
Libur telah usai, kini SMA Tunas Bangsa kembali ramai, oleh para siswa-siswi, dan guru juga yang lainnya..
"Akhirnya, kembali sekolah lagi setelah libur selama dua minggu lamanya" gumun Tara, saat dia sampai di depan gerbang sekolah mereka.
Semua siswa-siswi mulai memasuki gerbang sekolah seperti sedia kala, begitu juga dengan Tara.
"Pagi, pak satpam," seperti biasa, Tara pasti akan menyapa satpam penjaga gerbang, sekarang pak satpam itu sudah mengenali Tara.
"Pagi neng Tara, kayaknya lagi senang tu kelihatannya, ada apakah gerangan?"
"Iya Pak, kan udah masuk sekolah lagi, jadi Tara senang, kalau gitu Tara masuk dulu, ya pak"
"Siap neng Tara"
Sampai di dalam jelasnya, seperti biasa Tara langsung membuka buku pelajaran miliknya, walaupun Tara sudah berubah tapi masih jarang yang ingin mendekati Tara, karena merasa singkat. Sedangkan Tara tidak peduli dengan itu semua.
"Huhh, si Nia kemana ya? tumben kagak muncul, apa aku samperin aja ke kelasnya kali ya" gumun Tara, dia merasa sedikit bosan, sedangkan kelas belum dimulai.
"Niaa!!"
"Ya Allah, kenapa ku teriak sih?"
"Abisnya kebetulan banget, pas aku mau cari kamu di kelas kamu, es kamunya lewat depan kelas aku, ya jadinya aku panggil aja deh"
"Tumben nyari gue?"
"Gak, bosan aja sih, ke kantin ya, lapernih"
"Oke, tapi gue narok tas dulu di kelas"
Sepeninggal Nia, Tara masih setia berdiri di depan kelasnya, menunggu Nia yang sedang menyimpan tasnya di dalam kelas.
"Udah?" tanya Tara, saat Nia sudah kembali berdiri di dekatnya.
"Ya udah, yok jadi kagak ke kantin?"
"Jadilah, masa kagak"
Tara juga Nia, akhirnya pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka, karena ini hari pertama masuk sekolah, setelah libur dua minggu jadi kemungkinan para guru belum mengisi pelajaran.
Kantin.....
"Rame juga nih, pagi-pagi"
"Iya bener, Nia"
Mereka berdua mencari tempat duduk yang masih tersisa.
__ADS_1
"Lu mau pesan apa, Tar?"
"Kayak biasanya aja, Nia"
"Oke, kalau guru gue pesen dulu"
Nia sedang memesan makanan untuk dirinya juga Tara, sedangkan Tara menunggu sampai Nia kembali lagi ke tempat mereka..
"Tara"
Tara menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya, dia merasa tidak asing dengan suara seorang yang memanggil namanya barusan.
"Sri, ada apa?" tanya Tara penasaran, karena Tara melihat keadaan Sri yang sedikit aneh.
"Tara, gu..."
"Heh, ngapain lu disini?" ucapan Sri terpotong, oleh Nia yang barus saja kembali dari memesan makanan mereka.
"Gak kok Nia"
Sri pergi begitu saja dari hadapan Tara dan Nia, saat Nia menatapnya dengan tatapan sinis.
"Nia, tadi kayaknya Sri mau ngomong sesuatu deh"
"Udah biarin aja Tar, kita makan aja itu mie ayamnya udah dateng" ajak Nia, mie ayam yang mereka pesan benar sudah sedia di kursi tempat mereka duduk, yang dibawa oleh penjaga kantin barusan.
"Selamat menikmati" ucap penjaga kantin ramah, tak lupa juga dia tersenyum pada Nia dan Tara. Begitu juga kedua orang itu membalas senyum ibu kanti dengan rama.
"Sama-sama neng Tara, kalau guru Ibu permisi dulu mau lanjut ke yang lain soalnya"
Setelah penjaga kantin pergi, Nis dan Tara segera menyantap makanan mereka, dengan santai.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sri terus berjalan tanpa mau menghentikan langkahnya, sedari tadi ada yang terus memanggil namanya tapi dia seakan tidak peduli, dia pura-pura tidak mendengar jika namanya sedang dipanggil. Setelah bertemu dengan Tara tadi, Sri ingin menyampaikan sesuatu, tapi dia urungkan karena ada Nia juga disitu.
"Srii!"
Orang itu terus memanggil Sri, tanpa lelah dia juga mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Sri.
"Sri!" Dian menarik tangan Sri, dengan sedikit kasar.
"Lepas!" ucap Sri ketus.
"Sri ku kenapa sih? emang gue punya salah apa sama lu? jawab Sri, jangan diam aja" bentak Dian.
"Gue bilang lepas!, ya lepas" sama seperti Dian, Sri juga membentak.
__ADS_1
"Gak! sebelum lu jawab kenapa lu beda sekarang?"
"Apanya yang beda? gue dari dulu kayak gini"
"Jawab gue, Sri!! lu kenapa, hah?"
"LU MAU TAU GUE KENAPA? IYA KAN?GUE KASIH TAU YA, GARA-GARA LU, PAPA GUE JADI GAK PEDULI LAGI SAMA GUE, PUAS LU HAH! PUAS?" bentak Sri, suaranya yang begitu kencang mengundang para siswa-siswi untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"APA URUSANNYA SAMA GUE? ITUKAN URUSAN LU? KENAPA GUE YANG LU SALAH HIN? GAK JELAS LU" Dian juga membentak Sri, yang sudah berani membentaknya.
"Liat geh, itu si Dian sama si Sri kenapa lagi berantem?" tanya beberapa murid yang kebetulan lewat.
"Woi, ada apa nih?" tanya Nia, saat dia dan Tara barus saja dari kantin, tapi saat akan menuju kelas mereka melihat ada banyak sekali kumpulan para siswa-siswi tepat di tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua.
"Ada yang lagi adu mulut" jawab Agus asal ceplos, teman sekelas Tara satu ini memang sedikit blak-blakan, jika bicara.
"Siapa yang berantem, Gus?"
"Dian sama Sri katanya sih Tar, tapi kurang tau juga" jawab Agus, saat Agus akan berlalu pergi dia kaget dengan suara seorang yang sangat keras.
"INGET YA SRI, KALAU BUKA KARENA GUE LU JUGA NGGAK BAKAL PUNYA TEMEN! INGET KAN LU?" bentak Dian lagi, pada Sri. Agus yang tadinya akan pergi hampir tidak terjatuh, karena suara Dian.
"Heff, Si Agus" Nis tidak sanggup menyelesaikan perkataannya, saat dia melihat Agus akan terjatuh.
"Orang mau jatuh malah diketawain" kesel Agus, sedangkan Nia juga Tara sudah tertawa. Beruntung tawa mereka tidak mengganggu keributan yang sedang terjadi.
"Kapan? gue nggak pernah ya minta temenan sama lu, bukannya dari dulu lu yang selalu aja ngikutin gue, gara-gara gak punya temen" balas Sri tak mau kalah.
"Woi, udah lonceng ngapain kalian pada disini?, sono kelapangan disuruh kepala sekolah" ucap Aji, dari tangga dia ingin lewat di tangga itu tapi tidak bisa, karena ada banyak sekali murid yang berdiri disitu.
"Udah yok Tar kelapangan" ajak Nia.
"Huss, huss, sana pada bubar" Agus mengusir mereka semua, sambil mengibas-ngibaskan tangannya, seperti sedang menghalau ayam.
"Woi, Agus!! kami bukan ayam"
"Huuuuuuu!!"
Hampir semua murid yang berada ditempat tersebut meneriaki Agus. Tapi karena Agus seorang muka tebal dia tidak peduli jika mereka semua sedang menyerangnya.
"Apa? udah sana ke lapangan ditungguin kepala sekolah, emang kalian semua kagak kasian sama kepala sekolah? masa iya kepala sekolah yang nunggu muridnya, gak punya sopan santun banget deh" ucap Agus panjang lebar.
"Sadar Gus, lu juga ngapian disini?" tanya Nia, ternyata dia dan Tara belum beranjak dari tempat itu.
"Udah sana, di tungguin kepala sekolah, masa kepala sekolah yang nungguin muridnya, gak punya sopan santun banget ya muridnya" sindir Tara, dia mengikuti gaya bicara Agus.
"Huuuuuuu!!!"
__ADS_1
Semua siswa-siswi kembali meneriaki Agus, tapi Agus hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Buset, si Agus muka tebal, kuping tebal ternyata" bisik Nia pada Tara, dia heran ada orang seperti Agus.