
Hari pengumuman kelulusan untuk kelas 12 semua murid SMA Tunas Bangsa akhirnya telah tiba. Setelah empat hari lamanya mereka berjuang dalam menghadapi UN.
Saat ini semua kelas 12 SMA Tunas Bangsa sedang memanjatkan doa-doa mereka untuk kelulus.
"Mau kelulusan aja rasanya gue kayak mau, lari maraton sedunia" kata Ari yang sedari tadi setia berdiri di samping Reza.
Reza menoleh ke samping. "Gue juga deg, degan sih Ar, tapi ya kagak lebay juga" Reza menatap Ari malas.
Sedangkan Ari hanya nyengir tidak jelas.
"Lu jadi kuliah di luar negeri Ar?"
"Kagak, gue entar aja nentuin mau kuliah di mana kalau misalnya sudah benar lulus, kalau lu gimana Re?"
Mereka berdua yang merasa jenuh akhirnya larut dalam obrolan yang keduanya ciptakan sendiri, karena menunggu pak Galih mengumumkan kelulusan tidak kunjung keluar dari ruangnya bersama beberapa guru.
"Gue udah daftar di Kampus Jaya tempat bagan Raka, tinggal gue mau ngajuin beasiswa nunggu hasil ujian keluar"
"Berarti lu tinggal di asrama juga dong?" Ari terus-terusan bertanya, tapi Reza tetap saja menjawab.
"Kagak tau Ar, kata bunda kita mau pindah kali soalnya kantor ayah juga di sana, jadi mumpung gue udah lulus SMA mau pindah katanya tapi kagak tau dah" jelas Reza.
Ari yang mendengar penjelasan Reza paham, tidak lama setelah itu suara pak Galih terdengar di penjuru sekolah dengan menggunakan mic.
"ASSALAMUALAIKUM WR. WB" sapa pak Galih melalui mic.
"WAALAIKUMSALAM WR. WB" jawab semuanya serentak.
Semua murid kelas 12 dan para guru sudah berbaris rapi di lapangan upacara sekolah SMA Tunas Bangsa.
"Baik anak-anakku semuanya saya sebagai kepala sekolah di SMA Tunas Bangsa merasa bangga pada kalian semua karena sudah mendapatkan nilai yang sangat memuaskan"
Pak Galih menjeda ucapnya sebentar lalu kembali bersuara lagi. "Untuk lulusan terbaik di tahun ini silahkan maju ke depan, Reza Saputra" ucap pak Galih.
Reza yang mendengar namanya disebut sangat-sangat merasa bersyukur, selama ini dia bisa meraih prestasi terbaik.
__ADS_1
Semua orang bertepuk tangan meriah dikala Reza berjalan menuju ke depan, mereka semua tau jika Reza Saputra yang disebut adalah sang ketua osis, karena di SMA Tunas Bangsa hanya mantan ketua osis itulah yang bernama Reza Saputra.
"Silakan Reza jika ada yang ingin disampaikan" tawar pak Galih sambil memberikan mikrofon pada Reza.
SMA Tunas Bangsa memegang sengaja tidak mengundang wali murid, karena ada alasan tertentu.
"Baik pak terimakasih banyak" Reza mengambil mikrofon yang diserahkan pak Galih pada dirinya.
"Assalamualaikum, semuanya" sapa Reza dia sudah sangat terharu atas apa yang dia capai.
"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak.
Seperti rasa harus Reza menular pada semua orang yang berada di lapangan itu.
"Saya Reza Saputra mengucapkan banyak terimakasih pada semua guru dan kepala sekolah, tidak lupa juga untuk semua teman-teman saya dari kelas 10-12, saya hanya ingin mengatakan satu hal jika kita sudah tidak satu sekolah lagi misalnya kita suatu saat kembali bertemu tetaplah menjadi teman, karena sampai kapanpun kita adalah teman"
Reza mengakhiri pidatonya panjang lebar setelah itu dia menerima penghargaan dari sekolah.
Selesai mengumumkan kelulusan mereka semua mengabadikan momen bersama. Ternyata ada yang tidak kelas 12 ketahui jika para guru dan murid-murid lain menyedihkan kejutan.
"Kakak-kakak semua disuruh ke aula sama kepsek" ucap Aji sedikit berteriak.
"Lah, lu ngapain Ji? ini kan kelulusan kelas 12 bukanya lu pada libur ya?" tanya seorang laki-laki yang mengenal Aji.
"Aduh Kak, ikut aja dah ke aula" celetuk Agus yang disuruh menyusul Aji untuk menemui kelas 12.
"Udah ayok ke aula aja, lagian emang kalian kagak heran kenapa di sini nggak ada guru sama sekali?" Reza yang sedari tadi diam menyadari satu hal jika para guru tidak berada di lapangan sama sekali.
"Nah, makanya itu kakak-kakak semua disuruh ke aula sama pak kepala sekolah, udah sono kasian masa kepala sekolah nungguin muridnya" senjata andalan Agus kembali iya keluarkan.
"Bisa aja lu Gus,Gus" jawab merak semua, ya hampir satu sekolah mengenal Agus karena tingkah anehnya yang luar biasa.
Sesampainya di aula mereka semua terkejut karena disana sudah ada orang tua mereka masing-masing serta anak kelas 10 dan 11 yang sedang berada di sana.
Saat mereka masuk disuguhkan dengan suara musik yang sangat indah.
__ADS_1
"Suara siapa bagus amat?"
"Iya benar lu Ar, suaranya enak banget didengar" timpa Dea yang berjalan di samping Ari dan Reza.
Sedang suara merdu tadi berasal dari depan panggung aula, ternyata di sana ada Tara yang sedang duet dengan seorang cowok entah siapa mungkin anak kelas 11 atau 10.
"Suara si Tara bagus banget ternyata" puji Dea, dia sangat menyukai suara bening Tara.
"Bener tu De, apalagi duet sama cowok itu bagus banget cocok dah" Ari tak ingin kalah dari Dea ikut memuji.
Sedangkan Reza yang berbeda di samping keduanya merasa tidak suka, apalagi saat melihat Tara dan cowok yang sedang duet dengan Tara sekali keduanya melempar senyum berdua dan kepada penonton juga.
"Lu kenapa dah Re?" heran Dea saat melihat muka tidak suka yang ditunjuk oleh Reza, tapi Reza yang tidak merespon terus menatap kedepan.
Dea dan Ari yang melihat Reza terus menatap ke depan dengan tatapan tidak suka mencari apa yang membuat Reza seperti itu.
"Oh cemburu ceritanya?" entah itu pertanyaan atau sindiran yang diucapkan oleh Ari, sedang Dea tidak mengerti.
Sedetik kemudian Dea barus paham jika Reza tidak suka melihat Tara bersama cowok yang sedang duet itu.
"Tapi emang mereka berdua cocok sih" goda Dea dia ingin melihat reaksi Reza.
"Benar tu apalagi yang satu ganteng yang satu cantik suaranya sama-sama bagus lagi" tambah Ari.
Reza sedang berusaha tidak terpancing dengan ucapan-ucapan yang terlontar dari kedua temannya ini, tapi semakin lama Dea dan Ari semakin menjadi.
"Berisik lu berdua" kesal Reza lalu pergi begitu saja dari hadapan Dea dan Ari.
"Mau kemana si Reza?" tanya Ari saat matanya melihat Reza berjalan ke arah panggung aula.
Disaat acara duet Tara dengan cowok tadi sudah usai.
"Liat aja dia mau ngapain" kata Dea.
Ternyata saat sampai di panggung Reza meminta Tara agar berduet dengannya. Tara ingin menolak tapi teriakan para orang-orang yang berada di aula terus menyuruhnya untuk duet dengan Reza.
__ADS_1
Terpaksa Tara akhirnya menyetujui kemauan Reza dan yang lain.