Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Memaafkan


__ADS_3

"Bang, dari tadi di cariin juga"


Deg.....


Suara itu, suara yang sangat Tara ingin hindari saat ini namun terlambat, orang yang semalam membuatnya menangis, sampai tidak tau kapan terakhir dirinya memberhentikan tangis yang sangat pilu semalam.


"Abang?"


Nia yang ada di sebelah Raka heran, karena Reza menyebut Raka dengan sebutan abang, sedangkan Tara saat ini terus menundukan kepalanya, dia hanya tidak ingin melihat Reza, yang saat ini berdiri di depan mereka. Sedangkan Reza terus melirik Tara yang duduk disebelah Nia.


"Iya, dia adik gue. Lagi pula yang kalian berdua tadi bilang gue mirip siapa?, ya mirip Reza"


"Dan lu, kenapa nyari gue tumben?" dia bertanya sambil mengangkat satu alisnya.


"Iya dicariin sama ayah, abang disuruh nemuin ayah di ruangannya"


"Oke, entar gue kesana"


Setelah mengucapkan pesan ayahnya. Kepada abangnya Reza sepertinya belum mau beranjak dari tempat tersebut.


"Apa?" tanya Raka penasaran, karena adiknya itu tak kunjung pergi dari tempat tersebut. Mendengar pertanyaan dari abangnya Reza hanya menggelengkan kepalanya, tidak berniat untuk menjawab. Tiba-tiba saja suasana menjadi canggung diantara keempat orang itu.


"Nia aku mau ke kamar duluan, kalian teruslah ngobrol, soalnya aku ngantuk, aku duluan"


Sepertinya Nia tau apa sebab sahabatnya itu pergi, pasti karena ada Reza. Saat melihat Reza berada ditempat yang sama dengan mereka. Nia yakin jika semalam Tara menangis disebabkan oleh Reza.


"Oke lu hati-hati, jangan sampai ada yang bawa lu kabur"


"Emang aku apaan? dibawa kabur segala, ya udah kalau gitu, semuanya saya duluan"


Setelah berpamitan pada tiga orang itu Tara benar-benar pergi tanpa menoleh ke arah belakang, sedangkan Reza terus memperhatikan Tara sampai tidak terlihat.


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa bang?"


Reza tau, sebenarnya abangnya sedang bertanya ada apa tapi dia sendiri, pura-pura tidak mengerti agar abangnya itu tidak banyak tanya.


"Jadi lu yang buat sahabat gue nangis semalem?" tuduh Nia dengan ekspresi sangat jengkel pada Reza. Lagi-lagi Reza harus mengangguk tanpa menjawab apa-apa.

__ADS_1


"Kenapa lu buat dia nangis?"


"Gue gak tau, tapi yang pasti semalem gue cuman mau minta maaf sama dia"


"Apapun masalah lu dengan Tara cepat selesaikan, abang sama ayah gak pernah ngajarin kamu buat nyakitin hati orang, siapa pun itu. Abang liat kayaknya Tara udah sakit hati banget sama kamu, apa yang udah kamu perbuat sama dia sampe dia kayaknya benci banget sama kamu?" Raka bertanya heran pada Reza pasalnya dia tau betul seperti apa sikap Reza pada semua orang. Tapi Raka belum tau seperti apa sikap Reza dulu pada Tara. Mungkin jika Raka mengetahuinya dia tidak akan percaya sama sekali.


Sedangkan, Reza mengerti jika kakaknya sudah memanggil dengan 'aku' 'kamu' dia benar-benar serius. Umur Reza dan Raka tidak terpaut jauh, tapi Raka sangat mencerminkan sikap sebagai abang yang benar-benar bisa menjaga adiknya , bisa menasehati Reza setiap Reza berbuat salah. Menurut Reza Raka benar-benar seorang abang yang patut dicontoh.


"Kalau sahabat gue sampek nangis lagi, gue kagak akan pernah maafin lu, paham!!"


"Iya gue ngerti, maaf"


"Udah sana selesaikan masalah lu sama Tara" mendengar perkataan abangnya Reza segera mengangguk dengan cepat, lalau dia segera pergi dari hadapan Nia dan Raka.


Setelah kepergian Reza entah kenapa Raka merasa tidak enak pada Nia. "Maaf" ucap Raka tiba-tiba pada Nia, Nia mengerutkan keningnya sendiri dia tidak mengerti untuk apa Raka meminta maaf padanya.


"Maaf?" ulang Nia yang memang benar-benar tidak mengerti.


"Iya maaf, karena adek gue sahabat lu jadi sakit hati"


"Emang kak Raka tau apa sebab Tara sangat membenci Reza?"


Raka hanya menggelengkan kepalanya saja memang dia tidak tau menau, ditambah lagi Raka barus pulang dari kota selama dua tahun lamanya tak pulang, jadi dia tidak tau apa-apa tentang Reza saat ini , selama keduanya bersama juga Reza tak pernah menceritakan apa-apa pada dirinya, kecuali Reza hanya meminta Raka abangnya untuk selalu menasehatinya.


"Kenapa?"


"Tanya aja sama Reza apa sebab Tara benci banget sama dia"


Raka mengangguk mengerti....


******


Reza menghampiri Tara, yang sedang duduk disebuah pohon. Pohon itu berdiri kokoh sendiri tanpa ada yang menemani di depannya terbentang luas keindahan alam yang sangat menyejukan...


Tara masih melamun sambil terus melihat lurus kedepan, dia belum menyadari jika saat ini Reza sudah berada disampingnya.


"Maaf seribu maaf," ucap Reza tiba-tiba saja dia bicara dengan sangat penuh penyesalan, atas apa yang pernah dia lakukan pada seorang yang saat ini berada di depannya.


Tara menoleh kearah suara dia kaget, mendapati Reza sudah ada disampingnya.

__ADS_1


"Mungkin saat ini waktunya memaafkan, lagipula untuk apa terus membenci? membenci hanya membuat diri sendiri tersiksa, akibat kebencian terhadap seorang. Dan semua orang pantas mendapatkan maaf jika dia benar-benar tidak pernah akan mengulangi lagi kesalahannya yang pernah dia lakukan. Bukan hanya pada orang yang pernah dia sakiti tapi juga pada siapapun orang yang akan ditemui nanti"


Reza menyimak dengan saksama semua kata-kata yang keluar dari mulut Tara, tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun. Tara terus saja menatap lurus kedepan dengan tersenyum. Lagi-lagi senyum Tara membuat Reza terpana.


"Jadi lu udah maafin gue?"


"Sudah, bahkan dari sebelum kamu meminta maaf terlebih dahulu"


lagi-lagi Tara berbicara tanpa menoleh ke arah Reza. Melihat itu Reza hanya tersenyum pahit, karena dia yakin Tara belum memaafkannya.


"Buang sifat suudzon mu itu pada orang lain. Aku benar-benar telah memaafkanmu, jauh sebelum kamu meminta maaf, aku hanya ingin kamu menyesali perbuatan yang pernah kamu lakukan dulu, sesabar apapun orang itu percaya lah dia punya batas kesabarannya"


Lagi-lagi Reza dibuat salah tingkah oleh kata-kata yang keluar dari mulut Tara.


"Maaf," ucap Reza sekali lagi, mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Tara membuat dirinya malu sendiri, dia merasa lebih tua dari Tara, tapi pemikiran Tara lebih dewasa dari pada dirinya.


"Ya, aku sudah memaafkan mu"


"Apa gue boleh bertanya?" Reza berkata dengan ragu.


"Lagi pula tidak ada yang melarang mu bertanya, selagi kamu menanyakan hal wajar"


"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang pernah menyakitimu, menghina mu bahkan membully mu dengan terang-terangan?"


"Sudah aku katakan untuk apa membenci? lagi pula sedari kecil aku sudah mendapatkan cacian, hinaan bahkan bullyan itu. Jadi aku sudah terbiasa, tapi sakit hati itu pasti tetap ada, memaafkan itu manusiawi, tapi belum tentu melupakan apa yang pernah terjadi"


Reza tak percaya jika hidup Tara sangat menyakitkan, lebih menyakitkan dari pada yang dia kira saat ini.


"Andai..."


"Taraa!!" ucapan Tara terpotong saat suara yang sangat dia kenali memanggilnya.


"Katanya di kamar, terus ngapain disini sama ni orang lagi"


Nia sudah berdiri sempurna di depan Tara dan Reza.


"Udah ayok ke kamar, aku cuman duduk aja kok gak ngapa-ngapain"


"Abang gue dimana?"

__ADS_1


Pertanyaan tersebut sudah pasti ditujukan untuk Nia. "Ke Tempat ayah lu" setelah mengucapkan itu Tara dan Nia benar-benar pergi...


"Tadi dia mau ngomong apa ya? waktu Nia kesini, gara-gara Nia Tara gak jadi ngomong, tapi kenapa gue jadi penasaran sama ucapan terakhir dia" gumun Reza sambil menyandarkan dirinya dibatang pohon.


__ADS_2