
"Lu kenapa dah, Re? kagak biasanya begini" heran Ari.
Sedari tadi saat Dio ada bersama mereka berdua Reza sama sekali tidak bersuara, hal ini membuat Ari heran karena Reza tidak pernah mengabaikan temannya. Ari yakin sekali pasti ada sesuatu yang Reza belum ceritakan pada dirinya.
"Lah, memangnya gue kenapa?" tanya Reza seperti orang tidak ada apa-apa.
"Terus kenapa dari tadi Dio di sini lu diem-diem bae?" Ari bertanya sambil menaikkan satu alisnya.
Reza mengangkat kedua bahunya acuh, setelah itu kembali bersuara. "Lagi malas ngomong gue."
Mendengar jawaban Dari Reza, Ari tidak yakin tapi sudahlah dia tidak akan memaksa Reza.
Reza bangun dari duduknya, melihat itu Ari kembali bersuara setelah diam beberapa lama saat Reza tidak menjawab pertanyaannya.
"Mau kemana lu Re?" Reza yang mendengar pertanyaan dari Ari menyerit heran.
"Kelaslah, emang kagak dengar udah lonceng Ar" setelah mengatakan itu Reza berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Ari.
"Napa dah itu anak, sensi amat lagian kagak biasanya dia kayak gitu" gumun Ari.
Ari menyusul Reza yang sudah berlalu pergi dari kantin menuju kelas mereka.
Saat sampai di sana Ari tidak sengaja melihat Dio yang sedang berbicara dengan Reza. Tapi yang membuat Ari heran sepertinya Dio sedang mengejek Reza.
Ari bisa melihat jika Reza sama sekali tidak menanggapi ucapan Dio.
"Munafik lu Re" ucap Dio sinis. Ari yang mendengarnya menjadi heran.
Apa sebab Reza dan Dio bisa bertengkar, Ari tau walaupun Reza tidak terlalu dekat dengan Dio, tapi Reza orang yang jarang sekali mencari masalah dengan orang lain.
"Gue emang dulu kurang aja Di, tapi yang lu lakuin itu sudah salah besar" Reza berbicara dengan penuh penekanan.
"Peduli lu sama dia?" sini Dio.
Reza yang malas meladeni Dio berlalu pergi ke mejanya bersamaan dengan Ari yang masuk kelas. Ari hanya tidak ingin jika Dio dan Reza tau sebenarnya dia mendengar semua apa yang dikatakan Reza pada Dio begitupun sebaliknya.
.
.
.
Tara beserta yang lainnya sudah sampai di daerah X setelah menempuh perjalanan beberapa jam lalu. Kini mereka sudah berdiri sempurna di depan sebuah rumah mewah.
__ADS_1
"Pak mari saya antar masuk" ujar pak Bono ramah pada Apri.
Pak Bono adalah orang kepercayaan Apri selama ini untuk menjaga dan mengurus rumah milik keluarga Tara.
Mereka semua masuk dengan diantar pak Bono, tak lupa pak Bono juga sebelumnya sudah menyiapkan semuanya, karena Apri sudah memberitahu pak Bono sebelum jika mereka akan berkunjung.
"Gede banget rumahnya" celetuk Tara.
Saat ini mereka sudah duduk sempurna di ruangan tamu.
"Tapi ini rumah siapa sih, Pa" kepo Nia.
"Ini rumah Tara, warisan dari ayahnya"
Nia kemudian mengangguk mengerti dengan ucapan bundanya.
"Rumah sebesar ini gak ada yang nempatin tapi bisa bersih gini, pak Bono tadi yang ngurus om?" Tara merasa heran rumah sebesar itu tapi tidak ada yang menempati bisa sangat bersih dan terawat.
Mendengar pertanyaan yang terlantar dari mulut Tara membuat Mia dan Apri terkekeh kecil. "Iya pak Bono yang rawat"
Mereka semua memutuskan untuk berkeliling rumah besar itu.
"Buset rumah apa rumah ini Nia" takjub Tara.
"Lebih gede dari rumah gue Ta" celetuk Nia tak kalah takjub dengan Tara.
"Hemm" dehem Nia.
"Nia, kamu kenapa?"
"Gue pengen ketempatan Kak Gilang Tara, gue barus ingat kalau asrama kakak Gilang sama rumah lu ternya kagak jauh banget"
Nia sangat merindukan kakak satu-satunya itu, dia memang sangat manja pada Gilang.
Tara menatap Nia lekat, sampai yang ditatap merasa risih sendiri. "Lu kenapa dah Tar? masa ngeliatin gue sampek begitu" Nia merasa ngeri sendiri dengan tatapan Tara.
"Kagak, yok turun" ajak Tara.
Tara berjalan begitu saja meninggalkan Nia yang sedang bengong.
"Aiishh, kenapa dah tu anak" Nia menggelengkan kepalanya kemudian menyusul Tara yang mungkin sudah berada di bawah.
"Tara mau lihat-lihat depan dulu ya Bu," Pamit Tara sambil berlalu kedepan rumah mewah itu.
__ADS_1
"Tara mana bu?" tanya Nia saat sudah berada di bawah untuk menyusul Tara, tapi saat sudah berada di bawah Tara sudah tidak ada.
"Keluar Nia"
Nia yang mengerti menyusul Tara ke depan, tapi saat sudah di depan rumah mewah itu Nia tetap saja tidak melihat keberadaan Tara.
Nia melihat disekitar tapi sama sekali tidak melihat keberadaan Tara. "Buset, cepat banget sih tu anak udah kagak kelihatan aja" Nia berdecak kesal saat tidak bisa menemukan Tara di mana-mana.
Sementara itu orang yang sedari tadi Nia cari sedang berada di depan gerbang mengobrol dengan seseorang.
"Bang Tara kan?" sapa orang itu.
"Ee Pak Banu, Papanya Sri kan?" tanya Tara memastikan karena dia barus dua kali bertemu dengan pak Banu.
"Ia bener neng Ta, kamu ngapain disini?" tanya pak Banu ramah.
Pak Banu tau jika Tara memang bukan orang sini.
"Liat-liat rumah pak"
"Ooh, mau beli atau gimana neng?"
"Gak pak ini rumah almarhum ayah saya" jawab Tara sambil tersenyum kecil.
Obrolan keduanya terpaksa harus disudahi karena teriakan Nia yang sedari tadi mencari Tara tak kunjung ketemu.
"Pak saya masuk dulu ya" pamit Tara.
"Iya neng"
Tara berlalu masuk sedangkan pak Banu juga pergi menuju rumahnya yang ternyata hanya berjarak satu rumah dengan rumah Tara.
Tara mendelik kesal saat melihat Nia yang sedang berdiri di teras sambil terus-terusan memanggil namanya.
"Kamu kenapa Nia terika-teriak?" tanya Mia yang barus saja keluar, ternyata mereka yang berbeda di dalam terusik juga oleh suara Nia.
"Cari Tara Ma" jawabnya sambil bersiap untuk kembali berteriak, melihat hal itu Tara langsung membuka suaranya.
"Apasih Nia, gak capek apa teriak-teriak?" cegah Tara sebelum Nia benar-benar kembali berteriak.
"Abisnya lu kagak jawab gue dari tadi" Nia berkat tanpa merasa bersalah sama sekali, Tara dan Mia hanya bisa pasrah melihat kelakuan Nia seperti itu.
"Udah masuk yuk" ajak Mia.
__ADS_1
Ketiganya pun akhirnya berlalu masuk ke dalam rumah mewah itu lagi.