Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Kenangan


__ADS_3

Mobil Reza sudah sampai di depan rumah Nia, Reza bingung ingin membangunkan  Tara tapi Tara terlihat tidur lelap sekali.


"Lelap banget tidurnya" hukum Reza sambil memandang wajah Tara sebentar.


"Tara,  Tara bangun kita sudah sampai"


Reza membangunkan Tara dengan sangat lembut, Tara yang menang mudah sekali jika dibangunkan dari tidurnya mengerjap-japkan matanya sambil berusaha mengumpulkan nyawanya kembali.


"Kak Reza kita sudah sampai ya? maaf aku ketiduran" ucap Tara dengan suara khas bangung tidur miliknya.


Reza yang mendengar ucapan Tara barusan hanya bisa tersenyum.


"Gak papa, yok turun" ajak Reza.


Keduanya turun dari mobil Reza secara bersama dari pintu mobil yang berbeda.


"Taraaa!!" pekik seorang yang sedang berdiri di depan pintu rumah yang sangat mewah itu.


"Hehe, kenapa Nia?" tanya Tara santai tanpa merasa bersalah, sedangkan muka Nia sudah seperti orang yang akan menelan Tara hidup-hidup.


Mendengar nama Tara disebut orang yang ada di dalam rumah mewah itu segera keluar.


"Ya Allah Tara kamu dari mana aja? jam segini barus pulang, ibu khawatir banget sama kamu" ucap Ibu Siti.


"Assalamualaikum ibu,  tante, Nia" sapa Tara dan Reza secara bersama, Tara harus sadar jika Reza masih ada disebelahnya.


Barus saja ketiga orang itu akan menginterogasi Tara secara bertubi-tubi, tapi Tara yang sudah tau niat mereka semua mengajak mereka masuk terlebih dahulu.


"Tara jelasin di dalem ibu, tan,  Nia" ucap Tara cepat,  apalagi dia sudah melihat wajah sangar Nia.


Mereka berlima akhirnya masuk bersama  ke dalam rumah mewah itu, rumah siapa lagi kalau bukan rumah keluarga Nia.


"Tar kok lu bisa sama Kak Reza?" tanya Nia berbisik pada  Tara, mereka berdua masuk paling akhir.


"Panjang Nia ceritanya, aku ceritain di dalem aja ya sekalian sama ibu sama tante Mia" jelas Tara.


Nia yang mendengar penuturan Tara hanya bisa mengangguk pasrah, sebenarnya jika kepo Nia sudah meronta-ronta ingin cepat tau apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.


Sesampainya di ruang tamu Tara sama sekali tidak ada kesempatan untuk hanya sekedar bernafas lega, karena ketiga wanita berbeda usia tadi sudah menatapnya dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka masing-masing.  Reza yang melihat itu hanya bisa menelan ludahnya kasar, barus pertama kali dia melihat ibu Siti dan tanate Mia seperti itu tapi kalau Nia jangan ditanya lagi sudah sering.


"Oke sekarang Tara ceritain semuanya" ucap Tara langsung dia sudah kembali mengantuk efek dari obat tidur tadi.


"Kan, Tara udah izin sama ibu buat ketemu Dian..."

__ADS_1


"What ketemu, Dian!!" kaget Nia


"Nia... jangan kebiasaan" tegur Mia.


"Heheh iya maaf, abisnya ngapain lu ketemu nenek lampir itu sih Tar?"


Sepertinya Nia lupa jika dia sudah ditegur mamanya sendiri.


"Niaa!!" Mia dan Tara berucap serempak sambil melotot ke arah Nia. Reza yang melihat itupun ingin sekali rasanya tertawa terbahak-bahak tapi sebisa mungkin dia tahan..


"Iya,  iya maaf lanjut Tar"


"Sabar Nia" bela ibu Siti, Nia hanya tersenyum kearah ibu Siti.


"Terus gimana lagi ceritanya nak,  kok bisa sama nak Reza?" tanya ibu Siti lembut.


Kemudian Tara menceritakan semuanya pada mereka tentang Dian yang ingin menjebaknya.


"Astagfirullah" kaget ibu Siti, dia bersyukur ada Reza yang sudah menolong putrinya.


"Terus Reza kok bisa tau kalau Tara mau dijahatin kayak guru sama Dian?" Mia semakin penasaran.


Reza yang sedari tadi diam sontak bersuara.


"Terimakasih banyak nak Reza udah mau nolong Tara" ucap Ibu Siti tulus.


"Iya bu sama-sama, kalau gitu Reza pamit pulang, soalnya takut dicariin bunda" ucapnya sopan.


"Ya Nak Reza, Tara Nia sana temein Reza kedepan" perintah Mia.


"Apaan sih Ma, masa ke depan doang ditemani" protes Nia.


"Niaaa!" Mia heran dengan tingkah putrinya satu ini aneh bin ajaib.


"Iya" ucap Nia malas.


Nia dan Tara benar-benar mengantar Reza ke depan.


"Lebay banget sih lu" kesel Nia saat mereka bertiga sudah berada di teras rumah Nia, Tara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya sekaligus sepupunya itu.


"Apa?"  tanya Reza biasa saja.


"Ee,  ada Kak Raka" Tara sengaja menyebut nama Raka dia ingin melihat seperti apa reaksi Nia setelahnya.

__ADS_1


"Mana kakak Raka?" tanya Nia cepat


Sedangkan Reza heran karena Tara menyebut nama kakaknya padahal Raja sudah kembali ke kota dua hari yang lalu.


"Boong lu Tar, jelas banget kakak Raka udah balik lagi ke kota dia kan pamit sama gue" ucap Nia tanpa sadar mukanya terlihat lesu saat Tara mengerjainya.


"Hemem ciee. Yang dipamiti" sendiri Tara.


"Kok gue kagak dipamiti juga sih" Tara masih kembali menyindir Nia.


"Kalau kangen telpon aja,  pasti punya no hpnya kan?" Ucap Reza keduanya menggoda Nia dengan muka tengil has mereka masing-masing.


"Apa sih lu berdua hak jelas"  kesal Nia sambil menatap Reza dan Tara bergantian.


"Nia jangan galak-galak sama Adik ipar entar kagak direstuin" celetuk Tara.


"Bener tau, harus baik-baik sama Adek ipar" Reza membenarkan ucapan Tara barusan.


"TERSERAH KALIAN BERDUA, GUE MAU MASUK!!" kesal Nia sambil berlalu masuk dengan muka yang sudah merah karena malu dan kesal.


"Bener-bener dah si Kak Reza sama Tara awas aja gue bakal balas nanti" gumun Nia sambil berlalu masuk ke dalam rumahnya.


"Kalau gitu gue balik dulu Tar" pamit Reza.


Tara hanya mengangguk kepalanya untuk mengiakan ucapan Reza itu.


Setelah kepergian Reza. Tara segera menyusul Nia masuk ke dalam rumah Nia.


"Nia kenapa tadi kok kayak orang kesal gitu Tar?" tanya ibu Siti.


"Biasalah bu namanya juga Nia" jawab Tara tanpa merasa bersalah.


"Tara sini ibu mau ngomong"


Tara mendekat kepada ibunya, Tara yakin ibunya ingin membahas soal warisan yang ayahnya berikan,  Tara tau ibunya hanya ingin cepat selesai untuk masalah ini.


"Jadi gimana menurut kamu Nak"


Tara tau apa maksud dari pertanyaan ibunya itu.


"Tara gimana baiknya aja ibu,  tapi Tara belum siap kalau harus ninggalin rumah kita yang dulu" ucapnya.


Bagaimana tidak ikhlas sudah banyak sekali kenangan yang Tara miliki di rumah kecil itu, semenjak ayahnya meninggal sudah banyak kenangan yang dia ciptakan di dalam rumah sederhana itu.

__ADS_1


Rumah itu juga saksi perjuangan keras Tara untuk mengikhlaskan sosok seorang ayah pergi dari kehidupannya untuk selama-lamanya


__ADS_2