
Tara sudah mulai melakukan aktivitas seperti biasanya, dia dan ibu Siti sudah pindah rumah di daerah X sedangkan rumah yang dulu tidak dijual.
Ibu Siti memutuskan untuk pindahan karena hal tertentu, bukan karena ingin merasakan sebuah kemewahan.
"Ibu Tara berangkat sekolah dulu ya" Tara yang sudah selesai makan kini bersiap akan berangkat.
"Iya Tar, hati-hati" Ibu Siti selalu menampilkan senyumannya pada putri semata wayangnya itu.
Tara berangkat sekolah dengan di antara supir, Tara tetap sekolah di SMA Tunas Bangsa.
Tara yang berangkat ke sekolah sedangkan ibu Siti pergi melihat toko kuenya yang sudah berjalan beberapa bulan ini, semenjak mereka pindah di daerah X. Toko kue yang ibu Siti bangun dalam beberapa bulan ini berkembang dengan pesat padahal toko kue itu termasuk baru, tapi karena rasa dan kualitas terjamin.
"Mbak Diah, Pesena kemarin udah siap belum?" tanya ibu Siti pada salah satu karyawannya.
Ibu Siti juga sudah beberapa bulan ini memiliki tiga karyawan.
Dua perempuan dan satu lagi karyawan ibu Siti laki-laki, mbak Diah dan mbak fita membantu ibu Siti di toko. Sedangkan kang Asep tukang antar kue jika ada yang memesan tapi jika sedang longgar kang Asep membantu di toko juga.
"Udah ibu tinggal di anter aja"
"Yaudah kalau gitu, suruh si Asep anter sekarang, soalnya kalau entar takut lupa"
"Baik ibu, saya bungkuskan dulu"
Tara sudah sampai di gerbang sekolahnya, sudah tiga bulan ini Tara bukan lagi kelas 10 tapi sudah menjadi kelas 12.
"Dar!!"
"Astagfirullah" saat Tara membalikan badannya dia bisa melihat siapa yang sudah membuatnya kaget.
Sedangkan orang yang membuat Tara kaget hanya bisa menyengir tanpa merasa bersalah.
Tara memutar bola matanya malas. "Kebiasaan kamu Nia"
"Habisnya lu lagain kenapa ngelamun di depan gerbang?" tanya Nia.
Tara menggandeng Tangan Nia lalu mengajak Nia untuk masuk ke dalam. "Kagak kenapa-napa sih, udah yok masuk"
Tara dan Nia berjalan beriringan melewati koridor sekolah mereka.
"Tar, gue entar malam mau minep tempat lu ya" ucap Nia saat Tara hendak masuk ke dalam kelasnya.
"Tumben biasanya aja kalau minep kagak pernah tu yang namanya ngomong, biasanya asal minep aja" Tara sangat hafal seperti apa sahabatnya sekaligus sepupunya itu.
Tara menyipitkan matanya melihat ke arah Nia kemudian dia ber oh ria, karena paham Nia minap di rumahnya bukan karena dirinya tapi karena ingin bertemu dengan Raka.
"Kenapa lu ngeliatin gue gitu amat sih Tar?" Nia merasa sedang diinterogasi oleh petugas.
__ADS_1
Tara menatap Nia malas lalu masuk ke dalam kelasnya sambil berkata. "Lu mau ketemu sama kak Raka kan Nia?" ucap Tara berteriak.
"Huh, kebiasaan itu si Tara" gerut Nia.
Sepeninggal Tara Nia berlalu menuju kelasnya sendiri.
Nia dan Raka sudah jadian semenjak Nia menginjak kelas 11 tadinya Gilang yang melarang adiknya itu pacar akhirnya mengizinkan, karena dia tau Raka orangnya seperti apa. Mungkin saja jika itu bukan Raka, Gilang tidak akan pernah mengizinkan Nia adik kesayangannya itu untuk berpacaran.
Bel istirahat pun tiba, Tara mengambil handphonenya dari saku rok miliknya lalu mengetikan sesuatu pada Nia
Tara
'Nia kamu duluan aja ke kantinnya, aku mau ke perpustakaan bentar, oke Nia'
Setelah mengetik pesan untuk Nia, Tara segera pergi menuju perpustakaan ada buku yang harus dia cari disana.
Sesampainya di perpustakaan Tara segera mencari buku yang sedang dia butuhkan.
"Ketemu juga akhirnya" gumun Tara
Tangannya meraih akan meraih buku itu tapi dengan bersamaan ada orang yang akan mengambil buku yang sama dari arah sampingnya.
Tara menoleh ke samping bersama dengan orang yang berada di sebelahnya.
"Tara"
"Lu ambil aja bukunya Tar"
"Tapi emang gak papa?" tanyanya ragu.
"Iya gak papa bener dah, oh iya Tar kapan bisa duet bareng lagi?" tanya Devan penuh harapan.
Devan adalah orang yang duet bersama Tara saat hari perpisahan kelas dua belas lima bulan lalu.
"Kapan aja sih boleh" jawab Tara ramah.
"Ya Allah lupa, pasti Nia nungguin" gumun Tara.
"Dev, aku duluan ya makasih banget bukunya" Tara melangkah pergi dari perpustakaan dengan anggukan dari Deva.
Devan terus memperhatikan punggung Tara dari kejauhan sampai tidak terlihat sama sekali. Setelah itu dia tersenyum manis.
Di kantin Nia yang sudah membaca pesan dari Tara sedikit kesal, karena Tara tak kunjung datang Nia sangat kesal jika Tara sudah ke perpustakaan pasti tidaklah sebentar, apalagi kalau Tara sudah membaca buku di perpustakaan mungkin saja dia tidak akan pernah beranjak lagi.
"Niaaa!" heboh Tara saat sudah sampai di kantin.
Tara yakin pasti Nia sudah kesal pada dirinya saat ini Nia memberikan tatapan malas pada Tara.
__ADS_1
"Lama lu ngambil buku doang padahal" cibir Nia.
"cup, cup, cup, jangan marah atuh Nia entar cantiknya ilang loh" bujuk Tara.
"Serah lu Tar, serah"
"Aku pesan dulu ya Nia" Tara beranjak dari kursinya lalu pergi menuju pemesanan.
Lagi-lagi Tara harus berbarengan dengan seseorang.
"Mbak"
"Mbak" ucap keduanya bersama.
Tara menoleh begitu juga dengan laki-laki yang berada di sebelahnya.
"Tara"
"Deva" setelah itu keduanya kembali tertawa bersama.
"Ketemu lagi kita Tar, mana bareng terus lagi" ucap Devan.
"Iya Dev, kalau gitu aku duluan ya" ucap Tara setelah selesai memesan.
Tapi yang tidak Tara sadari seisi kantin sedang mentapanya dengan Devan tadi apalagi saat keduanya tertawa bersama.
"Tar, lu kenapa bisa sama si Devan liat itu anak kantin padan ngeliatin aja" bisik Nia saat Tara sudah kembali duduk di kursinya.
Mendengar ucapan Nia, Tara memutar bola matanya untuk melihat kiri kanan, benar saja apa yang di katakan Nia semua orang sedang menatapnya dengan tatapan tidak suka mereka.
"Biarin aja Nia" jawab Tara tak peduli kebetulan sekali pesanan sudah sampai.
"Makasih mbak" ucap Tara rama seperti biasanya.
"Iya neng Tara selamat menikmati"
Tara menyantap makanannya dengan santai begitu juga dengan Nia, mereka berdua tidak menggubris tatapan-tatapan orang yang masih menatap Tara dengan tidak suka, saat bersama Devan tadi.
"Tara, Nia gue boleh gabung kan?"
Tara dan Nia mengangkat kepala mereka untuk melihat kesumber suara.
"Kenapa dah lu Agus"
"Gue lagi malas aja sama orang-orang, gue boleh gabungkan? gue udah laper banget ini" ucap Agus memelas.
"Lagian duduk tinggal duduk Gus kagak ada yang larang" jawab Tara dan diangguki oleh Nia untuk membenarkan jawaban Tara.
__ADS_1
"Thaks Tara, Nia kalian memang baik" ucapnya sambil berlalu duduk, begitulah Agus jika ada maunya saja pasti memuji orang.