Cinta Tulus Si Cupu

Cinta Tulus Si Cupu
Harta warisan


__ADS_3

"Assalamualaikum" sapa orang dari depan pintu masuk rumah Tara.


"Waalaikumsalam" ibu Siti menjawab sambil berlalu keluar untuk menemui siapa tau yang datang ke rumahnya.


"Mia pak Apri, silakan masuk" ajak ibu Siti.


Sebenarnya ibu Siti sedikit kaget dengan kedatangan Mia dan Apri tidak bisanya ada orang yang bertamu di rumahnya.


Sedangkan Mia dan Apri setelah mengetahui jika Ibu Siti sudah pulang dari rumah sakit tiga hari yang lalu ingin cepat-cepat bertemu, mereka ingin segera menyerahkan warisan yang dititipkan oleh almarhum Wijaya pada mereka..


"Silahkan duduk dulu, saya ambilkan minum sebentar" kata ibu Siti membersihkan tamunya itu sedangkan dirinya berlalu pergi ke dapur untuk mengambil minum dan camilan seadanya.


"Diminum dulu ibu Mia, Pak Apri"


"Iya Sit, gak usah repot-repot" Mia tidak enak tapi yang memang tamu harus disuguhi walaupun hanya dengan air putih saja.


Mereka bertiga ngobrol ringan sebelum masuk ke inti apa tujuan Mia dan Apri datang bertamu ke rumah ibu Sri, tapi jelas mereka juga sedang bersilaturahmi.


"Nak Gilang apa sudah kembali ke kota lagi?" tanya ibu Siti basa basi.


"Iya udah Sit, dua hari yang lalu" Mia menjawab sambil tersenyum, seperti biasa senyum tulus Milik ibu dua anak itu.


Suasana mulai hening saat itu juga pak Apri menyampaikan tujuan mereka berkunjung kesini.


"Emmm" Pak Apri masih ragu, dia takut menyinggung ibu Siti jika menanyakan perihal Wijaya atau bisa dibilang kakak kandungnya yang dibuang sebelum dia lahir.


"Maaf sebelumnya ibu Siti, apa saya boleh bertanya?" pak Apri sedikit ragu.


Ibu Siti menyerit heran ketika Apri bertanya seperti itu,  tapi dia harus tetap menghargai tamunya.


"Iya Pak, jangan sungkan" ramah ibu Siti,  Mia dan Apri bernapas lega ketika ibu Siti mempersilahkan untuk mereka bertanya..


"Jadi begini ibu,  maaf jika mengikuti masa lalu" kata pak Apri lagi tidak enak.

__ADS_1


"Iya Pak, In Sya Allah kalau saya bisa jawab,  saya jawab"


"Apa nama almarhum suami ibu Pak Wijaya kusuma?" Apri berkata dengan sangat hati-hati


Deg.


Mendengar nama suaminya disebut membuat ibu Siti mengingat kejadian beberapa tahun silam, di mana saat itu Tara masih berumur sepuluh tahun dan saat di umur Tara yang masih butuh kasih sayang seorang ayah, harus merelakan ayahnya pergi untuk selama-lamanya, akibat kecelakaan yang tidak bisa dihindari.


"Maaf kami mengingatkan mu tentang masa lalu" kata Mia tidak enak, dia bisa melihat perubahan muka ibu Siti.


"Tidak papa ibu Mia, saya yakin kalian ke sini ada hal penting bukan hanya sekedar mengingatkan saya tentang masa lalu" ramah ibu Siti.


Ibu Siti sudah bisa mengontrol dirinya, dia memang sudah ikhlas atas kepergian suaminya. Tadi saat pak Apri menyebut nama suaminya dia hanya sedikit kaget, sudah lama tidak ada orang yang menyebut nama lengkap suaminya itu.


"Jadi benar nama suami ibu, Wijaya kusuma?" Apri kembali bertanya dia ingin memastikan tidak salah orang.


"Iya benar, dia Wijaya kusuma laki-laki baik yang pernah saya temui, tapi sayang saat anak kami Tara berumur sepuluh tahun dia harus meninggal dunia akibat kecelakaan yang tidak bisa dihindari" tanpa diminta ibu Siti sudah menceritakan semuanya, dia sudah menetes air mata saat mengingat perjuangan suaminya untuk bertahan hidup dalam keadaan kritis, tapi tuhan berkehendak lain mereka hanya bisa mengikhlaskan semuanya.


"Saya mau tau di mana makamnya Mbak Siti? apa boleh?" ucap Apri ragu.


"Dia kakak saya" jawab Apri cepat


Deg.


Apalagi ini jelas ibu Siti sangat tau jika suaminya sebatang kara tidak memiliki keluarga sama sekali, tapi kenapa ibu dan bapak Nia mengatakan jika suaminya kakak dari bapak Nia.


"Jadi gini Mbak Siti, sebenarnya suami Mbak bukan tidak punya keluarga melainkan dia dibuang oleh kedua orangtuanya karena dianggap pembawa sial di dalam keluarga mereka.  Saat itu Apri suami saya belum lahir.  Setelah bertahun-tahun hidup suami saya baru mengetahui jika dia memiliki satu kakak laki-laki yang dia sendiri belum pernah melihat rupanya seperti apa. Saat mengetahui juga sudah terlambat karena mas Wijaya sudah pulang terlebih dahulu pada sang pencipta" Mia menjelaskan dengan panjang lebar.


Mereka sudah mulai menggunakan kata Mbak karena ibu Siti memang kakak ipar mereka.


"Jadi suami saya masih mempunyai ibu bapak? tapi kenapa mereka tega?" ibu Siti sangat tidak percaya dengan fakta mengejutkan ini.


"Benar Mbak dan saat umur pernikahan saya di umur tiga tahun saya bertemu dengan mas Wijaya. Tapi saya belum tau kalau Mas Wijaya kakak saya, saat itu dia menitipkan harta warisan pada saya untuk Tara"

__ADS_1


Lagi dan lagi ibu Siti dibuat terkejut, mungkin jika dia tidak pernah berada di rumah sakit dia tidak akan pernah tau jika suaminya masih memiliki keluarga.


"Lalu apa mertua ku masih ada?" tanyanya penasaran, mendengar pertanyaan itu Apri hanya bisa menggelengkan kepalanya. Orangtuanya meninggal disaat satu tahun pernikahannya.


"Inalilahi wainalilahi rojiun"


"Dan ini semua buktinya" Mia yang sedari tadi diam kembali bersuara dia memberikan dua map yang berisi tentang bukti jika pak Wijaya kakak Apri dan satu map lagi tentang penyerahan harta warisan.


"Ini serius?" tanya ibu Siti saat membaca map yang kedua.


Bagimana tidak kaget disana tertulis harta warisan yang dimiliki satu unit rumah mewah, tiga mobil dua motor dan 100 M uang tunai.


Ibu Siti yang membacanya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Iya Mbak itu semua benar" jawab Mia tidak lupa dengan senyumnya.


"Masalah ini nanti saya bicarakan sama Tara, mengenai tempat makam suami saya kita akan kesan sehabis dzuhur, karena hari ini juga waktunya saya dan Tara berziarah"


Ketika mereka sudah kembali mengobrol ringan ada suara orang mengucapkan salam kembali dari luar rumah.


"Assalamualaikum, ibu Tara pulang"


Seperti bisa Tara akan selalu menampakkan wajah gembiranya dan pergi menemui ibunya hanya untuk sekedar mencium tangan ibunya.


"Waalaikumsalam" mereka yang ada di dalam menjawab dengan kompak.


"Ada om sama tante" sapa Tara ramah tapi sedikit bingung.


"Iya Tar, gimana sekolahnya?" tanya Mia basa-basi tak lupa Tara menyalami ketiga orang yang berada di ruang tamu secara bergantian.


"Seru tan, kalau gitu Tara ganti dulu" pamitnya sambil tersenyum ramah.


"Gak nyangka yang tadinya sahabat dekat, ehe ternyata saudara sendiri" celetuk Mia saat Tara sudah berlalu masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Mia Ibu Siti dan Apri hanya. bisa tertawa mengiakan.


Setelah selesai menunggu Tara siap-siap mereka berempat segera menuju tempat pemakaman di mana pak Wijaya dimakamkan.


__ADS_2