Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Kenyataan


__ADS_3

Pak Apri sedang menunggu anak buahnya yang sebentar lagi akan datang membawa semua informasi tentang Tara dan ibunya.


Tok


Tok


Mendengar ketukan pintu dari ruang kerjanya pak Apri menyuruh orang itu untuk segera masuk.


"Masuk" seorang laki-laki sekitar berusia dua puluhan satu tahun masuk ke dalam ruang kerja pak Apri.


"Bagaimana hasilnya?"


"Ini Pak" ucap laki-laki itu sambil menyerahkan sebuah map yang berisi tentang semua informasi keluarga Tara.


Pak Apri menerima map tersebut dengan segera dia membaca isinya.


"Kerja mu sungguh bagus Rio" puji pak Apri pada Rio.


Semenjak kedatangan Rio untuk menjadi saksi waktu di sekolah Nia untuk membantu Tara, membuat Rio diangkat pak Apri menjadi tangan kanannya. Walaupun Rio masih muda tapi pak Apri salut dengan kerja kerasnya dan kejujuran yang Rio miliki.


"Terimakasih Pak atas pujiannya" ucap Rio sopan.


"Baik karena kau sudah mengumpulkan semua informasi dengan baik akan ku naikan gaji mu"


"Terimakasih banyak pak, kalau sudah tidak ada yang saya kerjakan lagi mohon pamit undur diri" Rio meminta izin pada pak Apri.


"Ya, tugasmu hari ini sudah selesai tapi ingat pekerjaanmu di kantor sedang menunggu"


Mendengar ucapan pak Apri Rio tidak bisa berbuat apa-apa karena memang di kantor dia sangat sibuk.


"Baik Pak, saya permisi"


Setelah keluar dari ruang kerja pak Apri Rio segera kembali ke kantor milik keluarga Santika.


Pak Apri kembali membaca map yang berisi dokumen tentang informasi keluarga Tara itu.


"Aku harus cepat kasih tau Mama semau ini" gumunnya sambil berlalu pergi dari ruang kerjanya.


"Ma, Ma" Pak April mencari keberadaan istrinya itu yang sekarang entah ada dimana.


"Apa sih Pa, teriakan-teriak begitu" sahut Mia dia berjalan mendekati suaminya.


"Mama abis dari mana?, papa cariin juga dari tadi"


"Abis bikin kue pa, terus papa kenapa manggil mama kesini?" tanyanya penasaran.


"Ini papa udah dapat informasi tentang keluarga Tara ma" ucapnya serius


"Jadi apa hasilnya pa?" tanya Mia penasaran.


"Ternyata Ibu Siti dan Tara istri dan anak dari almarhum pak Wijaya Ma, orang yang sudah sangat berjasa pada kita" ucapnya sedih


"Jadi selama ini pak Wijaya sudah tiada Pa?"

__ADS_1


"Iya Ma, papa juga barus tau saat membaca semua informasi yang diberikan sama Rio tadi"


"Ada yang lebih mengejutkan lagi Ma, ternyata Pak Wijaya kakak aku yang selama ini aku cari"


"Apa! jadi sebenarnya orang yang kita cari ada di dekat kita Pa" Mia sungguh sangat terkejut dengan semua kenyataan yang hari ini dia ketahui.


"Iya Ma"


Dulu ketika keluarga pak Apri susah pak Wijaya lah yang membantu mereka waktu itu Mia sedang hamil anak keduanya yang sekarang adalah Nia.


Lebih mengejutkan lagi ketika pak Apri tau jika dia memiliki satu orang kakak lagi yang sudah lama dibuang oleh orang tuanya karena pak Wijaya dituduh sebagai pembawa sial di keluarga mereka saat itu  Apri belum lahir.


"Pa, sekarang kita sudah menemukan pewaris keluarga Wijaya yang dulu dititipkan pak Wijaya pada kita" ucap Mia saat suasana menjadi hening.


"Ia Ma, Papa lega Ma, akhirnya orang yang kita cari selama puluhan tahun ini sudah ketemu, dulu papa sempat mikir kenapa pak Wijaya harus menitipkan warisan ini pada Papa. tapi sepertinya pak Wijaya sudah mengetahui akan maut yang  menjemputnya"


"Memegang pak Wijaya meninggal sudah lama Pa?" tanya Mia karena dia sebenarnya tidak seberapa mengenal pak Wijaya dia hanya sering mendengar cerita dari suaminya dulu.


"Disaat Tara berusia sepuluh tahun Ma, satu tahun setelah pak Wijaya menitipkan harta warisannya dengan papa" ucap Apri lemas.


"Hemm" Mia ingin bertanya tapi tidak berani diungkapkan.


"Kenapa Ma?"


"Auu, Pa memangnya pak Wijaya meninggal karena apa?"


"Papa juga kurang tau Ma, disini tidak ada informasinya" pak Apri barus menyadari jika kematian pak Wijaya tidak ada dalam informasi.


"Iya Ma, tapi gak sekarang kita tunggu Ibu Siti pulang dari rumah sakit"


Saat Apri dan istrinya sedang asik ngobrol tiba-tiba ada seorang yang nyelonong masuk ke dalam rumah mereka begitu saja.


"Kak kapan sampainya?" sapa Mia pada anak sulungnya itu


"Barus Ma, Pa"  ucapnya sambil menyalami kedua orangtuanya.


"Nia mana, Ma?" tanyanya celingukan


"Di rumah sakit kakak" jawab Mia santai


"Apa! di rumah sakit" kagetnya dengan suara lantang.


"Gilang!! Papa sama mama gak budek jadi jangan teriak-teriak gitu ini bukan hutan" kesel Mia pada anak sulungnya itu untung saja dia tidak punya riwayat penyakit jantung.


"Habisnya Mama bilang Nia di rumah sakit ya Gilang kagetlah" jawabnya santai.


"Tapi siapa yang sakit Ma, Pa?" Gilang tau pasti bukan adiknya yang sedang sakit, jika adiknya yang sakit pasti mama papanya tidak mungkin santai-santai di rumah juga kalau Nia yang sakit sudah pasti dirinya sudah tau terlebih dahulu.


"Ibunya Tara" April menjawab sambil beranjak dari tempat tersebut.


"Siapa lagi Tara?" tanyanya tapi padanya sudah beranjak pergi dari ruang tamu.


"Siapa Tara emang Ma?" Gilang beralih beratnya dengan mamanya.

__ADS_1


"sahabat deket adik kamu,  udah yok nyusul Nia" ajak Mia.


"Lah, ngapain mending Gilang nunggu disini" jawabnya malas.


"Anterin Mama, tapi Mama ganti baju dulu" Mia berkata tanpa mau dibantah..


Gilang yang menunggu mamanya di depan melihat seorang yang tidak asing baginya.


"Reza" panggil Gilang memastikan siapa tau dia salah orang.


Reza yang merasa dipanggil mencari sumber suara, saat sudah melihat orang yang memanggil dirinya dia menyerit heran. Reza mendekat ke arah orang itu.


"Kak Gilang buka?" tanyanya memastikan.


"Masih ingat sama gue,  gue kira lu udah lupa" ucapnya sambil tersenyum.


"Kok Kak Gilang disini?"


"Ini rumah gue"


"Jangan bilang Kak Gilang anaknya tante Mia sama kakanya si Nia?"


Reza dan Gilang yang asik ngobrol tidak menyadari jika Mia sudah datang.


"Reza kenal sama Gilang?" tanyanya penasaran.


"Ee tante" sapa Reza ramah.


"Dia itu orang yang Gilang ceritain dulu Ma, anak kecil yang dulu ngejar-ngejar Gilang sama Irfan, sama Ari juga dia dulu yang nolongin akan perempuan yang pernah mau kami bully,  terus semenjak kenal Reza juga kami bertiga mulai berubah sedikit-sedikit" jelas Gilang panjang lebar.


"Iya Kak, ternyata Irfan sepupu gue dan si Ari selama ini jadi teman dekat gue" ucap Reza


"Dunia memang sempit" jawab Mia sungguh sebuah keajaiban pertemuan yang sangat luar biasa.


"Reza" panggil seorang


"Anak ini dari tadi dicariin disini rupanya" ucap Raka saat mendapati Reza di depan rumah Mia.


"Kok, lu disini lang? tanya Raka saat dia mendekat ke arah mereka.


"Sama Raka juag kenal?" tanya Mia lagi.


"Rumah gue, ialah gue disini. Kalau Raka teman kampus Gilang Ma" Gilang menajawab sekaligus pertanyaan orang-orangan itu.


"Udah jadi ke rumah sakit kagak?" tanya Gilang mamanya sedari tadi tidak beranjak karena mendengar semuanya.


"Siapa yang sakit emang Lang?"


"Ibunya Tara, Ka" Mia yang menjawab kali ini.


"Sakit apa Tan?" tanya Reza khawatir.


"Gak tau tapi kemarin malam kata Nia sama Tara ibunya pingsan di kamar, kalau gitu tante sama Gilang pergi dulu ya" pamit Mia dengan segera mereka pergi dari depan rumah mereka untuk menuju rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2