
Setelah sampai di rumahnya Reza segera membersihkan dirinya. Hari ini dia sangat senang karena bisa dekat dengan Tara lagi walaupun tanpa disengaja.
Reza yang telah usai membersihkan diri dia juga sudah sholat segera membuka hpnya dan mengetikan sesuatu disana.
GRUP ANEH.
Reza.
Bang ada yang kangen sama lu:)
^^^Gilang.^^^
^^^ Wih, ada apakah gerangan?^^^
^^^Raka^^^
^^^Tumben lu kangen sama gue,^^^
^^^nggak biasanya,🤔^^^
Reza.
Bukan gue yang kangen, tapi....
^^^Ari^^^
^^^Tumben rame nih ikut ah^^^
^^^Irfan^^^
^^^Ngikut aja bisanya lu, Ar wkwk^^^
^^^Gilang^^^
^^^Si Reza bapa dah bikin orang penasaran^^^
Reza
Gak niat bikin lu pada penasaran
gue cuman lagi kagak bit aje😂
^^^Ari^^^
^^^Serah lu Re, lagian tumben bener^^^
^^^ Nongol di grup.😆^^^
^^^Irfan^^^
^^^Gue kira ada apaan dah.^^^
Karena malas membahas apa-apa akhirnya mereka satu persatu off Wa sendiri-sendiri.
Grup aneh itu dibuat oleh Gilang, karena dia senang bisa berkumpul lagi dengan teman lamanya.
"Gue bahagia banget dah hari ini" kata Reza sambil membayangkan bersama Tara tadi.
__ADS_1
Apalagi saat Tara sudah tidak canggung lagi dengan dirinya. Tapi yang membuat Reza penasaran apakah si abangnya itu dengan Nia sudah jadian atau bagaimana.
Reza yang sedang berperang melawan pikirannya sendiri akhirnya memutuskan untuk tidur, setelah selesai belajar untuk besok, besok adalah hari terberat untuk anak kelas 12 SMA Tunas Bangsa. Besok mereka akan melakukan UN.
Sementara itu di kamar Nia, Tara sedang membujuk sahabatnya itu agar tidak lagi marah pada dirinya.
"Nia ayolah masa gitu doang marah" ucap Tara dia barus bisa menyusul Nia di kamar karena tadi ada urusan dengan ibunya, Ibu Siti.
'Gue mau liat usaha lu sampek mana Tar buat gue gak marah lagi' batin Nia.
Nia sebenarnya tidak marah pada Tara dia hanya berpura-pura saja tapi tetap saja Nia kesal ulah Tara dan Reza tadi sudah menggodanya, apalagi berkat ada Raka lah siapa coba yang tidak sengaja orang yang dikangenin tiba-tiba datang, tapi siapa juga yang tidak kesal jika terus-terusan dikerjain.
"Nia pils jangan marah," bujuk Tara lagi dia masih berusaha, bukan Tara namanya kalau menyerah begitu saja.
"Apa Sih Tar!!" ucap Nia pura-pura marah.
"Oke, fine gue tidur di kamar tamu"
Tara yang barus saja akan melangkah keluar kamar Tara segera ditarik tangannya oleh Nia. sebenarnya tadi waktu Tara dan ibu Siti datang ke rumah Nia. Tara memegang maunya tidur di kamar tamu tapi karena Nia terus memaksa dirinya untuk tidur di kamar Nia. Akhirnya Tara mau tidak mau tidur bersama Tara.
"Gak pokoknya lu tidur disini" ucap Nia cepat.
"Males Ah gue tidur sama orang yang lagi marah sama gue" ucap Tara pura-pura marah.
Sekarang malah Nia yang jadi bingung karena Tara yang marah padanya.
"Gak asik lu Tar, gue kan yang marah kenapa sekarang jadi lu sih" Nia sudah pasrah dia kalah dari Tara.
"Udah sini gue kagak marah lagi sama lu" ucap Nia akhirnya, dia sudah benar-benar kalah dari Tara.
Nia dan Tara sudah ada di atas kasur empuk milik Nia.
Nia yang sedang fokus pada hpnya menoleh pada Tara. "Males Ah mending gue tidur"
Mendengar jawaban dari Nia Tara hanya berdecak sebal, sahabatnya itu jika libur pikirannya tidak jauh dari kata tidur.
"Tidur tros!"
Pagi harinya Tara dan ibu Siti sarapan di rumah Nia bersama keluarga Nia.
"Ibu kita jadi ke daerah X?" tanya Tara saat mereka semua sedang sarapan bersama.
"Jadi Tar, om yang antar" jawab Apri.
Mendengar jawaban dari Apri omnya Tara mengangguk mengerti.
"Mau pada kemana emang? kok Nia kagak tau?" Nia yang sedari tadi hanya fokus makan, akhirnya mengeluarkan suara juga.
"Katanya kamu mau tidur aja, jadi gak usah tau Nia" ejek Tara.
"Siapa yang bilang, gue gak bilang gitu kok" Nia pura-pura lupa dengan ucapannya sendiri semalam.
"Oh, lupa atau pura-pura?" Tara tidak berhenti begitu saja, sedangkan yang lain yang berbeda di meja makan hanya tersenyum.
"Kalah lagi gue" kesel Nia.
"Ngaku juga kamu Nia" Tara senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Selesai sarapan mereka segera menuju daerah X untuk melihat rumah milik keluarga Tara yang selama ini dititipkan oleh almarhum Wijaya.
"Pa, bukanya ini jalan mau ke tempat kakak?" tanya Nia dia paham sekali jalan ke kota menuju kampus kakaknya.
"Kamu benar juga Nia" sahut Mia.
Sedangkan Tara dan ibu Siti hanya bisa diam, karena mereka tidak pernah keluar sejauh ini dari desa mereka, setelah beberapa tahun lalu semenjak ayah Tara tiada.
Entah kenapa tiba-tiba saja di otak Tara terlintas kenangan masa kecilnya bersama ayah dulu.
"Tara sini peluk ayah" ucap ayah Tara.
"Ayah" Tara berlari mendekati ayahnya yang barus saja pulang kerja dia langsung memeluk ayahnya dan minta gendong, ayah Tara tak kenal lelah saat bersama putrinya.
"Tara!" panggil ibu Siti lembut.
"Ehe iya ibu" jawabnya sambil tersenyum kikuk.
"Kamu kenapa bengong?" tanya ibu Siti.
"Iya Tar, gue perhatiin dari tadi lu ngelamun aja, ngelamunin apa emang?" timpal Nia yang duduk disamping Tara.
"Gak kok, perasaan ibu sama kamu aja kali Nia" Tara berusaha menutupi rasa rindunya pada ayahnya yang telah tiada.
"Jangan bohong Tar, gue tau banget lu lagi ngelamu"
Tara terpaksa mengatakan apa sebabnya dia melamun. " Aku kangen sama ayah" ucapnya lirih.
"Mendengar penuturan Tara barusan semua orang yang berada di dalam mobil hanya bisa terdiam, mereka tau perasaan Tara bagaimana.
"Maaf" Nia sangat tidak enak.
"Kenapa harus minta maaf Nia, aku gak papa kok" Tara berusaha tersenyum pada Nia.
.
.
.
Di SMA Tunas Bangsa semua murid kelas 12 barus saja menyelesaikan UN di hari pertama mereka.
"Ar, lu masih sering ketemu Sri kagak?" tanya Reza entah angin apa yang membuatnya bertanya seperti itu.
Saat ini keduanya sedang duduk di kantin bersama beberapa murid lainnya hanya saja berbeda meja dengan mereka berdua.
"Begitulah Re, susah kalau gak satu sekolah" jawab Ari lemas.
"Tapi lu dari semalam kenapa dah? sekarang juga nanya tentang orang tumben banget lu" Ari heran pada Reza tidak biasanya seperti ini, dia tau betul bagaimana sifat Reza yang tidak ingin tau menau tenang orang yang tidak dekat dengan dirinya.
"Kagak papa mungkin efek ujian"
"Hai bro" sapa Dio pada keduanya.
Reza menoleh kesumber suara begitu juga dengan Ari. " Hai, Di" sapa Ari tapi tidak dengan Reza. Dia masih tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini.
Ari memberikan kode pada Reza melalui ekor matanya 'Lu kenapa dah?' seperti itu kira-kira maksud dari mata Ari.
__ADS_1