apa. Kakak hanya berharap kebahagiaanmu kelak bersama Sakha. Ayo kita turun.” Faiz mengecup pucuk kepala Naura dan membantu Naura untuk berdiri.
Naura berjalan di belakang Faiz, tiba-tiba saja langkahnya terhenti memanggil kakaknya.
“Kak,” panggil Naura.
“Ya,” faiz menengok ke belakang dan saat itu juga Naura berhambur ke pelukan Faiz dengan penuh kehangatan Faiz membalas pelukan Naura.
“Kak, apa Mama akan bahagia jika aku menerima lamaran Sakha? Apa Papa dan kakak juga akan bahagia jika melihatku menikah dengan Sakha?” tanya Naura dengan hati bergetar.
“Semua akan bahagia sayang, kakak dan Papa sudah percaya Sakha. Yang pasti Mama akan bahagia.” Sebenarnya Faiz tak tega memaksa Naura untuk menikah dengan Sakha. Sejak dulu memang Sakha adalah rival yang sangat kuat sampai saat ini. Tapi sebenarnya Sakha memiliki pribadi yang sangat baik. Makanya Faiz menerima tawaran Sakha pada waktu itu.
“Aku sayang kakak.” Kata Naura mengakhiri pelukannya.
Di ruang Tamu
“Malam Om, Kha..” sapa Faiz sambil menyalami kedua lelaki itu.
“Selamat malam Om.” Naura ikut menyapa Papa Sakha dan dan kepada Sakha Naura hanya tersenyum tipis.
“Duduk di sini nak,” ajak Papa agar Naura duduk di samping Sang Papa.
“Anak gadismu memang sangat cantik Ar, pantas saja.” Ucap papa Sakha sambil melirik Sakha. Sedang Sakha sedikit melotot agar papanya tidak melanjutkan perkataannya.
“Pantas apa Bim?” tanya Ardi penasaran.
“Sudahlah kita lanjutkan rencana kita.” Papa Sakha mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah.” Papa Ardi menyetujui.
“Kedatanganku kemari mau membicarakan tentang anak-anak kita. Naura, apa kamu bersedia menjadi istri Sakha?” tanya Papa Bima langsung to the poin.
“Bagaimana nak?” tanya papa Ardi.
‘aku harus bagaimana , aku tak ingin mengecewakan papa. Tapi kak Gerry..’ batin Naura yang masih terdiam.
“Bismillah. “ ucap Naura lirih. “ Naura bersedia menjadi istri kak Sakha.” Jawab Naura dengan sedikit bergetar.
__ADS_1
“Kamu serius Ra?” tanya Sakha tak percaya. Namun Naura hanya mengangguk diam.
“Akhirnya kita akan jadi besan. Ok untuk tanggal pernikahan kita percepat saja.” Usul papa Bima.
“Pa, Naura ke belakang dulu.” Pamit Naura.
Bi, Rumi dan mama sudah selesai memasak jadi Naura tinggal-menata makanan di atas meja makan. Namun saat tengah serius menata makanan tiba-tiba Sakha sudah duduk di dekat Naura. Naura sedikit terkejut namun tetap berusaha tenang.
“Kamu? Ngapain ke sini?” tanya Naura pada Sakha.
“Aku Cuma mau lihat calon istri.” Goda Sakha namun tak membuat Naura luluh. Karena hatinya masih di penuhi Gerry.
“Dari pada kamu di sini gak ada kerjaan sebaiknya kau panggil yang lain untuk makan malam.” Pinta Naura.
“Dengan senang hati Naura..” jawab Sakha lagi-lagi dengan menggoda.
Sakha kembali ke ruang tamu di mana Sang papa juga papa Ardi tengah berbincang santai yang terkadang terselip urusan bisnis. Faiz pun ikut larut dalam obrolan kedua lelaki paruh baya itu. Dengan terpaksa Sakha menyela untuk menyampaikan bahwa makan malam sudah siap.
“Maaf Om, Pa, Kak Faiz. Makan malam sudah siap. Kita di tunggu Naura di ruang makan.” Ucap Sakha dengan sangat sopan.
“Ok, kita makan malam dulu setelah itu kita lanjutkan menentukan tanggal pernikahan.” Ajak Papa Ardi.
“Baiklah.” Ketiga lelaki itu bangkit menuju ruang makan.
Mereka sangat menikmati makan malam di rumah Naura dengan sangat tenang. Tak ada pembicaraan selama makan. Hanya terlihat Sakha berkali-kali mencuri pandang pada Naura. Setelah selesai papa Bima membuka suara.
“Naura, duduklah.” Perintah papa Ardi saat melihat Naura hendak beranjak membereskan sisa makan malam.
“Iya Pa,” jawab Naura kembali duduk dengan tenang.
“Papa dan Om Bima sudah memutuskan untuk pernikahan kalian akan diadakan minggu depan.” Kata Papa Ardi.
“Apa Pa? Apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Naura sedikit terkejut.
“Tidak sayang, lebih cepat lebih baik. Bukankah begitu ma? “ tanya papa Ardi pada istrinya.
“Terserah papa saja.” Jawab mama pasrah.
Pertemuan kedua keluarga itu akhirnya berujung dengan kepuasan di pihak Sakha. Tak henti Sakha berucap dalam hatinya, ‘akhirnya sebentar lagi kau akan menjadi milikku Naura. Tak akan lama lagi.’ Sakha tersenyum sinis sambil melajukan mobilnya meninggalkan rumah Naura.
“Pa, tolong persiapkan pernikahanku dengan baik. Karena aku masih ada urusan 6ang harus aku selesaikan.” Pinta Sakha sebelum ia memasuki kamarnya.
“Kamu tenang saja boy, semua sudah papa atur. Nikmati saja hari-harimu.” Papa Bima menepuk bahu sang putra.
“Thanks Pa.” Sakha tersenyum bahagia.
‘Gerry,’ gumam Sakha sambil melempar tatapan tajam..
...
__ADS_1